PT KONTAK PERKASA FUTURES – Keberhasilan Portugal menjuarai Piala Eropa lalu tak lepas dari strategi bertahan plus serangan balik mematikannya. Tapi ada kalanya Portugal justru dimakan taktiknya sendiri.

Portugal berhasil meraih trofi mayor pertamanya di Piala Eropa lalu usai mengalahkan Prancis di final dengan skor 1-0. Kemenangan yang tak lepas dari kritik mengingat permainan Portugal terbilang membosankan.

Pasalnya Portugal hanya bikin sembilan gol dari tujuh pertandingan berlalu atau rata-rata 1,1 gol pertandingan. Tapi apapun kritik yang datang, Portugal toh tetap keluar sebagai juara.

Tapi, Portugal pun harus merasakan ketika mereka berada di posisi sebaliknya, menghadapi lawan yang bertahan total dan menyerang lewat counter attack.

Itulah yang terjadi saat Portugal melakoni laga perdana Kualifikasi Piala Dunia 2018 zona Eropa di kandang Swiss, Rabu (7/9/2016) dinihari WIB tadi. Portugal tampil dominan dengan 27 attempts tapi hanya empat yang on target.

Sementara dari total sepak pojok pun, Portugal punya 11 berbanding satu milik Swiss. Tapi Swiss main efektif dengan bikin dua gol dari total delapan attempts sepanjang pertandingan.

Pada akhirnya Portugal kalah 0-2 sekaligus menuntaskan rekor tak terkalahkan Santos dalam 14 pertandingan resmi sebelumnya.

“Swiss benar-benar dalam dominasi kami di 20 menit awal tapi mereka mencetak gol lebih dulu dan dari situ, mereka memakai taktik yang biasa Portugal pakai serta bertahan dengan baik,” ujar pelatih Portugal Fernando Santos di Reuters.

“Lawan kami lebih pragmatis dan lebih efisien,” sambungnya.

Kekalahan ini membuat tak lantas membuat Seleccao das Quinas mati karena mereka masih punya sembilan laga tersisa. Selain itu di sesi kualifikasi Piala Eropa lalu pun diawali Portugal dengan susah payah dan diwarnai pemecatan pelatih.

“Saya yakin kami akan mulai menang, menang, dan menang… dan saya sangat yakin kami akan lolos ke Piala Dunia,” tuntas Santos. (hnm) – KONTAK PERKASA FUTURES