Aljazair Memanfaatkan Kecerobohan dan Lubang di Pertahanan RusiaJakarta – “Ini akan menjadi hari yang bersejarah,” kata Vahid Hililhodzic, pelatih Aljazair, sebelum pertandingan antara timnya melawan Rusia di Arena da Baixada, Curitiba, tadi malam.

Pernyataan pelatih asal Yugoslavia itu bukanlah bualan semata. Di hadapan 5.000 pendukung “Singa Gurun” yang datang ke Brasil dengan dana subsidi dari pemerintah, Halilhodzic berhasil membawa Aljazair melaju ke babak perdelapanfinal Piala Dunia untuk pertama kalinya.

Kegembiraan Aljazair ini kontras dengan kemuraman Rusia. Bagi “Beruang Merah”, kemarin justru hari yang sungguh memilukan. Bagaimana tidak, Fabio Capello yang digaji 12 juta dolar Amerika per tahun ternyata hanya bisa membawa pulang dua angka dari Brasil.


[Grafis susunan pemain kedua tim]

Rusia dan Aljazair sebenarnya punya gaya permainan sama. Keduanya lebih memilih untuk menunggu diserang, lalu melakukan serangan balik dengan mengandalkan kedua sisi sayap. Selain itu, kedua kesebelasan ini juga sama-sama mengandalkan umpan silang untuk masuk ke dalam kotak penalti lawan. Kesamaan gaya bermain inilah yang kemudian menjadikan kedua tim bermain begitu terbuka.

Maka, tak heran jika dua gol yang tercipta tadi malam bermula dari crossing yang kemudian diselesaikan dengan baik oleh penyerang masing-masing tim. Yang sedikit berbeda hanya proses gol saja. Rusia dari skema open play, sedangkan Aljazair dari bola mati.


[Grafis crossing kedua tim]

Rusia Menambah Daya Gedor

Tuntutan wajib menang membuat Capello mengubah komposisi pemain. Meski tetap bermain dengan pakem andalan, 4-2-3-1, Aleksandr Kokorin dan Aleksandr Kherzakov kali ini diturunkan secara bersamaan, tidak seperti di dua laga sebelumnya.

Inilah yang membuat permainan Rusia begitu menarik. Walau ditempatkan di flank, saat menyerang Kherzakov akan berdiri sejajar dengan Kokorin. Pos yang ditinggalkan Kherzakov itu kemudian akan diisi oleh Aleksandr Samedov ataupun Oleg Satov, yang kerap bertukar posisi.

Taktik ini tampaknya dipilih Capello untuk meningkatkan daya dobrak lini depan. Pasalnya, dalam dua pertandingan sebelumnya, Rusia selalu kesulitan menembus rapatnya barisan pertahanan lawan saat hanya menggunakan satu striker.

Maklum, saat menyerang Rusia mengandalkan umpan-umpan silang dari sayap. Praktis dengan menurunkan Kherzakov dan Kokorin secara bersamaan, Capello juga sebenarnya hendak memaksimalkan kemampuan duel-duel udara kedua pemain itu, sekaligus memecah konsentrasi bek-bek Aljazair.

Hasilnya pun tak buruk-buruk amat. Baru lima menit pertandingan berjalan, Rusia berhasil mencuri gol. Lewat skema serangan balik cepat, fullback kiri Rusia, Dmitry Kombarov, berhasil mengirimkan crossing yang kemudian dikonversi menjadi gol oleh Kokorin.


[Grafis prosees gol Aleksandr Kokorin]

Gol Rusia itu tak terlepas dari kecerdikan Kokorin dan Kherzakov dalam mengecoh lini belakang Aljazair. Sesaat sebelum Kombarov melepaskan umpan, Kherzakov melakukan pergerakan tanpa bola. Ia berlari memasuki kotak penalti.

Di saat itulah konsentrasi Carl Medjani menjadi terpecah, bingung antara terus mengawal Kokorin atau menutup ruang Kherzakov. Dan akhirnya Medjani memilih untuk menutup ruang Kherzakov dan melepaskan Kokorin. Mungkin saja Medjani berpikir jika dirinya melepaskan Kokorin, masih ada duet centerback Belkalem-Hallice.

Tapi Medjani salah duga. Setelah ia melepas Kokorin, ternyata striker Rusia bernomor punggung 9 itu berhasil memenangi duel udara, dan berbuah gol.

Lalai di Saat Unggul

Saat bertahan, Rusia lebih memilih untuk menumpuk pemain di area pertahanan, terlebih setelah unggul lebih dahulu. Saat tak menguasai bola, Rusia cenderung memberikan keleluasaan Aljazair untuk berlama-lama memegang bola. Meski begitu, Don Fabio tetap menginstruksikan anak didiknya untuk disiplin menjaga pos mereka. Denis Glushakov diinstruksikan untuk turun lebih dalam dan berdiri sejajar dengan backfour. Begitu juga dengan Kherzakov. Saat timnya diserang, ia juga harus ikut membantu pertahanan. Menjaga pergerakan Djamel Mesbah yang sering ikut membantu penyerangan.

