PT KONTAK PERKASA FUTURES – Juventus kembali meraih poin penuh pada lanjutan Serie A 2016/2017. Usai menundukkan Fiorentina 2-1 di Juventus Stadium pekan lalu, anak asuh Massimiliano Allegri ini mengandaskan tuan rumah Lazio dengan skor 1-0, Sabtu (27/8) malam WIB, lewat gol Sami Khedira pada menit ke-66.

Dengan kemenangan ini, Juventus pun semakin mengukuhkan supremasi mereka atas Biancocelesti. Enam pertemuan terakhir kedua kesebelasan berhasil disapu bersih oleh Juventus.

Tidak hanya itu, kemenangan ini juga membawa Bianconeri ke posisi puncak klasemen. Mereka mengoleksi enam poin dari dua pertandingan.

Juventus Diuntungkan oleh Strategi Lazio di Lini Depan

Juventus tak bisa memainkan salah satu bek andalannya, Leonardo Bonucci, pada pertandingan ini. Menurut beberapa media Italia, Bonucci tak bisa bermain karena harus menemani anaknya yang sedang sakit.

Absennya Bonucci sendiri ditakutkan akan meninggalkan lubang di lini belakang Juventus, mengingat di musim lalu ia menjadi bek tengah Juventus yang tampil paling banyak di Serie A. Nama Medhi Benatia pada akhirnya dipilih Allegri untuk menjadi pengganti Bonucci.

Benatia yang tampil sebagai stopper tampil cukup baik di laga yang menjadi partai debutnya berseragam Juventus ini. Bek asal Maroko ini mampu membuat 100% akurasi tekel dari lima percobaan, tujuh intersep, dan lima sapuan.

Juventus bukan hanya beruntung memiliki Benatia yang tampil baik di pertandingan ini. Kemenangan mereka juga hadir berkat gaya menyerang Lazio yang begitu mudah dirusak oleh Juventus.

Lazio sendiri memainkan formasi 3-4-3 di pertandingan ini. Senad Lulic, Ciro Immobile, dan Felipe Anderson dipilih pelatih Simone Inzaghi menjadi trisula di lini depan. Trisula ini bakal menakutkan jika Lazio memainkan umpan-umpan pendek. Namun, Biancocelesti justru memaksakan umpan panjang.

Immobile yang dipasang sebagai ujung dari trisula ini begitu pasif di awal pertandingan. Rapatnya jarak antara Mario Lemina yang dimainkan sebagai gelandang bertahan dengan trio bek Juventus membuat Immobile sulit mendapatkan bola.

Tidak hanya itu saja. Dalam beberapa kesempatan Immobile juga diberi umpan lambung, yang otomatis bakal lebih mudah dipotong oleh pemain belakang Juventus karena faktor postur dan lompatan mereka yang lebih tinggi.

Hasil dari pilihan Inzaghi memainkan Immobile sendirian sebagai ujung tombak di babak pertama membuat Lazio begitu tak berdaya. Bukan hanya soal jumlah tembakan yang begitu minim (Lazio hanya membuat satu tembakan di babak pertama), tapi juga soal akurasi umpan. Menurut FourFourTwo, Lazio bahkan hanya mampu membuat satu umpan berhasil ke arah Immobile dari delapan umpan yang dilepaskan.

Man Marking Lazio Buat Juventus Sulit Kembangkan Permainan

Meski Lazio kesulitan mengembangkan permainan, sebenarnya Juventus juga demikian. Sebab, di awal babak pertama, Lazio bermain begitu rapat di daerah permainannya. Tidak hanya menjaga kerapatan, pemain kesebelasan berseragam identik biru muda tersebut juga menerapkan man marking demi mengisolasi pergerakan pemain Juventus.

Hasil dari man marking Lazio pun begitu signifikan. Mario Mandzukic yang ditaruh di depan sendirian sangat jarang mendapatkan bola. Sementara trio Paulo Dybala, Sami Khedira, dan Kwadwo Asamoah yang ditugaskan mengirim bola dan bergantian ke lini depan juga tidak mendapatkan akses masuk yang cukup.

Kesulitan Juventus untuk menembus pertahanan Lazio pun begitu terlihat di babak pertama. FourFourTwo mencatat, 11 umpan pemain Juventus di daerah permainan Lazio berhasil dipotong.

Beruntung buat Juve, taktik Inzaghi untuk merapatkan timnya di daerah permainan mereka hanya berlaku untuk babak pertama. Di babak kedua, jarak antarpemain Lazio mulai mengendur. Pergerakan pemain yang selalu rapat di babak pertama mulai tereduksi usai mereka mulai berani bergerak ke lini depan.

Keberanian pemain Lazio untuk menyerang sendiri diakibatkan oleh masuknya beberapa pemain, seperti Sergej Milinkovic-Savic, Patric, dan Filip Djordjevic menggantikan Senad Lulic, Jordan Lukaku, dan Dusan Basta di babak kedua.

