Rekomendasi Mingguan Emas 25 – 29 Oktober 2021: Bisa Mencapai $1,830? | KONTAK PERKASA FUTURES

KONTAK PERKASA FUTURES SURABAYA – Setelah sempat turun tajam dari ketinggian di $1,800 ke $1,774 pada minggu sebelumnya, pada minggu lalu harga emas berhasil naik kembali ke $1,792 oleh karena meningkatnya kekuatiran akan inflasi yang problematik dan melemahnya dollar AS ditambah dengan postur tehnikal grafik yang baik. Namun emas sulit untuk menembus $1,800 kecuali yields obligasi AS terus turun.

Ancaman meningkatnya inflasi tetap menjadi pendukung yang paling ekstensif bagi pasar emas dengan para analis melihat potensi bagi harga emas untuk mencapai resistance yang kritis di sekitar $1,830 dalam jangka pendek.

Pada Jumat pagi minggu lalu, harga emas terdorong naik ke ketinggian selama enam minggu dengan meningkatnya inflasi. Namun emas jatuh secara signifikan $30 hanya dalam hitungan menit setelah kepala Federal Reserve Jerome Powell membuat pernyataan yang mencoba untuk menenangkan ancaman naiknya inflasi. Powell mengulangi outlooknya bahwa the Fed masih dalam jalur untuk mengurangi pembelian obligasi bulanan sebelum berakhirnya tahun ini dan menambahkan bahwa pembelian obligasi bulanan diperkirakan akan berakhir pada pertengahan 2022.

Namun, tidak semua analis yakin bahwa Powell dan bank sentral AS akan bisa memecahkan persoalan meningkatnya ekspektasi inflasi. Kenaikan di dalam yields treasury AS kemungkinan memang memberikan indikasi bahwa ekspektasi inflasi akan menjadi semakin tidak terikat dan dengan aktifitas ekonomi mulai melambat, Federal Reserve akan memiliki peralatan yang terbatas sehingga tidak punya kemampuan untuk membawa inflasi dalam kontrol. Resiko dari stagflasi terus meningkat dan ini akan baik bagie mas dan semua komoditi yang lain.

Inflasi saat ini digerakkan oleh disrupsi yang berkelanjutan dari rantai supply global. Krisis supply bisa berlangsung lebih lama daripada yang semula diperkirakan yang berarti inflasi akan tetap tinggi. Tidak ada yang bisa dilakukan oleh Federal Reserve untuk membetulkan rantai supply. Ini bukanlah inflasi yang digerakkan oleh permintaan dari para konsumen.

Walaupun tetap positip secara relatif mengenai aktifitas ekonomi AS, Powell memberikan catatan adanya peningkatan resiko bahwa disrupsi rantai supply bisa berlangsung lebih lama daripada yang diperkirakan, yang akan membuat inflasi tetap tinggi selama tahun 2022.

Inflasi juga merupakan problem global. Minggu lalu data dari Kanada menunjukkan bahwa harga konsumen naik ke level tertinggi dalam 13 tahun pada bulan lalu.

Di Inggris, tekanan inflasi tetap tinggi dan di atas dari target Bank of England selama dua bulan berturut-turut.

Sementara tekanan inflasi terus mendukung harga emas, para analis mencatat bahwa dinamika telah berubah sedikit dengan metal berharga sekarang menghadapi kompetisi baru, terutama dari Bitcoin.

Minggu lalu, harga Bitcoin naik ke rekor terbaru di atas $65,000 per ons. Rally dari matauang digital ini bersamaan dengan peluncuran produk ETF Bitcoin yang baru.

Sementara itu pasar ekuitas juga diperdagangkan dekat dengan rekor ketinggian yang baru, yang juga menjadi kompetisi yang kuat terhadap emas. Namun momentum ini bisa dengan cepat bergerak kembali ke emas apabila emas bisa menembus ke atas $1,835 per ons.

Selain Bitcoin dan pasar saham, dollar AS juga bisa menjadi badai yang memukul emas. Naiknya kembali indeks dollar AS bisa memukul harga emas turun. Indeks dollar AS telah berhasil bertahan di support kritikal 93.50.

Event yang signifikan pada minggu ini bagi emas dan dollar AS adalah pertemuan kebijakan moneter ECB. Jika Presiden ECB Christine Lagarde bersikap dovish kembali dan merendahkan outlook mengenai inflasi, hal ini bisa melemahkan euro terhadap dollar AS, yang pada gilirannya berakibat negatif bagi emas.

Dari AS, event penting minggu ini antara lain adalah GDP AS kuartal ketiga. Di kuartal kedua ekonomi AS berkembang dengan cepat di 6.7% karena ekonomi kembali dibuka, namun setelah itu kembali dilakukan restriksi-restriksi karena naiknya kembali kasus Covid – 19 sehingga ekonomi melambat. Pertanyaannya adalah seberapa melambatnya?

Selain angka GDP, investor juga menantikan laporan “personal consumption and investment” yang kemungkinan akan tetap tinggi.

Sebelum keluarnya data GDP AS, angka Durable Goods Orders untuk bulan September menarik perhatian, karena akan menjadi salah satu data yang diperhitungkan di dalam penghitungan kalkulasi GDP.

Yang perlu dicatat lagi adalah rilis S&P Case Shiller House Price Index yang kemungkinan bisa mencapai 20% YoY. Ketakutan akan menggelembungnya real-estate AS bisa memicu the Fed untuk menaikkan tingkat bunga bahkan ketika pemulihan ekonomi belum selesai. Hal ini bisa mendorong naik dollar AS.

“Support” terdekat menunggu di $1,783 yang apabila berhasil dilewati akan lanjut ke $1,775 dan kemudian $1,767. “Resistance” terdekat menunggu di $1,801 yang apabila berhasil dilewati akan lanjut ke $1,815 dan kemudian $1,835. KONTAK PERKASA FUTURES

vibiznews.com