Namun, semalam Rusia malah tidak disiplin saat unggul. Denis Glushakov, misalnya. Sebagai holding midfielder, ia terlalu terpancing untuk membantu penyerangan, dan sering terlambat turun menutup lubang di lini tengah.

Praktis kondisi tersebut menjadikan tugas Victor Fayzulin menjadi sedikit berat. Fayzulin yang sejatinya berperan sebagai playmaker harus memecah konsentrasi antara mengalirkan bola dan juga membantu pertahanan. Maka tak heran jika di babak kedua Capello menarik keluar Glushakov dan menggantikannya dengan Igor Denisov.

Aljazair yang Melakukan Perbaikan

Setelah tertinggal oleh gol cepat Kokorin, Aljazir pun melakukan perbaikan. Saat kehilangan bola, mereka tak segan-segan untuk melakukan pressing sehingga para pemain Rusia tak bisa berlama-lama memegang bola.

Terlebih, Halilhodzic juga menginstruksikan anak didiknya untuk memasang garis pertahanan tinggi. Saat bertahan, Sofeani Feghuoli (sayap kanan) pun diinstruksikan untuk sedikit ke tengah, rapat dengan Yachine Brahimi.

Hal ini dimaksudkan untuk memperkuat lini tengah. Kerapatan ini yang kemudian memaksa pemain-pemain Rusia untuk lebih mengandalkan umpan-umpan lambung untuk merangsak ke sepertiga akhir lapangan lawan. Karena, jika Rusia memaksakan diri menyerang lewat umpan-umpan datar, akan berujung pada hilangnya penguasaan bola. Tercatat, sepanjang pertandingan, Aljazair mampu melakukan 21 intercepts.


[Grafis intercepts Aljazair]

Karena diberi keleluasaan menguasai bola, Aljazair dengan sabar menata skema serangan. Ketika mengalami kebuntuan, mereka juga tak segan untuk mengembalikan bola ke belakang. Selain tak ingin memaksakan diri untuk masuk ke area pertahan lawan, mereka sebenarnya juga menunggu momentum untuk melepaskan umpan ke arah Abdelmoumene Djabou menggantung di depan.

Hal ini tak terlepas karena ketatnya pengawalan yang diberikan anak-anak Rusia pada Yachine Brahimi. Capello tampaknya paham, bahwa semua serangan Aljazair akan dimulai dari kaki Brahimi. Karenanya, ketika Brahimi menguasai bola, pelatih asal Italia ini menginstruksikan anak didiknya untuk selalu mengerubungi Brahimi.

Lantas kenapa memilih Djabou sebagai fokus serangan? Selain ingin mengandalkan kecepatan Djabou dalam menyisir pinggir lapangan, Halilhodzic juga hendak mengeksploitasi Kozlov yang sering out of possesion. Hal inilah yang menjadikan Aljazair cenderung menyerang lewat sisi kiri penyerangan.

Djabaou sendiri mampu mengemban tugas dengan baik. Ia beberapa kali dapat mengelabuhi Kozlov dan kemudian mengirimkan crossing ke tengah. Gol Aljazair pun bermula dari pergerakan Djabou yang memenangkan adu sprint dengan Koslov di sisi kanan pertahanan Rusia.

Kesimpulan

Di bawah asuhan Fabio Capello, Rusia memang mengandalkan transisi yang cepat, baik dari menyerang ke bertahan, maupun sebaliknya. Namun, taktik ini ternyata tak diimbangi dengan kedisiplinan pemain-pemain Rusia. Setelah membantu penyerangan, mereka sering terlambat turun. Hal inilah yang kemudian dapat dimanfaatkan dengan baik oleh Aljazair.

Terlepas adanya sinar laser yang mengenai wajah sang kiper atau tidak, gol penyama kedudukan yang dicetak oleh Islam Slimani merupakan kesalahan dari Igor Akinfeev sang salah perhitungan. Ia terlalu cepat untuk memutuskan keluar dari sarangnya.

Di sisi lain, pelatih Aljazair dapat menerapkan strategi yang tepat untuk melawan Rusia. Ia sukses menerapkan pressing ketat untuk menghambat umpan-umpan pendek, serta memperkuat lini tengah, sehingga Rusia dipaksa untuk menerapkan skema bola-bola panjang. Selain itu, sang pelatih pun sukses mencari titik lemah Rusia, yaitu pada sosok Kozlov yang sering keluar dari areanya dan meninggalkan ruang.

Untuk lolosnya Aljazair ke babak 16 besar ini, hanya ada satu kata yang pantas untuk diucapkan: selamat!

Artikel: kontakperkasa futures.