PT KONTAK PERKASA FUTURES – Indeks dolar AS turun sedikit pada hari Senin, tetap di dekat posisi terendah satu bulan, akibat sejumlah data ekonomi yang lemah di Asia meningkatkan kemungkinan langkah-langkah stimulus lebih lanjut dari bank sentral terkemuka, memberikan tekanan cukup berat pada pergerakan greenback.

Indeks dolar, yang mengukur kekuatan greenback terhadap enam mata uang utama lainnya, turun lebih dari 0,15% pada hari Senin ke tingkat terendah intraday di 95,43 dalam laju sesi kerugian keempat selama lima hari perdagangan terakhir. Sejak menyentuh tertinggi empat bulan pada akhir Juli, dolar telah mundur sekitar 2% selama tiga minggu terakhir. Lebih luas, indeks telah jatuh lebih dari 3% sejak pembukaan tahun di sekitar 99, berminggu-minggu setelah Federal Reserve mengakhiri Kebijakan Suku Bunga Nol (ZIRP) selama tujuh tahun.

Investor pada hari Senin kemarin terus memantau aktivitas bank sentral global dengan cermat jelang Konferensi Jakson Hole pekan depan bagi para pemimpin bank sentral di Wyoming. Pada hari Senin, Nikkei turun 0,3% di tengah pertumbuhan ekonomi yang lemah di Jepang selama periode tiga bulan sampai Juni, memperburuk kekhawatiran bahwa rencana stimulus lebih lanjut dapat datang sebelum akhir tahun ini. Selama kuartal tersebut, Ekonomi Jepang tumbuh pada tingkat 0,2% selama 12 bulan sebelumnya, tajam di bawah perkiraan kenaikan 0,7% dan menandai perlambatan yang cukup besar dari keuntungan 2% selama tiga bulan pertama dalam setahun. Laporan lemah itu datang dalam peluncuran stimulus ¥28 triliun yang bertujuan mencegah deflasi. USD/JPY jatuh ke tingkat terendah intraday di 100,87, tetap di dekat posisi terendah 1 tahun.

Selain itu, pasar saham di China melonjak sekitar 3% ke level tertinggi tujuh bulan, karena investor bersiap untuk langkah-langkah stimulus baru terhadap perekonomian terbesar kedua di dunia setelah rilis data ekonomi yang lemah, Senin. Bulan lalu, pinjaman bank baru di China naik menjadi 463.6 miliar yuan, data menunjukkan, sekitar setengah dari tingkat yang diantisipasi oleh ekonom dalam survei Bloomberg. Pembacaan lemah tersebut memicu kekhawatiran baru tentang perlunya kebijakan pelonggaran moneter oleh Bank Rakyat China untuk memulai lompatan ekonomi dari keterpurukan dalam periode pertumbuhan ekonomi yang terlambat dalam dua dekade.

Sebagai bank yang sentral terkemuka di Dunia yang terus memberlakukan kebijakan suku bunga negatif tidak konvensional dalam upaya mendorong pertumbuhan ekonomi, Fed masih menimbang waktu kenaikan suku bunga berikutnya. Ketika Komite Pasar Terbuka Federal (FOMC) menyetujui kenaikan suku bunga 25 basis poin di bulan Desember lalu, bank sentral AS tersebut memperkirakan bahwa hal tersebut dapat menaikkan suku bunga sebanyak empat kali dalam setahun dan memulai siklus pengetatan pertama dalam hampir satu dekade. FOMC, meskipun, telah meninggalkan suku bunga stabil di masing-masing lima pertemuannya tahun ini di tengah data pekerjaan yang beragam dan di bawah target inflasi.

Setiap tingkat kenaikan suku bunga oleh FOMC di tahun ini dipandang sebagai optimis bullish bagi Dolar di mana investor menumpuk aset ke greenback untuk memanfaatkan hasil keuntungan yang lebih tinggi.

Imbal hasil obligasi Inggris Raya 10 Tahun jatuh ke rekor terendah baru sepanjang masa di 0.503, naik dua basis poin di sesi tersebut. British Pound, sementara itu, jatuh 0,26% ke 1.286 terhadap Dolar AS, tetap di dekat POSISI terendah 31 tahun. Selama akhir pekan, Sunday Times melaporkan bahwa Inggris Raya bisa menunda kepergiannya dari Uni Eropa sampai tahun 2019, di tengah kesulitan luas dalam transisi pemerintahan baru Perdana Menteri Theresa May.

Di Seberang Atlantik, imbal hasil obligasi AS 10 Tahun naik empat dalam basis poin menjadi 1,56%. Selama tahun lalu, imbal hasil obligasi 10 Tahun Treasury AS telah merosot lebih dari 60 basis poin. (hnm) – KONTAK PERKASA FUTURES