PT KONTAK PERKASA FUTURES – Untuk kali pertama, Jamie Vardy dkk akan merasakan bulu remang mereka berdiri saat mendengarkan anthem Champions League diperdengarkan. Di Brugge, Belgia, Leicester akan menjalani debutnya di Liga Champions.

Setelah 132 tahun berdiri, Leicester di tengah pekan ini akan menorehkan sebuah sejarah yang belum pernah mereka punya sebelumnya. The Foxes, dengan statusnya sebagai juara Premier League musim lalu, akan menjalani laga pertama mereka di Liga Champions.

Momen besar tersebut akan dicatat di Jan Breydel Stadium, Kamis (15/9/2016) dinihari WIB, saat mereka melawat ke Club Brugge.

“Saat kami berdiri di lorong pemain itu akan terasa aneh mendengarkan lagu tema Liga Champion, tapi saya mengantisipasi itu. Ini adalah pertandingan yang akan disaksikan oleh semua penggemar sepakbola dan kami tidak hanya akan berada di sana untuk menorehkan angka-angka,” ucap Danny Drinkwater di ESPNFC.

Leicester harus melupakan kejutan besar dan cerita dongeng yang dibuat saat menjuarai Liga Inggris musim lalu. Kesiapan mereka menghadapi Liga Champions perdananya kini banyak dipertanyakan. Skuat besutan Claudio Ranieri meraih hasil yang jauh dari meyakinkan di empat pertandingan pertama mereka di Inggris. Leicester sudah menelan dua kekalahan, termasuk dihajar Liverpool 1-4 di akhir pekan kemarin. Padahal di sepanjang musim lalu, di semua kompetisi yang diikuti, mereka hanya kalah lima kali. Termasuk tiga yang diderita di Premier League (dua kali oleh Arsenal dan sekali di tangan Liverpool).

Leicester sebenarnya dalam posisi diuntungkan pada musim debutnya di Liga Champions. Keberhasilan menjuarai Liga Inggris membuat mereka ditempatkan di Pot 1, bersama para unggulan. Itu menghindarkan mereka dari pertemuan dengan klub-klub yang secara tradisional punya kekuatan besar di Eropa macam Real Madrid, Barcelona, Bayern Munich dan Barcelona. Hasilnya Liecester tergabung di Grup G bersama FC Porto, Club Brugge, dan Copenhagen.

Peluang Leicester lolos ke babak 16 besar tidak lantas mudah, tapi setidaknya juga terbuka cukup lebar. Keberhasilan meraih poin penuh dalam lawatan ke Brugge besok lusa akan jadi pembuka jalan The Foxes melangkah ke knock out. Laga dengan Brugge juga akan jadi tolok ukur kekuatan (dan kesiapan mental) mereka berlaga di Eropa.

Masalah besar Leicester, selain tren buruk di Liga Inggris, adalah soal pengalaman main di Eropa. Jamie Vardy dkk yang masih sangat hijau di kompetisi Eropa akan berharap banyak pada petuah dan bekal yang diberikan Ranieri. Buat pelatih asal Italia itu, ini menjadi musim keenamnya berkompetisi di Eropa, yang dia lakukan bersama enam klub berbeda.

Di sisi lain, Brugge tercatat belum pernah lagi mengalahkan klub Inggris setelah kemenangan 1-0 atas Chelsea di Piala Winners 1995 – di mana ketika itu The Blues belum menjadi kekuatan besar Inggris. Musim lalu di fase playoff, Brugge dihajar dengan agregat 7-1 oleh Manchester United.

“Ini kesempatan pertama buat klub ini bermain di Liga Champions, dan kami tidak ingin ini menjadi kesempatan terakhir. Jadi akan kami tunjukkan pada mereka kemampuan kami. Ini kesempatan besar buat kami sebagai individu dan tim. Saya tidak berpikir kami harus mengubah pendekatan kami do Eropa — itu adalah tugas tim lain untuk menghalangi apa yang akan kami mainkan,” lanjut Drinkwater. (hnm) – KONTAK PERKASA FUTURES