PT KONTAK PERKASA FUTURES – Barcelona dapat kejutan besar saat kalah di kandang oleh tim promosi, Alaves. Keberuntungan punya peran atas hasil laga itu, tapi yang utama adalah kerja keras pemain dan manajer.

Tak menurunkan Lionel Messi, Luis Suarez, dan Andres Iniesta sebagai starter, Barcelona gagal melanjutkan dominasinya atas Alaves menjadi kemenangan. The Catalans unggul statistik hampir di semua hal, tapi kalah dalam skor akhir. Pertandingan di Camp Nou itu tuntas dengan skor 2-1.

Dalam wawancaranya dengan Skysports, pelatih Alaves, Mauricio Pellegrino, mengungkapkan apa yang menjadi poin penting permainan mereka hingga bisa menjungkalkan Barcelona yang perkasa itu. Pellegrino, yang baru bergabung dengan Alaves di musim panas lalu, dapat banyak sanjungan setelah sebelumnya berhasil mengimbangi Atletico Madrid dan Sporting Gijon.

“Bermain menghadapi Barcelona tidaklah mudah. Hal yang paling sulit adalah meyakinkan para pemain kalau kami punya peluang. Kami bisa melihat Barcelona memenangi banyak pertandingan dengan 5-0 atau 6-0, dan demi kepercayaan diri pemain kami harus meyakinkan mereka kalau kami akan memiliki momen itu,” ucap Pellegrino.

“Yang utama buat saya adalah menerjemahkan pada mereka apa yang saya pikirkan. Ide kami dan para pemain bekerja sangat, sangat keras (untuk memainkan strategi itu di atas lapangan).”

Meski hanya berstatus pinjaman, Pellegrino pernah memperkuat Barcelona selama semusim pada 1998/1999. Hal tersebut plus pengalaman berkarier sebagai bek membuat dia bisa membangun tembok yang kokoh untuk membendung Barcelona.

Turun dengan 5-4-1, Alaves mematikan sayap-sayap Barcelona dan juga jalan masuk dari tengah lapangan. Fakta bahwa Barcelona cuma bisa melepaskan dua tembakan on target selama 90 menit adalah keberhasilan yang mengejutkan.

“Saat saya menjadi pemain di Barcelona, saya berpikir bahwa Barcelona selama 25 tahun selalu tampil untuk menghadapi tim dengan strategi 4-4-2, 4-2-3-1, 4-3-3. Tapi menghadapi tim dengan lima pemain belakang, mereka dalam masalah besar. Saat saya masih jadi pemain, saya ingat Claudio Ranieri di Valencia, dan kemudian Estudiantes de La Plata (di final Piala Dunia Antarklub 2009), saat Barcelona kesulitan menghadapi tim seperti itu (dengan lima bek).”

“Buat saya yang paling sulit adalah melindungin ruang antara pertahanan dan lapangan tengah, di belakang para gelandang, di sisi para gelandang, di belakang full-back dan ruang antara full-back dan centre-back. Kami bekerja sangat keras mereka lebih cepat, punya teknik dan fisik lebih baik. Yang sulitnya lagi kami harus melakukan itu selama 90 menit. Mereka dapat gol dari tendangan sudut dan itu merupakan hal yang harus kami perbaiki di pertandingan selanjutnya. Tapi pada akhirnya, kami mendapatkan momen kami.”

Pellegrino, yang sempat jadi asisten manajer Liverpool di 2008-2010, juga menyebut ada faktor keberuntungan yang bermain dalam kemenangan timnya. Itu adalah saat Mathiieu gagal membuat gol saat sepakannya dari gawang yang kosong melebar jauh dan ketika tendangan Lionel Messi jelang laga tuntas sedikit melebar.

“Ok, kami beruntung di beberapa momen. Jika kami berpikir kesempatan terakhir yang dipunya Lionel Messi dan Mathieu… Tapi di lini pertahanan kami lebih-kurang bekerja dengan benar dan dalam menyerang kami punya efektivitas.”

“Itu bukan cuma soal nasib baik. Itu soal kerka keras para pemain kami,” tuntas pria 44 tahun itu. (hnm) – KONTAK PERKASA FUTURES