Fakta Ilmiah Balita Bertahan Hidup 3 Hari Peluk Jasad Ayah Tanpa Makan | KONTAK PERKASA FUTURES

KONTAK PERKASA FUTURES SURABAYA – Seorang balita berusia 14 bulan ditemukan tengah memeluk ayahnya, sayangnya ayahnya telah meninggal dunia dan dalam kondisi membusuk. Diperkirakan ayahnya telah meninggal sejak tiga hari sebelumnya.

Menurut laporan, balita tersebut ditemukan dalam kondisi lemas karena dehidrasi selama beberapa hari tidak makan dan tidak minum. Bagaimana bisa seorang balita bertahan hidup selama tiga hari tanpa asupan apapun?

Menurut dokter anak yang juga konselor laktasi, dr Wiyarni Pambudi, SpA, IBCLC, tubuh bayi mengandung air yang lebih banyak dibanding orang dewasa, yakni sekitar 70-80 persen yang artinya bayi membutuhkan cairan yang lebih banyak. Namun ternyata, bayi punya kemampuan kompensasi.

“Mungkin di fase-fase awal dia nangis. Kalau sudah di titik dia harus ngerem karena tubuhnya ada kompensasi harus mengurangi energi, ya sudah dia akan pasif (tidak banyak aktivitas-red),” katanya saat dihubungi, Kamis (15/8/2019).

Dijelaskan oleh dr Wiyarni, mekanisme kompensasi terjadi apabila dalam periode tertentu tidak mendapat asupan makan dan minum, maka sistem metabolisme akan berubah, mengatur diri agar kebutuhan energi jadi lebih hemat.

“Biasanya bisa terlihat kalau orangnya mengurangi aktivitas. Kalau anak-anak mungkin sudah nggak main, karena tubuhnya mengalami kompensasi,” jelasnya.

Namun ketika balita dalam kondisi tak makan dan minum berhari-hari, tubuhnya bisa mengalami perubahan fungsi untuk bertahan hidup. Bila berlanjut, tentu bisa fatal hingga meninggal. Menurut dr Wiyarni, peluang bertahan hidup akan sangat bergantung dari kondisi si anak.

Pada dasarnya, anak usia 1-3 tahun punya selera makan yang rendah. Dalam 1-3 hari tubuhnya mampu beradaptasi tanpa makan dan minum. Bila dehidrasi berlangsung berhari-hari, bukan tak mungkin seorang anak dapat meninggal. Ada beberapa faktor yang mempengaruhi.

“Anak yang gemuk dengan anak yang beratnya ideal, itu lebih mudah dehidrasi anak yang gemuk,” imbuh dr Wiyarni.

Meski demikian, tetap ada risiko yang harus diwaspadai. Karenanya, ada pertolongan pertama yang harus diberikan ketika bayi tersebut ditemukan. Salah satunya mengecek jalan napas.

“Kita punya protokol ABC, Airway Breathing Circulation. Harus dilihat dulu pernapasannya, itu ditolong dulu,” jelas dr Wiyarni.

Menurutnya, seseorang yang mengalami dehidrasi juga mengalami gangguan sirkulasi. Rehidrasi dengan infus atau minuman bisa diberikan tergantung tingkat dehidrasinya. Setelah itu, baru dicek dampak kekurangan asupan makan.

“Kalau mungkin dia kena hipoglikemi karena kekurangan asupan makanan, ya itu harus dilihat. Gula darahnya turun, karena puasa berhari-hari biasanya turun,” tandas dr Wiyarni. KONTAK PERKASA FUTURES