PT KONTAK PERKASA  FUTURES – Setelah Spanyol kalah dari Italia di perdelapanfinal Piala Eropa 2016, sebuah pertanyaan besar muncul: Inikah akhir dari era Spanyol? Jawabannya: Ya.

Spanyol menjalani Piala Eropa 2016 berstatus sebagai juara bertahan. Di Piala Eropa edisi sebelumnya, 2012, Spanyol berhasil menang telak atas Italia dengan skor 4-0. Spanyol pun digadang-gadang sebagai kesebelasan terbaik Eropa saat itu, bahkan dunia, sebelum Jerman menjuarai Piala Dunia 2014.

Namun, empat tahun berselang, kemenangan telak atas Italia tersebut hanya menjadi kenangan manis. Kembali menghadapi Italia di Piala Eropa 2016, Spanyol kali ini harus mengakui keunggulan Italia. Lebih dari skor akhir pertandingan dengan 0-2, Spanyol kalah segalanya atas Italia pada laga tersebut.

Kekalahan atas Italia dan membuat mereka tersingkir di babak 16 besar Piala Eropa 2016, setelah dua tahun sebelumnya tak berkutik di Piala Dunia, menjadi tamparan bagi Spanyol. Meski klub-klub Spanyol merajai Eropa, era keemasan timnas Spanyol, bisa dibilang, telah berakhir.

Jalan yang Tidak Diinginkan Spanyol

Spanyol tersingkir di babak 16 besar tentu di luar dugaan. Sebelumnya skuat berjuluk La Furia Roja tersebut merupakan kesebelasan favorit juara pada Piala Eropa 2016 ini. Terlebih dengan format Piala Eropa dengan 24 kesebelasan, Spanyol bisa jadi akan menghadapi lawan-lawan yang relatif lebih mudah di fase gugur.

Kendati begitu, jalan yang harus dilalui Spanyol ternyata lebih rumit karena tak sesuai rencana. Semua bermula dari kekalahan atas Kroasia pada laga terakhir Grup D. Skor akhir 2-1 untuk Kroasia membuat skuat asuhan Vicente Del Bosque ini harus puas menempati peringkat kedua grup.

Sebagai runner-up, Spanyol tergabung pada jalur yang teramat berat untuk menjadi juara. Di babak 16 besar, mereka harus menghadapi Italia yang menjadi juara Grup E. Jika mampu mengandaskan Italia, mereka akan menghadapi Jerman. Untuk melangkah ke final, di bagian lain, Prancis atau Inggris siap menjegal.

Lebih buruk, ternyata Spanyol tak mampu menang saat hadapi Italia. Spanyol harus mengemas koper lebih dini. Del Bosque tak kuasa menghadapi strategi Antonio Conte yang membuat Italia kuat dalam bertahan dan tajam dalam menyerang lewat formasi dasar 3-5-2.

Italia sendiri sebenarnya menjadi musuh yang paling ditakutkan Spanyol, bahkan meski pernah mereka kalahkan 4-0. Hal itu dikatakan langsung oleh mantan andalan timnas Spanyol yang bersinar bersama Barcelona, Xavi Hernandez. Menurutnya, Spanyol kewalahan menghadapi Italia yang sangat taktikal.

“Ketika Anda menghadapi tim dengan filosofi, karakter, dan daya saing, saya rasa Anda akan menjadi lawan terberat bagi Spanyol,” ujar Xavi pada Gazzetta dello Sport. “Dalam sejarahnya, Italia selalu menghadirkan daya saing yang luar biasa. Karena inilah Spanyol selalu takut menghadapi Italia.”

Apa yang dikatakan Xavi memang beralasan. Sebelum tahun 2008, Spanyol sulit mengalahkan Italia selama 88 tahun di segala turnamen resmi. Barulah pada 2008 Spanyol memasuki era baru dengan berhasil menjuarai Piala Eropa yang terakhir kali mereka raih tahun 1964, dengan mengalahkan Italia di final yang kala itu berstatus juara Piala Dunia.

Meski trofi Piala Eropa 2008 diraih bersama Luis Aragones, namun era baru Spanyol disebut-sebut menjadi milik Vicente Del Bosque. Mantan pelatih Real Madrid ini menggantikan Aragones usai Piala Eropa 2008, di mana kemudian mempersembahkan trofi Piala Dunia 2010 dan Piala Eropa 2012. Spanyol pun memasuki masa keemasan mereka di bawah tangan dingin Del Bosque.

Namun, usai menjuarai Piala Eropa 2012, Spanyol asuhan Del Bosque mulai tak bertaji. Jerman muncul sebagai perusak hegemoni Spanyol dalam empat tahun terakhir terhitung 2008. Bahkan di Piala Dunia 2014, Spanyol langsung tersingkir sejak fase grup karena hanya meraih satu kemenangan dan menempati peringkat ketiga Grup B, dikalahkan Cile dan Belanda.

