PT KONTAK PERKASA FUTURES – Pada kota yang warganya (hampir) semua mendukung Atletico atau Real Madrid, Leganes boleh berbangga atas start mereka di La Liga. Dua laga, mereka belum kalah dan belum kebobolan.

Butarque, Minggu (28/8/2016) dinihari WIB memanggungkan laga derby yang tak pernah sebelumnya dihelat di stadion tersebut. Pada pekan kedua La Liga Primera, Leganes menjamu tim kuat Atletico Madrid.

Seluruh statistik setelah laga tersebut tuntas menunjukkan keunggukan tim tamu. Atletico lebih banyak mengusai bola (63:36), punya prosentase umpan sukses lebih besar (75:61), dan lebih sering melepaskan tembakan (10:6). Tapi saat peluit akhir dibunyikan wasit papan skor masih menunjuk angka 0-0. Tidak ada gol, tapi Leganes adalah ‘pemenang’ dalam pertandingan itu atas suksesnya mengecewakan Atletico.

Kesampingkan dulu soal Atletico yang sedang tampil di bawah performanya pada awal musim ini. Juga Leganes yang tampil ekstra defensif, yang membuat Marca bereloroh bahwa ‘penjual tiket di Leganes ikut bertahan’.

Terlepas dari faktor tersebut, Leganes tetap sangat pantas bangga dengan apa yang sudah mereka raih dari laga tersebut. Hasil 0-0 itu melanjutkan start oke klub yang bermarkas 11 km di sisi selatan Kota Madrid itu.

Di pekan perdana, yang menjadi pertandingan pertama sepanjang sejarah Leganes di La Liga Primera, kemenangan berhasil didapat atas Celta Vigo. Padahal ketika itu Leganes berstatus tim tamu. Sebuah gol Víctor Díaz di menit 75 memberi poin petrtama sekaligus kemenangan pertama klub tersebut di La Liga.

“Kami tidak punya tembakan (ke target) dan kami tidak menciptakan masalah. Kami harus berkembang secara signifikan. Kami sama sekali tidak bermain baik,” ucap pelatih Leganes, Asier Garitano, usai pertandingan terang-terangan mengakui inferioritas timnya atas Atletico.

Leganes adalah salah satu dari tiga tim yang dapat promosi ke La Liga Primera musim ini. Satu hal yang membuat cerita mereka lebih menarik dibanding Alaves dan Osasuna adalah fakta bahwa Leganes tak pernah sebelumnya masuk level teratas sepakbola Spanyol.

Sepanjang sejarah klub, yang baru berumur 88 tahun, Leganes lebih banyak berkutat di divisi regional (level 4-6 dari strata sepakbola Spanyol). Mereka baru merasakan bermain di Segunda Division pada 1993/1994. Dengan kondisi seperti itu maka laga derby terbesar yang sebelumnya pernah dihadapi Leganes adalah menghadapi Getafe. Itupun lebih banyak dengan Getafe B.

Leganes mengalami lompatan performa yang luar biasa setelah Garitano datang melatih di tahun 2013. Pelatih 46 tahun itu pernah bercerita betapa Leganes tidak memiliki lapangan untuk berlatih sementara lapangan kandang mereka terdapat banyak lubang. “Kami cuma punya tujuh pemain (saat itu) – dan tiga di antaranya tidak saya inginkan,” cerita Garitano di Guardian.

Kemajuan besar Leganes sebenarnya dimulai sejak 2009, saat klub tersebut dibeli oleh Felipe Moreno Romero. Romero lantas menjalankan klub tersebut bersama istrinya María Victoria Pavón, dan melakukan investasi sebesar tiga juta euro untuk memperbaiki skuat dan tim. Sementara anak laki-laki mereka, Felipe, ditunjuk menjadi Direktur Olahraga. Mereka bertiga, plus pelatih Garitano, membuat Leganes dapat dua promosi dalam tiga tahun dan akhirnya bisa merasakan berlaga di La Liga Primera.

Masuk ke La Liga Primera bahkan tidak menjadi target Leganes. Tidak ada beban yang dirasakan Martín Mantovani dkk, yang mungkin justru membantu mereka justru bisa dapat tiket ke level teratas liga. “Kami cukup bahagia berada di Divisi Dua,” cetus Garitano.

Leganes tidak mudah puas. Setelah finis di posisi 10 pada musim 2014-15, mereka akhirnya menuntaskan liga di posisi dua dan dapat tiket ke La Liga. Meski cuma dua kali menang di 12 pertandingan pertama, Leganes kemudian bangkit dan meraih banyak poin.

Satu kemenangan dan satu hasil imbang membuat Leganes saat ini duduk di posisi tujuh klasemen, cukup aman dari prediksi banyak pihak di mana mereka akan berkutat di zona degradasi. Leganes kini juga jadi satu-satunya tim yang belum pernah kebobolan. Perjuangan mereka di La Liga jelas masih sangat panjang. Tapi setidaknya Leganes sudah membuat 185.000 warga kotanya luar biasa bangga.

“Jangan terjaga; mimpi itu terus berlanjut,” tulis sebuah spanduk yang dibentangkan suporter Leganes di Stadion Butarque, akhir pekan kemarin.  (hnm) – KONTAK PERKASA FUTURES