Resep Cokelat di Balik Kesuksesan Keluarga Superkaya Italia | KONTAK PERKASA FUTURES

KONTAK PERKASA FUTURES SURABAYA – Anda pasti tahu dengan cokelat Nutella? Tapi tahukah Anda sejarah dari salah satu merek cokelat paling terkenal di dunia tersebut?

Di wilayah pinggiran Alba, sebuah kota di Italia, terdapat sebuah benteng besar kokoh berdiri. Terdapat penjaga berseragam di depan pintu gerbangnya. Tapi tempat itu bukan tempat semacam fasilitas nuklir, melainkan pabrik cokelat.

Pabrik cokelat besar itu merupakan milik Ferrero, si pembuat produk cokelat ternama seperti Nutella, Tic Tac, Mon Chéri, dan Kinder. Pabriknya begitu modern yang menggunakan teknologi robotik.

“Kami melakukan segalanya dengan begitu serius untuk menghadapi persaingan yang begitu ekstrim,” kata Chairman Ferrero SpA, Giovanni Ferrero, dilansir dari Forbes, Selasa (22/1/2019).

Berkat displin dan kerja keras, pria berusia 53 tahun itu mampu membangun sebuah kerajaan bisnis. Pada 2017 perusahaan itu berhasil mengantongi penjualan sebesar US$ 12,5 miliar.

Total nilai kepemilkan perusahaan itu mencapi US$ 31 miliar. Sementara Giovanni sendiri memiliki jumlah harta US$ 22,5 miliar atau sekitar Rp 315 triliun (kurs Rp 14.000) yang menjadikannya orang terkaya ke-37 di dunia.

Awal mula kesuksesannya sebenarnya berawal dari kakeknya yang bernama Pietro. Kakeknya itu mulai membangun bisnis cokelat pada 1947 di Italia. Awal mula berkembang, usaha tersebut dijalankan dengan begitu hati-hati tanpa utang dan akuisisi.

Kisah Perusahaan Ferrero dimulai dalam bayang-bayang Perang Dunia I. Pada tahun 1923, setelah bertugas di militer, Pietro Ferrero membuka toko kue di Dogliani, di barat laut Italia. Tahun berikutnya ia menikahi Piera Cillario berusia 21 tahun, yang melahirkan seorang putra bernama Michele, pada tahun 1925.

Keluarga itu menghabiskan dekade berikutnya berpindah antar kota. Kemudian, pada tahun 1938, ia pindah ke Afrika Timur dengan rencana untuk menjual biskuit kepada pasukan Italia yang dikirim ke sana oleh Mussolini. Upaya itu gagal, jadi Pietro kembali ke rumah.

Pada saat Perang Dunia II dimulai, keluarga mereka menetap di bukit-bukit yang tenang di Alba. Di sanalah Pietro menemukan kesuksesan terbesarnya.

Atas dorongan adik laki-lakinya, ia mulai bereksperimen dengan alternatif yang lebih murah daripada cokelat, sebuah kemewahan yang tidak terjangkau di Italia pada masa perang. Dia menemukan campuran molase, minyak kemiri, mentega kelapa dan sedikit bubuk kakao, yang dibungkusnya dengan kertas lilin dan dijual di sekitar kota. Dia menyebut itu sebagai campuran Giandujot, atau gianduiotto, sebuah penganan serupa yang telah dipopulerkan di bawah Napoleon.

“Dia mengalami sindrom penemu. Dia akan bangun kapan saja, pergi ke laboratorium dan tepat di tengah malam akan membangunkan istrinya, berkata, cicipi ini, inii resep yang bagus,” kata Giovanni menceritakan sosok kakeknya.

Lalu Pietro bekerja sama dengan saudaranya, yang juga bernama Giovanni, yang memiliki latar belakang makanan grosir, dan mereka membentuk perusahaan bernama Ferrero pada tahun 1946.

Pietro nyaris tidak melihat bisnisnya berkembang pesat sebelum dia meninggal karena serangan jantung pada tahun 1949, di usia 51 tahun. Tetapi dasarnya telah diletakkan. Pada tahun yang sama Ferrero meluncurkan versi Giandujot yang lebih mudah disebarkan, yang akhirnya menjadi Supercrema, pendahulu Nutella.

Setelah perusahaan produsen cokelat Ferrero dibentuk, tahun 1949 diluncurkanlah produk cokelat bernama Supercrema, pendahulu Nutella.

Dengan beberapa trik pintar, keluarga Giovanni memperpanjang daya tarik Supercrema. Mereka menjualnya di wadah-wadah seperti toples dan pot sehingga pelanggan dapat menggunakan kembali wadah itu. Alih-alih mendistribusikannya melalui grosir, perusahaan menggunakan pasukan tenaga penjualan yang langsung pergi ke toko untuk membantu menjaga harga tetap terjangkau.