Skema Tiga Bek Menjadi Momok Spanyol

Pertemuan Italia dan Spanyol pada 2016 sebenarnya merupakan yang kedua kalinya. Sebelumnya, pada Maret 2016, keduanya bertemu dalam laga uji tanding. Bedanya, Spanyol masih mampu mengimbangi Italia di mana 1-1 menjadi skor akhir pertandingan.

Namun yang pasti, ketidakberdayaan Spanyol menghadapi Italia sudah terlihat saat itu. Spanyol kala itu bahkan tertinggal lebih dulu lewat gol Lorenzo Insigne meski tiga menit kemudian disamakan oleh gol Aritz Aduriz.

Uniknya jika menilik lebih jauh, Spanyol sebenarnya bukan anti terhadap Italia, melainkan anti menghadapi skema tiga bek. Saat dikalahkan Italia 0-2, Italia menggunakan 3-5-2, sementara saat bermain imbang 1-1, Italia mencoba formasi dasar 3-4-3.

Sementara itu ketika dikalahkan Cile dan Belanda di Piala Dunia 2014, kedua kesebelasan tersebut mengalahkan Spanyol dengan menggunakan formasi dasar 3-5-2. Jika menghadapi kesebelasan dengan skema hampir serupa, 4-3-3 atau 4-2-3-1, Spanyol bisa tampil dominan dan keluar sebagai pemenang, seperti ketika menjalani babak kualifikasi Piala Eropa 2016.

Pada Piala Eropa 2012, Italia sebenarnya mampu menahan imbang Spanyol 1-1 pada fase grup. Kala itu Italia menggunakan formasi dasar 3-5-2. Hanya saja saat berlaga di final, pelatih Italia saat itu, Cesare Prandelli, menerapkan formasi dasar 4-3-1-2. Untuk menemani Leonardo Bonucci dan Andrea Barzagli sebagai bek tengah, Giorgio Chiellini diplot sebagai full-back kiri dan pada full-back kanan Prandelli memasang Ignazio Abate.

Meski setiap pendekatan strategi skema tiga bek berbeda-beda, namun bisa jadi Spanyol memang kesulitan kala menghadapi kesebelasan dengan skema tiga bek. Spanyol membutuhkan ruang di sisi sayap atau flank. Sementara dengan skema tiga bek, sederhananya, bisa berubah menjadi lima bek saat bertahan, di mana flank kemudian tak mampu dieksploitasi, seperti ketika menghadapi Italia beberapa waktu lalu.

Transisi dengan Generasi Baru

Faktor lain yang membuat berakhirnya era keemasan Spanyol adalah saat ini Spanyol tengah bertransisi, khususnya dari segi individu pemain. Para pemain yang mengantarkan kesuksesan pada 2008 hinga 2012, satu per satu mulai dimakan usia sehingga tajinya mulai memudar.

Di skuat Piala Eropa 2016, tak ada lagi nama-nama seperti Fernando Torres, Xavi Hernandez, Xabi Alonso, David Villa, Alvaro Arbeloa, atau Joan Capdevila. Belum lagi Iker Casillas dan Pedro Rodriguez sudah tak masuk skuat utama Spanyol saat ini.

Pemain-pemain potensial baru memang mulai bermunculan untuk skuat Spanyol saat ini. Masa emas Spanyol telah lewat karena sejumlah pemain dari masa keemasan tersebut sudah tak lagi memperkuat tim. Proses regenerasi yang dilakukan Del Bosque bisa dibilang tak berjalan dengan baik.

David De Gea, Alvaro Morata, dan Nolito adalah tiga pemain yang baru menjadi pilihan utama Spanyol pada Piala Eropa 2016. Juanfran sendiri sebelumnya harus bersaing dengan Dani Carvajal, di mana akhirnya Hector Bellerin dipanggil untuk menggantikan Carvajal yang mengalami cedera di final Liga Champions. Selain itu para pemain cadangan seperti Koke, Lucas Vazquez, Sergio Rico, Aritz Aduriz, Cesar Azpilicueta, Marc Batra, Mikel San Jose, Thiago Alcantara, dan Bruno Soriano, serta De Gea, Morata, Nolito, dan Bellerin, tak ada yang memiliki caps lebih dari 20 kali.

Bisa dibilang, setengah dari skuat Spanyol di Piala Eropa 2016 dihuni oleh para pemain yang tak berpengalaman. Tak heran pula pada akhirnya Del Bosque tak bisa berbuat banyak ketika skuat utama mereka yang berpengalaman tak berkutik. (hnm) – KONTAK PERKASA FUTURES