PT KONTAK PERKASA FUTURES – Saya kok ya membayangkan suasana Manchester United saat ini seperti sekelompok anak pramuka yang sedang mengadakan persami di alam terbuka.

Pada sesi malam keakraban di tengah api unggun — bukankah itu sesi yang paling ditunggu-tunggu dari setiap persami? — duduk di batu paling tinggi kakak penggalang senior bernama Zlatan Ibrahimovic. Rambutnya dikuncir, ujung lengan bajunya dilipat dua kali. Duduknya agak mengangkang, memperlihatkan betul posisinya di antara adik-adik siaga-nya yang rata-rata bersila di tanah.

Agak jauh dari lingkaran, tapi tidak jauh-jauh amat, duduk mengamati sambil sesekali bersedekap, kakak pembina yang pada tulisan di dada tertera ‘Jose Mourinho’.

“Kalian tahu ‘kan,” Kak Zlatan mulai mendongeng. “Gua paling nggak suka sama Guardiola. Memangnya dia siapa? Emangnya enak dicuekin, gak pernah diajak ngomong? Dia pikir dia yang paling hebat, hah? Yang paling hebat… tuh orangnya.”

Zlatan menunjuk pada Mourinho. Yang ditunjuk cuma senyum sedikit. Lebih mirip menyeringai sih.

Juan Mata tertawa. Ander Herrera, Luke Shaw, dan Memphis Depay bertepuk tangan, teringat jadwal derby Manchester pada 10 September nanti.

“Terus, terus?” celetuk Marcus Rashford dengan mata berbinar-binar. Jesse Lingaard menggeser posisi duduknya, lebih ke depan, karena lututnya terus bergesekan dengan Anthony Martial.

“Ya gitu deh. Kalian sudah baca buku gua ‘kan? Baca dooong….” jawab Zlatan.

Semuanya tertawa, kecuali Mourinho yang tetap menyeringai.

“Gimana sih, Kak, rasanya jadi raja di Prancis?” kali itu yang bertanya Marcos Rojo.

“Raja? Sori lah yaw. I’m not a king. I am God.”

Lagi-lagi semua tertawa berderai-derai.

“Bro, ente kenapa sih doyan banget nendang-nendangin orang? Ane liat di Youtube, asli kasihan banget sama Cassano. Tampangnya itu lho,” cetus Marouane Fellaini, sambil ngusap-ngusap rambut kribonya yang berkali-kali kena abu api unggun.

“Hahahaa.. Apa ya. Nggak tahu, Bro. Udah bawaan orok kali,” jawab Zlatan.

Lalu kakak penggalang senior ini ngalor-ngidul, menceritakan (tentu saja) kejayaan-kejayaannya. Dan adik-adik siaga-nya menyimak penuh antusias.

“Maklumin ajalah. Orang tua emang senengnya bernostalgia,” bisik Michael Carrick sambil cekikikan kepada Bastian Schweinsteiger, kakak senior yang lain.

Hampir satu jam Zlatan mendongeng. Kadang serius, kadang setengah serius, kadang terdengar belagu, kadang sengak, lalu ketawa-ketawa lagi. Semua sepertinya menikmati.

“Kalo lo sejago itu, Bro, kenapa gak pernah juara Liga Champions?” Paul Pogba mendongak sok angkuh, sok meniru Zlatan, sambil melempar sebatang ranting ke kobaran api unggun.

Plak!

Zlatan mengeplak kepala Pogba, yang dari awal sengaja (kepingin) duduk di sebelah seniornya itu. (Ini soal eksistensi dong.)

Rame lagi. Heboh betul malam itu. Penuh tawa, penuh keakraban.

“Silakan, Om Wayne, Bastian. Kalo soal Liga Champions, daku serahkan ke yang udah pengalaman deh,” jawab Zlatan sambil tersenyum.

Dan Rooney pun menceritakan pengalamannya. Semua mendengarkan. Dia adalah kapten.

**

Kedatangan Ibrahimovic ke Old Traffod amatlah wajar jika disyukuri semua anggota “Setan Merah”. Figur se-pede dia dan Mourinho adalah yang paling dibutuhkan MU setelah tiga musim meredup. Dua kali tidak lolos ke Liga Champions dalam tiga musim, pasti tak pernah dibayangkan oleh engkong Sir Alex Ferguson.

Saya membayangkan, sebetapapun “menakutkan” imej karakter Ibrahimovic, justru itulah yang dibutuhkan Daley Blind dkk. untuk memulai lagi.

“Saya bukan arogan. Saya cuma percaya diri,” ujar orang itu suatu ketika.

Ibra pun sudah semakin matang dan jauh lebih dipahami orang-orang. Sebelum buku otobiografinya booming, mungkin kebanyakan orang mengartikan laki-laki Swedia berdarah Balkan itu memang sombong minta ampun. Tapi sekarang, boleh jadi ucapan-ucapan tingginya tidaklah senegatif harfiahnya.

“Hanya tuhan yang tahu,” ucap Ibra saat ditanya seorang wartawan tentang kans Swedia melawan Portugal di play-off Piala Dunia 2014.

“Hmm, agak susah untuk menanyakan itu ke Dia (tuhan),” sahut si reporter.

“Kamu sedang bicara dengan dia sekarang,” cetus Ibra.

Percakapan itu harus Anda lihat video-nya, karena di ujung kalimat semua orang yang mendengarnya tertawa, termasuk Zlatan sendiri.

***

“Oke, boys. Cukup. Ini sudah jam 3. Saatnya masuk tenda,” Mourinho akhirnya bersuara.

Acara api unggun dinyatakan selesai oleh “sang pembina”. Semua manut. (hnm) – KONTAK PERKASA FUTURES