Luis Enrique dan Tantangan untuk Melanjutkan Warisan BarcaBarcelona – Ada tiga pelatih yang menangani Barcelona selepas kepergian Pep Guardiola: Tito Vilanova, Gerardo Martino, dan kini Luis Enrique. Ketiganya punya misi yang sama: Menjaga stabilitas Barca sekaligus mempertahankan progresi mereka sebagai sebuah tim.

Vilanova adalah yang paling dekat dengan filosofi dan permainan Pep. Namun, eranya sebagai pelatih Barca terganggu oleh masalah kesehatan sehingga dia pun urung maksimal menangani tim asal Catalan tersebut.

Vilanova akhirnya mundur dan tak kuasa melawan penyakit di tubuhnya. Vilanova meninggal dunia dan kematiannya diakui Pep –sebagai seorang sahabat– akan selalu menghantui seumur hidupnya.

Selepas Vilanova, datanglah Martino. Dia ditunjuk lantaran dinilai memiliki pemahaman yang sama akan filosofi permainan Barca. Sayang, Martino tidak bisa membawa Barca ke level yang lebih tinggi atau setidaknya mempertahankan kebiasaan memberikan trofi. Ini berbeda dengan Vilanova yang masih bisa mempersembahkan gelar La Liga pada 2012/2013.

Martino pun hanya bertahan satu musim setelah “hanya” mempersembahkan trofi Piala Super Spanyol. Tongkat estafet pun diserahkan kepada Enrique yang sama seperti Pep merupakan mantan pemain Barca.

Beda Enrique dan Pep hanyalah Enrique bukanlah didikan asli La Masia. Enrique menghabiskan waktu lima tahun dalam karier sepakbolanya dengan Real Madrid sebelum akhirnya bergabung dengan Barca pada tahun 1996. Dia direkrut oleh Bobby Robson, pelatih Barca ketika itu.

Oleh karenanya, Enrique mengakui bahwa Robson banyak memengaruhinya sebagai seorang pelatih. “Dia punya ide yang sangat jelas, suka pemainan menyerang dan filosofinya sangat sederhana,” kata Robson.

Dalam kolom yang ditulis oleh Jonathan Wilson di Guardian, Robson sendiri punya tautan erat dengan filosfi Barca. Dia pernah dilatih oleh Vic Buckingham, pelatih asal Inggris yang pernah menangani Ajax dan Barcelona, ketika masih bermain untuk West Bromwich Albion.

Buckingham banyak meletakkan dasar untuk kemudian dikembangkan oleh Rinus Michels dan Johan Cruyff di Ajax dan Barcelona. Tidak heran jika kemudian Michels, Cruyff, dan kemudian Robson bisa amat terikat dengan filosofi Barca secara tidak langsung.

Kini, tampuk tanggung jawab untuk melanjutkan filosofi yang sudah dijaga turun temurun itu ada di tangan Enrique. Dia pernah menangani Barca B sebelum akhirnya gagal bersama AS Roma, di mana niatnya untuk menanamkan filosofi permainan gaya Barca tidak berjalan lancar.

Pada musim 2013/2014, dia mengantarkan Celta Vigo finis di urutan kesembilan La Liga untuk kemudian kembali ke Barca. Berbeda dengan Roma, Enrique kini berada di dunia yang dia kenal sendiri. Sehingga, menarik apakah gayanya akan berjalan sepenuhnya kali ini.

Enrique amat setia dengan gaya Barca dan senang dengan formasi 4-3-3. Kendati, dia juga amat fleksibel dalam mengembangkan tim dan disebut-sebut tertarik dengan formasi lain seperti 3-5-2 atau bahkan 4-3-1-2. Ada kabar, dia berniat untuk menduetkan Neymar dan Luis Suarez sementara Lionel Messi ditempatkan sebagai penyerang lubang di belakang keduanya.

Menurut bek Barca, Martin Montoya, Enrique telah memberikan banyak kebebasan kepada pemainnya dan meminta para pemain sayapnya untuk lebih banyak menusuk ke tengah. Namun, berbicara soal metode latihan, Montoya menyebut bahwa Enrique masih sama seperti ketika menangani Barca B.

“Ada banyak intensitas, latihan fisik, latihan dengan bola, dan latihan taktik. Sama seperti ketika di Barca B,” ujar Montoya.

Artikel: kontakperkasa futures.