PT KONTAK PERKASA FUTURES – Emas naik sedikit di sesi perdagangan Asia pada hari Rabu dengan kemungkinan rilis data perdagangan China untuk menentukan arah selanjutnya.

China diperkirakan akan melaporkan data perdagangan dengan neraca surplus sebesar $46,64, serta impor turun 4,1% tahun-ke-tahun pada bulan Juni dan ekspor turun 5.0%.

Di divisi Comex Bursa Perdagangan New York, emas untuk pengiriman Agustus naik 0,15% menjadi $1,337.35 per troy ounce.

Perak untuk pengiriman Agustus naik 1,24% menjadi $20,422 per troy ounce, sementara tembaga berjangka untuk pengiriman September melonjak 2,58% menjadi $2,270 per pon.

Semalam, emas melemah tajam dalam aksi beli global perdagangan, dengan Dow Jones Industrial Average melonjak ke posisi intraday tertinggi sepanjang masa pada Selasa pagi, meredam permintaan logam mulia sebagai aset safe-haven.

Saham AS dibuka pada rekor tertinggi, karena Dow melonjak lebih dari 100 poin ke intraday tertinggi 18,353.76, menguat dari intraday tertinggi sepanjang masa 18,351.36 sebelumnya di bulan Mei lalu. Sejak jatuh lebih dari 850 poin selama dua hari, aksi jual pasca-Brexit, Dow telah naik sekitar 1.300 poin selama reli besar ekuitas global. Pada saat yang sama, Indeks Komposit S&P 500 mencapai intraday tertinggi baru dalam sesi kedua berturut-turut, sedangkan Indeks Komposit NASDAQ menghapus semua kerugian pada tahun kalender ini.

Sementara itu, Presiden Fed St. Louis James Bullard menegaskan posisinya bahwa kondisi ekonomi saat ini dianggap tepat bagi bank sentral AS untuk menaikkan suku bunga jangka pendek hanya sekali selama dua tahun ke depan. Sementara memberikan pidato di St Louis, Bullard mencatat bahwa imbal hasil kurva perataan dari jatuhnya imbal hasil Treasury AS dalam jangka panjang tidak selalu berarti sinyal dari resesi akan segera terjadi. Tercipta dari keputusan Brexit bulan lalu, imbal hasil obligasi pemerintah seluruh dunia, termasuk di obligasi AS 10 tahun dan AS 30 tahun telah jatuh ke level rekor terendah sepanjang masa.

“Wall Street mempertimbangkan hal ini sebagai sinyal pertumbuhan yang melambat. Saya pikir hal tersebut merupakan pengalihan aset demi keselamatan setelah aksi Brexit,” kata Bullard. “Yang mendorong imbal hasil turun dan saya tidak akan mengambilnya sebagai sinyal prospek pertumbuhan AS.”

Meskipun dengan posisi pesimis dovish Bullard, analis dari Goldman Sachs Group Inc (NYSE:NYSE:GS) mengatakan hari Selasa mereka masih mengantisipasi bahwa Komite Pasar Terbuka Federal (FOMC) akan “kembali pada kenaikan suku bunga,” tak lama lagi. Setelah laporan kerja AS yang relatif kuat untuk bulan Juni, Rate Fed Futures memperkirakan kenaikan suku bunga tunggal pada tahun 2016 meningkat menjadi 32,7% pada hari Selasa, naik dari 12% sebelum rilis Jumat lalu.

Investor yang optimis bullish pada emas mendukung pengetatan bertahap dari kebijakan moneter oleh The Fed. Emas, yang tidak melekat pada suku bunga, berjuang untuk bersaing dengan aset terkait imbal hasil tinggi dalam situasi peningkatan suku bunga. (hnm) – KONTAK PERKASA FUTURES