PT KONTAK PERKASA FUTURES – Harga minyak mentah rebound ringan pada hari Jumat di sesi perdagangan Asia dengan investor menanti data jumlah pengeboran AS dari Baker Hughes untuk mengetahui gambaran jumlah pasokan di minggu ini.

Di Bursa Perdagangan New York, minyak mentah WTI untuk pengiriman September naik 0,11% ke $44,80 per barel. Di Bursa Intercontinental (ICE), Minyak mentah Brent untuk pengiriman September naik 0,30% ke $46,34 per barel.

Semalam, minyak dunia berjangka turun tajam pada hari Kamis menghapus keuntungan dari sesi sebelumnya, karena kekhawatiran melimpahnya pasokan minyak mentah terus-menerus dan produk olahan tetap dalam fokus.

Harga minyak mentah turun jauh setelah investor terus mengolah data dari AS dan China dari sesi hari Rabu. Pada bulan Juni, ekspor bahan bakar olahan China melonjak 38% ke rekor tertinggi sebesar 4,2 juta ton (1,02 juta barel per hari), dikatakan oleh Administrasi Bea Cukai China dalam laporan bulanan. Pada dasar tahunan, ekspor olahan Cina naik 45% dari tingkat yang sama saat ini di tahun lalu. Lonjakan tak terduga dalam ekspor olahan memperburuk kekhawatiran analis pada melemahnya permintaan di China, konsumen minyak terbesar kedua dunia di belakang AS

Di AS, stok bensin naik 911.000 pekan lalu sebesar 241 juta, didorong oleh kilang minyak yang beroperasi terus melebihi permintaan selama musim panas. Hal tersebut datang sebagai rata-rata empat minggu Input Kilang Minyak Mentah yang naik menjadi 16,697 juta barel per hari untuk pekan yang berakhir pada 15 Juli, naik tajam sebesar 88.000 bph dari minggu sebelumnya. Produksi bahan bakar olahan, sementara itu, tetap tinggi dalam satu minggu setelah persediaan melonjak lebih dari 4,0 juta barel, mencatat kenaikan mingguan terbesar dalam lebih dari lima bulan.

“Angka-angka produksi bensin di AS cukup mengejutkan,” analis dari Energy Analytics menulis dalam sebuah catatan kepada investor.

Secara keseluruhan, persediaan minyak mentah AS komersial turun 2,342 juta barel pada minggu ini, sejalan dengan perkiraan konsensus untuk berimbang 2,1 juta. Sementara persediaan Minyak mentah AS tetap berada di tingkat historis tertinggi sepanjang tahun ini, stok minyak nasional AS telah turun dalam sembilan minggu berturut.

Di tempat lain, Exxon Mobil Corporation (NYSE:NYSE:XOM) mengumumkan rencana untuk mengakuisisi InterOil Corporation (NYSE:IOC) dengan kesepakatan sebesar $2,5 miliar yang memungkinkan raksasa minyak tersebut untuk memperluas jaringan di seluruh Asia Tenggara. Dengan merger itu, ExxonMobil akan mendapatkan akses ke bisnis InterOil Liquefied Natural Gas (LNG) di Papua Nugini, termasuk 36,5% saham di bidang Elk-Antleope.

“Perjanjian ini akan memungkinkan ExxonMobil untuk menciptakan nilai bagi pemegang saham kedua perusahaan dan masyarakat Papua Nugini,” kata Rex W. Tillerson, ketua dan kepala eksekutif Exxon Mobil Corporation. “Sumber daya InterOil akan meningkatkan bisnis ExxonMobil semakin sukses di Papua Nugini dan memperkuat posisi perusahaan yang telah kuat dalam gas alam cair.” (hnm) – KONTAK PERKASA FUTURES