Kejar Emas untuk Indonesia, Putty Armein Jalani Latihan Setara Jam Kerja Orang KantoranJakarta – Semangat tinggi diusung Putty Armein dalam Asian Games XVII/2014 di Incheon, Korea Selatan. Peboling berpengalaman itu bertekad untuk meraih medali emas. Persiapan berat pun dilakoni di tengah keterbatasan.

“Emas, emas, emas.” Kata itu diulang-ulang Putty di mana saja dan kapan saja. Siapa tahu kata-kata itu menjadi mantra yang manjur saat Asian Games yang dimulai 19 September sampai 4 Oktober tahun ini. Putty ingin sekali meraup emas.

“Asian Games Incheon nanti menjadi Asian Games ketiga saya. Pada dua Asian Games sebelumnya, di Doha dan Guangzhou, saya dapat perak. Semoga saja yang ketiga nanti bisa dapat emas,” kata Putty kepada detikSport.

Tekad itu dibayar Putty dengan latihan keras. Bungsu dari tiga bersaudara itu siap menjalani latihan mulai pukul 07.00. Tiga jam kemudian dia harus mengikuti kelas teori selama dua jam. Kemudian berlanjut latihan yoga selama satu jam.

Istirahat siang dijatah satu jam. Tidak ada acara tidur siang atau kongkow di cafe. Sebab, Putty bersama-sama peboling pemusatan latihan nasional lainnya harus menjalani latihan sore yang digeber mulai pukul 14.00 hingga 18.00. Di hari lain, porsi latihan bisa diisi hanya dengan bermain boling di lintasan pada pagi dan sore hari.

Putty mengakui kadang kala bosan dengan gerakan berulang, suara yang monoton saat pin bertabrakan dengan bola, dan di dalam ruangan yang itu-itu saja. “Dengar suara pin cetang-cetung setiap saat itu bikin lelah, jenuh juga,” kata Putty.

Tapi, dia sudah punya obat untuk mengusir lelah dan bosan itu. “Nonton, makan, jalan,” ucap perempuan kelahiran Palembang 24 Oktober 1981 itu.

Persoalan pelik malah datang baru-baru ini. Dia dan peboling lain belum menerima bola yang akan digunakan untuk tampil di Incheon. Padahal waktu sudah mepet.

“Sebenarnya persiapan kami sudah masuk tahap akhir, di mana kami (harusnya) mulai mempersiapkan peralatan yang dipakai untuk tampil di Korea. Tapi sayangnya kami belum menerima bola itu tanpa tahu alasannya sampai sekarang,” jelas wanita berkulit putih itu.

“Peralatan itu mempunyai peran besar di kejuaraan-kejuaran besar. Jadi kalau kami berangkat dengan peralatan seadanya dan mengharapkan emas, lebih baik tidak usah berangkat. Karena nanti semua kecewa. Jadi buat apa.

“Makanya kalau memang menginginkan hasil yang maksimal, seharusnya berusaha maksimal pula. Saya harapkan bola bisa secepatnya tersedia dengan waktu yang tersisa ini,” harap dia.

Artikel: kontakperkasa futures.