Pada tahun 1957, pada usia 52, Giovanni; saudara Pietro menderita serangan jantung yang fatal. Perusahaan diwariskan kepada seorang jandanya. Baru berusia 33 tahun, Michele Sang Anak pun diangkat menjadi kepala perusahaan.

Jika ada orang yang layak mendapatkan pujian untuk ekspansi global Ferrero, itu adalah Michele. Tepat sebelum kematian ayahnya, dia membujuk kerabatnya untuk memasuki pasar Jerman.

Perusahaan itu merombak bekas pabrik rudal Nazi dan mulai memproduksi permen. Mereka menemukan pijakan cepat dengan cokelat berisi minuman keras yang disebut Mon Chéri, yang diperkenalkan pada tahun 1956. Jerman pun tertarik.

Berikutnya dia mulai ekspansi ke Belgia dan Austria dan segera ke Prancis. Ferrero menghancurkan pasar-pasar baru dengan iklan-iklan.

Pada tahun 1962, Italia mulai bangkit, dan Michele, Sang anak pun memutuskan untuk meningkatkan kualitas Supercrema-nya. Negara itu akhirnya bisa membeli cokelat asli. Jadi dia menambahkan lebih banyak cocoa dan cocoa butter ke dalam campuran produknya.

Kemudian, ketika pemerintah Italia bergerak untuk mengatur penggunaan superlatif dalam iklan, yang berpotensi membahayakan nama Supercrema, ia memilih untuk mengubah citra. Timnya merenungkan label yang akan membangkitkan rasa hazelnut dalam bahasa di banyak pasar. Akhirnya, mereka menemukan nama Nutella pada April 1964.

Ekspansi Ferrero berlanjut ke Swiss dan Irlandia dan sampai ke Ekuador, Australia, dan Hong Kong. Produk baru pun diperkenalkan seperti Kinder pada tahun 1968, Tic Tac pada tahun 1969, Ferrero Rocher pada tahun 1982. Kemudian pada tahun 1986, penjualan tahunan perusahaan sudah mencapai 926 miliar lira, atau sekitar US$ 1,5 miliar dolar.

Pada 1997, Michele mulai menyerahkan kendali perusahaan kepada putra-putranya. Perusahaan yang dulunya sangat kecil ini menjadi perusahaan kelas dunia dengan penjualan tahunan sekitar US$ 4,8 miliar.

Praktis sejak lahir, Giovanni Ferrero; anak dari Michele, dipersiapkan untuk menjadi penerus kerajaan cokelat itu. Pada akhir 1970-an, ia dan saudara lelakinya dikirim ke sebuah sekolah asrama di Belgia, seolah-olah untuk melindungi mereka dari Kepemimpinan Italia. Dia tahu bahwa Eropa dengan cepat bergerak menuju satu pasar tunggal, dan dia membutuhkan pewaris di benua itu.

“Itu adalah zaman historis pertama Ferrero menjadi perusahaan Eropa,” kenang Giovanni.

Giovanni belajar pemasaran di AS, kemudian mulai bekerja di Ferrero pada 1980-an. Tugas pertamanya mengurusi Tic Tac di Belgia. Kemudian ia pindah peran ke manajerial di Jerman sebelum belajar pengembangan bisnis di Brasil, Argentina, Meksiko, dan AS.

Sepanjang jalan, Giovanni menguasai hal-hal kecil teknis yang diperlukan untuk menjalankan perusahaan.

Dalam banyak hal, Giovanni mulai meninggalkan pedoman perusahaan untuk fokus pada merek produk asli perusahaan untuk dikembangkan. Dia justru mengejar pendapatan dengan melakukan akuisisi atau perusahaan sejenis.

Dia percaya bahwa lini produk yang ada tidak akan cukup dalam jangka panjang, untuk bersaing dengan rival yang lebih besar seperti Mars, pembuat M&M dan Snickers (penjualan 2017: US$ 23,7 miliar), serta Mondelez pemilik Oreo dan Toblerone (US$ 23 miliar).

Pada 2015 Giovanni membeli chocolatier Inggris Thorntons seharga US$ 170 juta. Itu adalah akuisisi bermerek pertama Ferrero. Pembelian terbesarnya datang pada bulan Maret, ketika ia mengakuisisi bisnis permen Nestlé di AS senilai US$ 2,8 miliar tunai. Ikon Amerika seperti Butterfinger dan BabyRuth sekarang menjadi domain Giovanni.

Kini Giovanni mengantongi harta US$ 22,5 miliar atau sekitar Rp 315 triliun (kurs Rp 14.000). Jumlah tersebut mengantarkannya ke posisi orang terkaya ke-37 di dunia. KONTAK PERKASA FUTURES