PT KONTAK PERKASA FUTURES – Indeks Dolar AS tertekan hebat ke level terendah dua bulan pada Selasa malam, memperpanjang kerugian sebelumnya selama seminggu terakhir, akibat investor bereaksi terhadap angka inflasi yang ringan dan petunjuk dari pembuat kebijakan Federal Reserve bahwa hal itu bisa tepat untuk menaikkan suku bunga dalam beberapa bulan mendatang.

Indeks dolar, yang mengukur kekuatan dolar terhadap enam mata uang utama lainnya, anjlok lebih dari 0,90% ke level terendah intraday 94,38, sebelum menguat sedikit ke 94,75 pada penutupan perdagangan AS. Dolar berada dalam laju pelemahan untuk sesi ketiga beruntun dan kekalahan kelimanya selama enam hari perdagangan terakhir. Pada sesi-terendah malam tadi, indeks jatuh ke level terendah sejak 9 Juni.

Pada Selasa malam, Biro Statistik Tenaga Kerja AS mengatakan Indeks Harga Konsumen tetap datar pada bulan Juli, sejalan dengan perkiraan konsensus, sedikit jatuh kembali dari keuntungan bulanan 0,2% pada bulan Juni. Pada basis tahunan, inflasi konsumen naik 0,8% dari 12 bulan sebelumnya, juga melambat dari kenaikan tahunan bulan Juni sebesar 1,0%. Hal itu datang akibat harga pangan yang tetap datar dan transportasi yang mengalami kontraksi sedikit, diimbangi oleh penguatan di medis dan harga perumahan.

Pada saat yang sama, CPI Inti, kecuali harga pangan dan energi yang volatil, naik 0,1% pada bulan Juli, sedikit di bawah ekspektasi analis untuk kenaikan 0,2%. Inflasi Inti meningkat sebesar 2,2% pada basis tahun-ke tahun, juga melambat dari kenaikan tahunan bulan Juni sebesar 2,3%. Untuk bulan ini, harga energi stabil menurun 1,6%. Meskipun tanda-tanda yang kuat dari inflasi pada awal tahun ini, target jangka panjang Fed terhadap inflasi masih tetap di bawah tujuan yang ditargetkannya.

Juga pada hari Selasa, Presiden Fed New York William Dudley mengejutkan pasar dengan komentar optimis hawkish bahwa bank sentral AS kemungkinan bisa mengangkat suku bunga sebelum akhir tahun. Berbicara secara eksklusif dengan Fox Business, Dudley mengatakan Fed “semakin dekat” ke titik yang “akan sesuai” untuk benar-benar menaikkan suku bunga dalam waktu dekat. Mengikuti kenaikan suku bunga bersejarah Desember lalu, Komite Pasar Terbuka Federal (FOMC) telah mempertahankan berbagai target suku bunga acuan di level saat ini antara 0,25 dan 0,50% di masing-masing lima pertemuan pertamanya tahun ini.

Kemungkinan kenaikan suku bunga September dari perangkat FedWatch CME Group (NASDAQ:CME) dua kali lipat menjadi 18% menyusul komentar Dudley dari sekitar 9% selama sesi sebelumnya. Selain itu, CME Group menempatkan kemungkinan kenaikan suku bunga Desember di 55,1%, naik dari sekitar 41,9% di sesi Senin.

GBP/USD melonjak lebih dari 1,25% menjadi 1,3043, memantul dari dekat posisi terendah 31 tahun di sesi sebelumnya. Hal itu datang setelah CPI di Inggris menguat 0,6% pada bulan Juli, menyusul kenaikan bulanan 0,5% bulan sebelumnya, memberikan indikasi lebih lanjut bahwa ekonomi Inggris Raya bisa berada di pijakan yang kokoh setelah kejutan Brexit bulan Juni. Akibat Pound British turun tajam sepanjang bulan, biaya impor berakselerasi dalam jumlah tertinggi sejak 2011. EUR/USD naik lebih dari 0,8% ke intraday tertinggi 1,1322, melewati 1,13 untuk pertama kalinya sejak 24 Juni ketika pemilih di Inggris menyetujui referendum bersejarah Brexit.

Imbal hasil AS 10 Tahun naik dua basis poin menjadi 1,57%, sementara imbal hasil Inggris Raya 10 Tahun naik lima basis poin menjadi 0,58%. Kedua imbal hasil obligasi pemerintah 10-tahun tersebut turun tajam selama setahun terakhir. (hnm) – KONTAK PERKASA FUTURES