Jelang Tahun Baru Imlek, IHSG dibuka Menguat ke Level 6,619.13 | KONTAK PERKASA FUTURES

KONTAK PERKASA FUTURES SURABAYA – Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) pagi ini, menjelang libur Imlek, dibuka menguat 0,38% ke level 6.619,13 poin. Sentimen positif dari bursa global dan regional tampaknya membuat gairah investor meningkat untuk bertransaksi meskipun sebagian besar sudah mulai mengendorkan transaksi karena menyambut Hari Raya Imlek.

Bersamaan dengan bursa saham domestik, indeks Nikkei menguat 0,96%, indeks Kospi menguat 1,52%, indeks Hang Seng naik 1,37%, dan indeks Strait Times menguat 0,81%. Sementara itu, beberapa bursa saham di Asia hari ini libur, seperti bursa Korea Selatan, China, Taiwan dan Vietnam.

Indeks saham di Wall Street pagi dini hari tadi, mengalami penguatan yang cukup signifikan. Dow Jones naik 1,03%, S&P 500 menguat 1,34%, dan Nasdaq bertambah 1,86%.

Laju inflasi yang lebih tinggi mengonfirmasi ada perbaikan ekonomi AS. Dampaknya akan ada penyesuaian terhadap kebijakan moneter, yaitu kenaikan suku bunga acuan. Selain itu, imbal hasil (yield) obligasi pemerintah AS naik hingga mencapai 2,91% untuk tenor 10 tahun.

Penguatan pasar saham Wall Street dipicu kenaikan harga saham-saham sektor keuangan, yang sejatinya sangat sensitif terhadap kenaikan suku bunga. Harga saham Goldman Sachs naik 2,76%, JPMorgan Chase naik 2,31%, Visa naik 2,1%, dan American Express naik 1,77%.

“Pasar melakukan apa yang biasanya mereka lakukan. Tembak dulu, bertanya kemudian,” ujar Phil Orlando, Chief Equity Strategist dari Federated Investors yang berbasis di New York, seperti dikutip dari Reuters.

Menurut Joseph LaVorgna, Kepala Ekonom Natixis untuk Benua Amerika, keberanian investor didorong oleh inflasi inti yang masih di bawah target. Pada Januari inflasi inti AS tercatat 1,8% YoY, di bawah target The Fed yang sebesar 2%. Ini memberi harapan bahwa suku bunga tidak akan dinaikkan secara agresif.

Setelah beberapa hari terpuruk, harga minyak bangkit dan menguat hingga ke 2%. Harga batu bara bahkan melonjak sampai 8%. Timah dan tembaga juga mengalami penguatan yang lumayan.

Kenaikan harga si emas hitam dipicu oleh pernyataan Menteri Energi Arab Saudi Khalid al-Falih. Menurutnya, sebaiknya pasokan minyak tetap dibiarkan sedikit ketat dan Organisasi Negara-negara Pengekspor Minyak (OPEC) jangan buru-buru untuk mengakhiri kesepakatan pemotongan produksi. Al-Falih berpendapat, langkah ini baik untuk menyeimbangkan pasar minyak dunia.

Investor juga perlu mencermati rilis dua data penting hari ini, yaitu ekspor-impor dan suku bunga acuan Bank Indonesia (BI) 7 days reverse repo rate. Konsensus yang dihimpun CNBC Indonesia menyebutkan pertumbuhan ekspor Januari 2018 diestimasi sebesar 7,5% YoY sementara impor diekspektasikan tumbuh 18,5% YoY. Walau impor tumbuh jauh lebih cepat ketimbang ekspor, tetapi neraca perdagangan diramalkan tetap bisa mencatat surplus US$ 325 juta.

Sementara konsensus untuk suku bunga acuan adalah tetap dipertahankan di 4,25%. Dari 16 ekonom dan analis yang terlibat dalam survei CNBC Indonesia, seluruhnya kompak memperkirakan suku bunga acuan belum diubah.

Sementara hal yang bisa menjadi faktor risiko di antaranya adalah yield obligasi negara AS yang anehnya bergerak searah dengan pasar saham. Yield obligasi negara AS tenor 10 tahun mencapai 2,91%, tertinggi sejak Januari 2014.

Meski sentimen yield obligasi tidak mempan di Wall Street, tetapi tetap harus diwaspadai. Pasar bisa saja gugup sewaktu-waktu dan kembali memindahkan dana ke obligasi.

Ambil untung alias profit taking juga masih menjadi risiko yang membayangi IHSG. Secara year to date, IHSG masih mencatatkan penguatan 3,76%. KONTAK PERKASA FUTURES

Sumber : cnbcindonesia