PT KONTAK PERKASA FUTURES – Aussie bergerak stabil pada hari Jumat menjelang update ekonomi Reserve Bank of Australia dan penjualan ritel dengan investor dipanaskan oleh data pekerjaan AS dan beberapa hari potensi gejolak pemilihan presiden AS di pekan depan.

AUD/USD diperdagangkan pada 0,7682, mendatar, sedangkan USD/JPY bergerak ke 102,94, turun 0,04%. GBP/USD diperdagangkan pada 1,2464. Pada hari Kamis, pengadilan tinggi Inggris Raya memutuskan bahwa pemerintah tidak memiliki kewenangan memicu Pasal 50 Perjanjian Lisbon untuk memulai Inggris keluar dari Uni Eropa tanpa voting dari parlemen, mengirim pound naik tajam.

Ke depan, bank sentral Australia mengeluarkan pernyataan kebijakan moneter terbaru-nya, memberikan pandangan yang luas terhadap perekonomian. Juga dari Australia datang penjualan ritel pada bulan-ke-bulan September dan kuartal ketiga keduanya terlihat naik 0,4%.

Indeks dolar AS, yang mengukur kekuatan greenback terhadap enam mata uang utama lainnya, terakhir dikutip pada 97,19.

Juga pada hari Jumat, AS laporan utama upah nonpertanian akan dirilis, dan dapat memperkuat atau melemahkan harapan saat kenaikan suku bunga pada bulan Desember, sekarang terlihat di 71,5% menurut Perangkat Monitor Suku Bunga Fed.

Semalam, dolar melemah moderat terhadap mata uang utama lainnya, melayang di dekat level terendah tiga minggu karena ketidakpastian hasil pemilihan presiden AS yang terus membebani dan pasar beralih ke laporan pekerjaan di hari Jumat.

Institute of Supply Management sebelumnya mengatakan indeks manajer pembelian non-manufaktur jatuh ke 57,1 bulan lalu dari 57,1 pada bulan September. Para analis telah memperkirakan indeks turun ke 56,0.

Laporan itu muncul setelah Departemen Tenaga Kerja AS mengatakan jumlah orang yang mengajukan tunjangan pengangguran awal dalam pekan yang berakhir 29 Oktober meningkat sebesar 7.000 ke 265.000 dari total pekan sebelumnya sebesar 258.000.

Analis memperkirakan klaim pengangguran terus stabil pada 258.000 minggu lalu.

Sementara itu, investor tetap berhati-hati setelah FBI mengatakan Jumat lalu bahwa akan meninjau ulang lebih banyak email yang berhubungan dengan penggunaan email pribadi Hillary Clinton saat ia masih menjabat sebagai sekretaris negara.

Berita itu memicu ketidakpastian baru atas prospek pilpres Hillary Clinton jelang pemungutan suara 8 November mendatang, di tengah kekhawatiran implikasi kemenangan bagi kandidat Partai Republik Donald Trump. (hnm) – KONTAK PERKASA FUTURES