PT KONTAK PERKASA FUTURES – Cabang renang nomor 100 meter gaya bebas putri menghadirkan momen langka. Dua perenang finis dalam waktu bersamaan hingga akhirnya berbagi podium teratas.

Dalam final cabang renang nomor 100 meter gaya bebas putri Olimpiade 2016 di Olympic Aquatics Stadium, Kamis (11/8) malam waktu setempat, Penny Oleksiak (Kanada) dan Simone Manuel (Amerika Serikat) menyentuh dinding kolam secara bersamaan. Keduanya mencatatkan waktu 52,70 detik.

Oleksiak dan Manuel kemudian menempati podium tertinggi untuk sama-sama menerima medali emas. Lagu kebangsaan AS kemudian diputar dan disusul lagu kebangsaan Kanada. Medali perunggu sendiri direbut oleh Sarah Sjostrom dari Swedia.

Ini adalah kali kedua nomor 100 meter gaya bebas putri berakhir dengan dua perenang finis bersamaan. Sebelumnya, Nancy Hogshead dan Carrie Steinseifer juga mengalami hal yang sama di Olimpiade Los Angeles 1984 setelah sama-sama mencatatkan waktu 55,92 detik.

Ini merupakan emas ganda pertama di renang Olimpiade. Ini terjadi setelah sistem penghitungan waktu dikurangi dari seperseribu detik menjadi seperseratus detik menyusul momen serupa di nomor 400 meter gaya ganti perseorangan putra di tahun 1972 menjadi kontroversi. Kala itu, medali emas akhirnya diberikan kepada Gunnar Larsson (Swedia) sementara medali perak untuk Tim McKee (AS).

“Luar biasa bisa sama-sama mendapat emas. Saya tidak pernah berpikir saya akan menang. Dia sama layaknya seperti saya,” ujar Oleksiak seperti dikutip dari Reuters.

“Saya baru 16 tahun jadi cukup gila bisa meraih emas di Olimpiade pertamamu,” lanjutnya.

Oleksiak kini sudah mengumpulkan empat medali dari Olimpiade 2016, terbanyak di antara atlet Kanada lainnya. Sebelumnya, dia meraih perunggu di nomor estafet 4×100 meter gaya bebas putri, perak di nomor 100 meter gaya kupu-kupu putri, dan estafet 4×200 meter gaya bebas putri.

Medali emas ini juga tak kalah istimewa untuk Manuel. Dia menjadi perenang putri kulit hitam AS pertama yang meraih medali emas Olimpiade di nomor perorangan.

“Medali ini bukan cuma untuk saya, ini untuk warga kulit hitam Amerika sebelum saya dan sudah menjadi inspirasi dan mentor untuk saya,” ucap Manuel.

Manuel juga menyadari arti kemenangannya di tengah iklim politik AS saat ini di mana isu kekerasan polisi terhadap warga kulit hitam tengah memanas.

“Saya pikir ini sangat berarti, khususnya dengan apa yang sedang terjadi di dunia saat ini dengan sejumlah isu terkait kekerasan polisi,” lanjut perenang berusia 20 tahun itu.

“Saya pikir kemenangan seperti ini membantu memberi harapan dan perubahan terhadap beberapa isu yang sedang terjadi,” katanya. (hnm) – KONTAK PERKASA FUTURES