Membandingkan Terobosan Dokter Terawan dan Dokter Warsito di Dunia Medis | KONTAK PERKASA FUTURES

KONTAK PERKASA FUTURES SURABAYA – Kasus yang menimpa dr Terawan Agus Putranto pencetus terapi ‘cuci otak’ mengingatkan pada kasus Warsito Purwo Taruno yang populer dengan rompi antikanker. Awalnya dr Terawan dan Warsito dianggap membawa terobosan medis, tapi kemudian muncul kritik yang mempertanyakan dasar ilmiahnya.

Ketua Akademi Ilmu Pengetahuan Indonesia (AIPI) Profesor Dr Sangkot Marzuki mengatakan kedua kasus tersebut terjadi karena selama ini tidak ada pihak yang berani mengambil keputusan.

“Kompleksitas kita itu di Indonesia tidak berani mengatakan hitam itu hitam, putih itu putih,” kata Prof Sangkot di Kantor AIPI, Komplek Perpustakaan Nasional, Jakarta Pusat, Kamis (5/4/2018).

Berkaca dari kasus dr Terawan dan Warsito, sebetulnya apa sih yang terjadi pada keduanya? Berikut rangkuman detikHealth dari berbagai sumber.

1. Riset

Rompi antikanker dikembangkan oleh Warsito sejak tahun 2000. Ia memiliki laboratorium riset kanker sendiri dan membuka klinik bagi masyarakat yang ingin mencoba rompinya sekaligus membantu penelitian lebih jauh.

Sementara itu dr Terawan mengembangan prosedur ‘cuci otak’ untuk para pasien stroke. Memanfaatkan teknologi Digital Substraction Angiography (DSA) dan heparin dr Terawan sudah menggunakan metode ini sebagai bahan penelitian disertasi S3-nya.

Dalam hal ini Warsito dan dr Terawan tersandung karena metode mereka belum diuji secara klinis. Manajer Riset dan Pengabdian Masyarakat Fakultas Kedokteran Universitas Indonesia (FKUI) dr Budi Wiweko beberapa waktu lalu pernah mengatakan bahwa uji klinis adalah riset khusus untuk memastikan bahwa suatu alat atau terapi kesehatan aman dan efektif.

“Inovasi di bidang kedokteran memang aturannya lebih ketat dibanding di bidang teknologi karena bidang kesehatan berhubungan dengan nyawa manusia. Di bidang kesehatan nggak bisa seorang peneliti bilang sudah bisa menciptakan alkes dan obat kenapa kok dokter nggak pakai. Nggak bisa, karena ada yang namanya uji klinis,” papar dr Iko.

2. Latar Belakang Pendidikan

Warsito adalah seorang insinyur elektro lulusan Shizuoka University. Ketika dirinya melakukan terapi kanker dan menerima pasien dirinya dianggap telah melanggar aturan karena hal tersebut seharusnya hanya bisa dilakukan oleh tenaga kesehatan.

Sementara itu dr Terawan adalah dokter spesialis radiologi. Tentu bukan tanpa sebab jika perhimpunan dokter saraf gencar mengkritik sepak terjangnya dalam mengembangkan terapi untuk stroke. Walau tidak secara langsung berkaitan dengan terapi yang dikembangkan dr Terawan, Majelis Kehormatan Etik Kedokteran (MKEK) menyebut Kepala RSPAD Gatot Soebroto tersebut telah melakukan pelanggaran kode etik berat.

3. Sanksi

Pada kasus Warsito dirinya akhir 2015 lalu diminta Kementerian Kesehatan (Kemenkes) untuk menutup klinik dan tidak lagi menerima pendaftaran pasien baru. Risetnya lalu dievaluasi dan difasilitasi oleh pemerintah (Kemristekdikti dan Kemenkes) dilanjutkan di rumah sakit.

Pada kasus dr Terawan, MKEK memutuskan untuk memecat sementara keanggotaannya di IDI. Menurut Sekretaris MKEK dr Pukovisa Prawiroharjo ia bisa kembali setelah menjalani mekanisme internal yang masih dirapatkan.

Ketika seorang dokter dipecat dari IDI menurut dr Pukovisa itu berarti hak, kewajiban, dan wewenangnya sebagai dokter tidak berlaku lagi.

Semoga Informasi diatas bisa Menambah Wawasan kita semua. KONTAK PERKASA FUTURES

Sumber : health.detik