PT KONTAK PERKASA FUTURES – Piala Eropa 2016 sudah selesai. Portugal meraih trofi Henri Delaunay untuk yang pertama kalinya sepanjang sejarah mereka setelah mengalahkan Prancis di final. Laga final menjadi representasi bagaimana turnamen Piala Eropa 2016 berlangsung secara keseluruhan.

Pertandingan yang berlangsung di Stade de France, Saint Denis, itu berlangsung dengan cukup monoton, aman, cenderung membosankan, tetapi memiliki banyak kisah yang menarik di dalamnya. Persis dengan turnamennya itu sendiri. Pertandingan di Piala Eropa 2016, menurut hemat penulis, cenderung tidak seru-seru amat. Kisah-kisah di luar pertandingan itulah menjadikan festival ini lebih menarik dan berkualitas dibanding pertandingannya itu sendiri.

Pertandingan antara Prancis dan Portugal diwarnai oleh serangan ngengat akibat dinyalakannya lampu Stade de France semalaman. Ngengat-ngengat itu dapat dikatakan cukup mengganggu pertandingan. Beberapa ngengat yang berlalu-lalang menghalangi lensa kamera TV mengurangi kenikmatan untuk menikmati pertandingan yang berlangsung kurang nikmat tersebut. Bahkan, ada satu ngengat yang beran-beraninya hinggap di wajah Cristiano Ronaldo, ketika kapten Portugal tersebut kesakitan. Sebagai hasil, ngengat-ngengat tersebut menjadi bahan pembicaraan di jagad raya twitter. Jika diibaratkan, ngengat-ngengat tersebut seperti kelakuan suporter Inggris dan Rusia yang bentrok dan membuat kericuhan di Prancis. Perbuatan dari ngengat-ngengat dan kedua suporter tersebut memang memiliki sifat yang identik. Tidak penting, menjengkelkan, namun menarik untuk disimak.

Walaupun begitu, tidak semua suporter di Piala Eropa 2016 berkelakuan buruk. Suporter Republik Irlandia, contohnya. Fans The Boys in Green memiliki kisah menarik yang mewarnai turnamen ini. Dimulai dari membantu seorang anak bayi untuk tidur di kereta, menyanjung dan menyanyikan seorang wanita Prancis, hingga membersihkan sampah di pub dan bar yang mereka tempati. Suporter-suporter Irlandia ini bahkan mendapat medali penghargaan atas perilaku terpuji mereka oleh pemerintah Prancis. Perilaku mereka ini menjadi oase tersendiri ditengah keringnya Piala Eropa 2016.

Pertandingan final tersebut akhirnya dimulai. Namun setelah 25 menit laga berlangsung, pemain bintang yang menjadi sorotan utama, Ronaldo, harus ditarik keluar karena cedera. Dia sampai tak kuasa menahan tangis. Sungguh, adegan tersebut cukup menyayat hati bagi penontonnya. Drama. Singkatnya, adegan ini sungguh dramatis. Bagaimana tidak, Ronaldo adalah pemain yang seharusnya menjadi penentu kemenangan Portugal, namun ia harus keluar karena benturan yang bahkan bukan sebuah pelanggaran.

Drama Ronaldo ini juga merupakan cerminan dari gugurnya beberapa tim unggulan di awal-awal turnamen. Spanyol, Belgia, dan ehmm… Inggris, harus keluar lebih awal dari turnamen ini. Namun tak bisa dipungkiri, gugurnya unggulan-unggulan ini (dan munculnya tim-tim kejutan) justru menambah cerita dari Piala Eropa 2016. Bagaimana bisa, Inggris, yang selalu menang di babak kualifikasi, justru kalah oleh Islandia? Atau Belgia, yang memiliki skuat bertabur bintang, kalah dari tim debutan seperti Wales? Pertanyaan-pertanyaan itu menjadi bumbu yang menghangatkan turnamen yang cukup dingin ini. Walaupun begitu, memang, keluarnya Ronaldo membuat kualitas pertandingan final itu sangat berkurang. Sama dengan kualitas pertandingan Piala Eropa 2016 yang berkurang setelah tim-tim unggulan tersebut tersisih terlalu cepat.

Bicara mengenai kualitas pertandingan, coba sebut berapa banyak pertandingan yang benar-benar seru. Selain semifinal antara Prancis atau Jerman yang menjadi panggung kebrilianan Antoine Griezmann, adu taktik antara Joachim Loew dan Antonio Conte, ketika dua pelatih tersebut sama-sama menggunakan formasi 3-5-2 berakhir dengan kemenangan Jerman di babak adu penalti yang gila. Atau gol bonanza di laga Hongaria melawan Portugal dan Prancis melawan Islandia, pertandingan mana lagi yang menarik? Kebanyakan laga baru seru di menit-menit akhir, dan kebanyakan juga berakhir dengan skor 1-0. Terdengar mirip dengan laga finalnya ‘kan?

Rerata gol di Piala Eropa 2016 hanya sebanyak 2,12 biji per laga. Empat tahun lalu, rerata gol yang mencapai 2,45 per game. Rerata gol per pertandingan tahun ini merupakan yang terendah sejak Piala Eropa 1996 (2,06 gol per laga). Jika patokan seru nya sebuah pertandingan adalah gol yang tercipta di tiap laga, maka dapat dipastikan bahwa Piala Eropa 2016 adalah turnamen yang tidak seru.

Kejutan menjadi kata kunci di sini. Gol kemenangan Portugal dicetak oleh seorang pemain kejutan bernama Eder. Bahkan, kemenangan Portugal atas Prancis juga merupakan sebuah kejutan. Ya, Eder dan Portugal adalah representasi dari hal yang paling menarik di Piala Eropa 2016; Kejutan, bukan kualitas.

Sekarang begini, coba bayangkan jika Wales atau Islandia tidak lolos dari fase grup. Akankah Piala Eropa 2016 lebih menarik? Sepertinya tidak. Kejutan yang diberikan Islandia dan Wales sudah sepatutnya disyukuri oleh semua penggemar sepakbola. Perjalanan kedua negara debutan tersebut telah mampu menarik hati dan dukungan dari banyak orang, dan membuat Piala Eropa 2016 jauh lebih hangat.

Kesimpulannya adalah, Piala Eropa 2016 memiliki kisah-kisah yang menarik, namun bukan turnamen yang baik dari sudut pandang pertandingan. Dan hal itu, direpresentasikan dengan sempurna oleh pertandingan finalnya.

Penambahan peserta mungkin dijadikan alasan mengapa pertandingannya menjadi sedikit kurang kompetitif. Namun, tetap saja, 24 negara tersebut sudah melalui babak kualifikasi terlebih dahulu. Akui saja, ngengat-ngengat, adegan Ronaldo yang sepertinya “kemasukan” Sir Alex Ferguson di pinggir lapangan, atau fakta bahwa pencetak gol Portugal adalah seseorang bernama Eder jauh lebih menarik dibanding keseluruhan pertandingan yang terjadi di lapangan.

Sama dengan fakta bahwa perkelahian suporter Rusia dan Inggris, perbuatan menyenangkan suporter Irlandia, dan kejutan yang diciptakan Wales dan Islandia jauh lebih menarik ketimbang kebanyakan pertandingan di Piala Eropa 2016. (hnm) – KONTAK PERKASA FUTURES