PT KONTAK PERKASA FUTURES – Banyak yang menganggap kalau Manchester United sudah kelewat batas dengan mengeluarkan 89 juta poundsterling untuk Paul Pogba. Apa yang dilakukan United dianggap bisa merusak harga pasar, karena konon Pogba belum layak dihargai sebegitu mahal. Nilai transfer tersebut pun menjadikan Pogba sebagai pemain termahal di dunia melampaui Gareth Bale.

Datangnya Pogba pun menghadirkan sebuah ironi karena United justru mesti menebus alumnus akademinya lebih mahal dari biaya untuk membangun pusat latihan Trafford Training Centre, yang tak lain adalah tempat latihan tim akademi.

Dex Glenniza, analis untuk Pandit Football, dalam “Harga Paul Pogba Memang Lebih dari 100 Juta Euro” menyatakan bahwa mahal atau tidaknya harga Pogba adalah sesuatu yang relatif. Ia menganalogikan Pogba sebagai makanan di tempat makan. Buat sebagian orang yang kebanyakan uang, mereka lebih memilih makan nasi goreng di restoran, sementara bagi yang uangnya pas-pasan, mereka mungkin lebih memilih membeli nasi goreng di pinggir jalan.

“Pertanyaannya adalah apakah makan di restoran bintang lima (analogi untuk Pogba) adalah mahal? Pertanyaan selanjutnya setelah yang tadi berhasil terjawab, apapun jawabannya: Siapa Anda (analogi untuk kesebelasan yang ingin membeli Pogba)? Bagi kita, ini semua masalah persepsi dan opini. Tapi bagi United, ini semua masalah kemampuan finansial,” tulis Dex.

Soal kemampuan finansial yang dituliskan Dex, barangkali yang menganggap kalau Pogba kemahalan lupa kalau United saat ini berdasarkan Forbes, mencatat pendapatan 395 juta pounds atau yang ketiga terbesar di dunia setelah Real Madrid dan Barcelona. Bahkan, pada musim 2013/2014, berdasarkan data Deloitte, United ada di peringkat kedua sebagai kesebelasan dengan pendapatan 433 juta pounds.

Sejatinya saat kesebelasan seperti Manchester United memecahkan rekor transfer, itu tentu bukan sesuatu yang mengejutkan, karena mereka punya uang untuk menebus itu semua. Lantas, dari mana pendapatan United itu berasal? Berikut gambarannya.

Komponen Pendapatan

Secara umum, pendapatan sebuah kesebelasan berasal dari tiga komponen: match day, broadcasting, dan commercial yang menaungi sponsorship, retail & merchandising, dan mobile & content revenue.

Komponen yang pertama, match day, berasal dari tiket yang dijual untuk pertandingan, serta pendapatan dari fasilitas yang dimiliki klub. Komponen broadcasting berasal dari distribusi hak siar baik di liga domestik maupun di kompetisi Eropa.

Sejak 2009, Manchester United selalu mengalami kenaikan pendapatan. Baru pada 2015, pendapatannya turun senilai 38 juta pounds atau 8,8%. Tentu ada sejumlah hal yang mendasari penurunan ataupun kenaikan pendapatan seperti jumlah pertandingan dan prestasi klub. Namun, tetap saja, meski turun toh pendapatan United pada 2015 terbilang luar biasa dengan 395 juta pounds atau 6,7 triliun rupiah.

Lantas, bagaimana pendapatan tersebut diperhitungkan?

Dari Mana Pendapatan Berasal?

Agar data yang diperbincangkan akurat, penulis menggunakan data dari Deloitte Football Money League untuk musim 2013/2014. Pada musim tersebut, United mencapai pendapatan tertinggi dengan 433 juta pounds atau 7,3 triliun rupiah. Angka ini berselisih 27 juta pounds dengan musim sebelumnya.

United mengumpulkan pendapatan match day tertinggi ketimbang kesebelasan lain dengan 108 juta pounds. Angka ini jauh lebih tinggi ketimbang Arsenal dengan 100 juta pounds yang memegang harga tiket termahal di Premier League.

Pendapatan tiket akan naik signifikan andai mereka berprestasi di semua kompetisi. Hal ini tak lain karena mereka akan menggelar pertandingan kandang lebih banyak, pendapatan pun diharapkan bisa semakin bertambah.

Namun, mestinya United tidak memaksimalkan match day dengan menaikkan harga tiket. United bisa bercermin dari Bayern Munich yang hanya mendapatkan 74 juta pounds dari match day. Namun, Bayern memaksimalkannya dengan meningkatkan nilai kerja sama komersial.

Untuk kesebelasan Liga Primer Inggris, distribusi pendapatan dari broadcasting memegang peranan penting. Everton misalnya, pada musim 2013/2014, pendapatan dari broadcasting mencapai 73% dari total pendapatan.

Pendapatan dari broadcasting akan semakin bertambah andai kesebelasan berprestasi baik di liga domestik maupun di kompetsi Eropa. Semua uang dari distribusi hak siar dimasukkan ke dalam komponen broadcasting.

Kesebelasan yang juara Liga Primer Inggris akan mendapatkan lebih dari 100 juta pounds dari broadcasting, sementara untuk juara Liga Champions mendapatkan di atas 100 juta euro.

Presentase terbesar pendapatan United sejatinya berasal dari sektor komersial yang mencapai 44% dari total pendapatan. Pada musim 2013/2014, United mencatatkan 189 juta pounds. Dari segi angka, ini terbilang kecil jika dibandingkan Real Madrid, Bayern, dan Paris Saint-Germain, di mana dua kesebelasan yang disebutkan terakhir ditopang dari sektor komersial di atas 59%.

Pendapatan dari sektor komersial bagi United akan semakin bertambah setelah meningkatnya nilai kerja sama dengan adidas yang mencapai 75 juta pounds per musim!

United tak perlu mengkhawatirkan soal pendapatan dari sektor hak siar. Pasalnya, hampir setiap quarter dalam semusim, United hampir selalu bekerja sama dengan sponsor lain, utamanya sponsor regional seperti yang terjadi pada Q3 2016 di mana United bekerja sama dengan YouC1000 dengan titel “Isotonic drink partner in Indonesia”.

Bisnis yang Menguntungkan

Bisa dibilang bahwa Manchester United dijalankan dengan menggunakan prinsip bisnis yang sebenar-benarnya: mengeruk keuntungan. Untuk mengetahui berapa keuntungan United pada musim tersebut, perhitungannya terbilang rumit karena tidak semudah mengurangi pendapatan dengan pengeluaran. Ada unsur lain seperti penyusutan harga pemain, bunga pinjaman, dan pajak.

Pada musim 2013/2014, United mencatatkan keuntungan senilai 23,8 juta pounds. Meski terlihat kecil, tapi tetap saja bahwa United dijalankan dengan meraup keuntungan.

Masuknya Pogba ke tim, tentu sudah melalui tahapan perhitungan oleh manajemen. Se-perlu-perlu-nya Jose Mourinho akan sosok Pogba, tetap tidak akan dipenuhi manajemen kalau akan mengganggu neraca keuangan tim. Dengan keuangan yang terbilang stabil, tidak perlu terkejut kalau United mencatat rekor transfer dari Pogba.

Jadi, kalau ada pertanyaan mengapa United bisa membeli Pogba, jawabannya ada dua. Pertama, karena mereka perlu. Kedua, karena mereka memang mampu. (hnm) – KONTAK PERKASA FUTURES