Masuknya ketiga pemain tersebut langsung mengubah gaya bermain Lazio menjadi lebih menyerang, terutama lewat sisi kiri daerah permainan mereka. Keluarnya Lukaku membuat sisi kiri diisi oleh Basta dan Anderson (mulai mengisi sisi kiri setelah Basta diganti).

Namun, digantinya Lukaku justru malah meninggalkan lubang. Basta yang belum genap tiga menit menempati sisi kiri, telat menutup Dybala yang bergerak ke tengah daerah permainan Lazio. Setelah mendapatkan bola, Dybala langsung memberikan umpan kepada Khedira yang telah berada di luar kotak penalti Lazio. Dengan sekali sentuhan, Khedira melepaskan tembakan ke sisi kanan gawang yang tidak mampu dihalau oleh Federico Marchetti dan langsung berbuah gol.

Ada kesalahan individu yang dilakukan Basta pada laga ini. Umpan Dybala sebenarnya mengarah padanya, hanya saja ia gagal menggapainya sehingga bola mengarah pada Khedira dan menembus lini pertahanan Lazio.

Juventus rupanya tidak mau menyerah setelah mencetak gol. Selain Gonzalo Higuain yang dimasukkan beberapa menit sebelum gol Khedira, Juventus juga memasukkan Stephan Lichtsteiner dan Marko Pjaca untuk menggantikan Dani Alves dan Paulo Dybala. Namun, tidak ada perubahan berarti yang mampu dilakukan oleh dua pemain tersebut.

Juventus Masih Punya Pekerjaan Rumah

Kendati Juventus mampu mencetak gol, performa mereka menurun. Kreasi serangan dan akurasi tembakan menjadi bukti bahwa Juventus masih memiliki persoalan besar.

Dalam laga ini, Juventus hanya mampu menciptakan delapan peluang. Jumlah ini turun dari 12 peluang yang mereka buat di laga melawan Fiorentina serta rerata musim lalu yang juga 12. Selain menurunnya jumlah peluang, penurunan juga terjadi dalam hal akurasi tembakan.

Di pertandingan melawan Lazio, serta laga melawan Fiorentina, akurasi tembakan Juventus terhitung di bawah 40%. Di laga ini sendiri, akurasi tembakan mereka hanya 38,46% sementara dalam pertandingan sebelumnya, akurasi tembakan mereka hanya 31%. Padahal, di musim lalu, akurasi tembakan Juventus mampu hingga 45% per pertandingannya.

Dalam wawancaranya kepada Football Italia seusai pertandingan melawan Lazio, Allegri berkata bahwa pertandingan ini masih terhitung sebagai ajang memperkenalkan tim kepada pemain baru.

Jika melihat susunan pemain Juventus saat ini, permasalahan tersebut sebenarnya bisa diatasi jika Allegri mau mengubah skuatnya. Pasalnya ada beberapa pemain yang memiliki catatan baik soal dua kelemahan di atas.

Soal mengkreasikan peluang misalnya. Miralem Pjanic yang belum diturunkan sama sekali oleh Allegri di Serie A musim ini tampaknya bisa menjadi solusi. Pada musim lalu, bersama AS Roma, Pjanic mampu membuat rata-rata 2,06 peluang per laganya atau 68 kali dalam 33 penampilan.

Sementara untuk kebuntuan di depan gawang, Gonzalo Higuain, yang dua kali dimasukkan tampaknya harus mulai diberi kepercayaan tampil sedini mungkin. Sebab, Allegri tentu tidak mau jika penyerang Juventus hanya bisa menyentuh bola 13 kali dalam 65 menit. Pada musim lalu, Higuain yang mendapatkan gelar pencetak gol terbanyak Serie A mampu membuat 58% tembakannya tepat sasaran. Lebih banyak daripada Dybala (55%) dan Mandzukic (48%).

***

Kendati mampu mendapatkan tiga angka, di laga ini Juventus masih terlihat memiliki persoalan yang di antaranya adalah penyelesaian akhir dan pengkreasian peluang. Oleh karena itu, mau tidak mau, Allegri harus segera mencari solusi agar rentetan hasil buruk di awal musim lalu tidak terjadi di pertandingan setelah ini.

Sementara bagi Lazio, kehilangan Antonio Candreva yang pergi ke Inter jelas begitu terasa. Pasalnya dalam laga ini mereka begitu terlihat menggantungkan peran sebagai pengkreasi serangan kepada Felipe Anderson. Jika masalah tersebut mampu mereka pecahkan, ambisi untuk melihat elang terbang tinggi di atas Roma tampaknya akan terjadi di musim ini. (hnm) – KONTAK PERKASA FUTURES