PT KONTAK PERKASA FUTURES – Orang zaman dulu mungkin bakal berpikir, orang yang berutang pasti lagi kebelit masalah finansial pelik. Sebab kalau punya duit lebih, ngapain ngutang?

Karena itu, orang-orang yang berutang identik dengan orang yang bermasalah. Khususnya masalah duit.

Gak selamanya utang itu berakibat buruk. Jenis utang kayak ginilah yang kerap disebut utang yang baik. Apa itu utang yang baik? Kalau ada utang baik, berarti ada juga utang yang buruk dong.

Selama ini berkembang pemikiran bahwa utang yang baik itu adalah yang digunakan buat keperluan produktif. Contohnya kredit usaha rakyat. Utang dari bank ini bisa dipakai buat membuka atau mengembangkan bisnis, sehingga kelak dapat dilunasi dari laba usaha tersebut.

Sedangkan utang disebut buruk kalau tujuannya konsumtif. Misalnya kredit kendaraan. Padahal perbedaan utang yang baik dan buruk gak sesimpel itu.

Ambil contoh kredit usaha. Kalau utang dari bank itu gak dikelola dengan baik ya wasalam. Bisnis gak berkembang, sementara utang plus bunganya gak terbayar.

Di sisi lain, jika kredit kendaraan dimanfaatkan dengan maksimal, hasilnya bisa sangat baik. Contohnya setelah punya kendaraan dengan cara kredit, transportasi sehari-hari jadi lebih mudah dan murah, yang ujungnya meningkatkan produktivitas kerja dan pemasukan.

Contoh Kasus

Kita ambil contoh kasus dari Lutvi, bapak beranak satu yang gajinya Rp 10 juta per bulan. Anaknya baru mau masuk sekolah sehingga butuh biaya, sementara dia masih ada cicilan KPR sebesar Rp 3 jutaan per bulan.

Untung istrinya juga membantu menambah penghasilan dengan jualan kecil-kecilan via online. Pemasukan bersihnya per bulan kira-kira Rp 2 juta.

Menurut pandangan umum pakar keuangan, persentase total utang/pengeluaran maksimal seseorang adalah 40 persen dari total pendapatannya. Dalam kasus keluarga Lutvi, berarti sebaiknya utang per bulan maksimal:

40 persen x (Rp 10 juta + Rp 2 juta) = Rp 4,8 juta

Pengeluaran keluarga Lutvi per bulan di luar cicilan KPR sekitar Rp 1,5 juta. Jadi, total pengeluaran (Rp 3 jutaan + Rp 1,5 juta= Rp 4,5 juta) masih dalam batas aman. Tapi dengan mulai sekolahnya sang anak, otomatis pengeluaran bertambah.

Biaya masuk sih sudah terpenuhi lewat tabungan pendidikan yang sebelumnya memang sudah dialokasikan oleh keluarga Lutvi. Tapi ada tambahan berupa biaya transportasi dan uang jajan anak.

 Setelah menghitung-hitung, uang jajan anak bisa disiasati dengan membawakan bekal. Tapi biaya transportasi akan membuat Lutvi melanggar batas pengeluaran per bulan. Soalnya biaya itu sebesar Rp 500 ribu.

Duit Rp 500 ribu itu dipakai untuk membayar ongkos jasa antar-jemput sang anak dengan mobil pribadi. Sebab mustahil bagi Lutvi untuk antar-jemput sendiri karena ia harus bekerja.

Sedangkan istrinya juga tak bisa karena tak ada kendaraan di rumah. Kalau naik angkutan umum, malah biaya bisa tambah besar karena harus keluar duit untuk dua orang, yaitu anak dan istri.

Akhirnya Lutvi memutuskan ambil kredit sepeda motor. Kelak istrinya jadi bisa mengantar-jemput sang anak.

“Loh, kok malah ngutang buat kebutuhan konsumtif?” begitu kata istri Lutvi. Tapi Lutvi punya hitungan sendiri soal cara mengelola utang ini dengan memanfaatkan sedikit tabungannya untuk membayar uang muka motor.

Utang cicilan KPR: Rp 3 jutaan per bulan.
Pengeluaran bulanan: Rp 1,5 juta.
Total pengeluaran: kurang-lebih Rp 4,5 juta.

Kredit motor Yamaha Mio: Rp 14 juta
Uang muka: Rp 2 juta (diambil dari tabungan)
Total pinjaman: Rp 12 juta
Jangka waktu: 24 bulan
Cicilan: Rp 500 ribuan

Artinya, ada tambahan pengeluaran sekitar Rp 500 ribu per bulan, yang sama jika memakai jasa antar-jemput. Tapi pengeluaran Rp 500 ribuan per bulan untuk bayar utang kredit motor ini lebih bermanfaat ketimbang untuk bayar ongkos transportasi. (hnm) – KONTAK PERKASA FUTURES