PT KONTAK PERKASA FUTURES – Ujian awal Zinedine Zidane di musim ini berhasil ia atasi dengan baik. Menghadapi Sevilla di Lerkendal Stadion, Trondheim, Rabu (10/8) dini hari WIB, dalam laga Piala Super Eropa, Real Madrid sukses menang dengan skor 3-2.

Hebatnya, Real Madrid sempat tertinggal lebih dulu 1-2 hingga 10 detik jelang laga berakhir. Namun, semangat pantang menyerah yang ditunjukkan oleh Sergio Ramos dkk membuat mereka mampu bangkit dan membalikkan skor jelang babak kedua perpanjangan waktu berakhir.

Tampil dengan skuat seadanya, Madrid berhasil unggul di babak pertama melalui Marco Asensio. Ketenangan Sevilla saat ditekan Madrid berhasil membuat mereka keluar dari situasi sulit dan justru membuat mereka memimpin 2-1 lewat dua gol dari Franco Vazquez dan penalti Yevhen Konoplyanka.

Mimpi pelatih anyar Sevilla, Jorge Sampaoli, akhirnya harus musnah, usai Madrid mampu menyamakan kedudukan di menit 90 lewat Sergio Ramos. Mimpi Sevilla harus benar-benar musnah ketika Madrid mampu kembali menambah skor di menit ke-119 lewat Dani Carvajal.

                                                              [Susunan Pemain Kedua Kesebelasan]

Upaya Real Madrid Merusak Permainan Sevilla dengan Pressing

Tampil tanpa sejumlah nama, seperti Keylor Navas, Pepe, Toni Kroos, Gareth Bale, dan Cristiano Ronaldo, tak membuat Zidane berupaya mengubah pakem timnya. Pelatih asal Spanyol tersebut tetap memainkan formasi favoritnya, 4-3-3.

Marco Asensio dan Lucas Vazquez diplot oleh Zidane untuk menjadi pengganti Ronaldo dan Bale di posisi penyerang sayap. Sementara penyerang yang didatangkan kembali dari Juventus, Alvaro Morata, tampil sebagai ujung tombak.

Sevilla yang ditangani oleh Sampaoli tampil dengan formasi 3-4-2-1, dengan nama Steven Nzonzi dan Vicente Iborra sebagai poros ganda. Sementara, tiga pemain baru, Luciano Vietto, Franco Vazquez, dan Hiroshi Kiyotake dimasukkan oleh Sampaoli ke dalam starting line up.

Tampil dengan beberapa nama pemain muda membuat Zidane berani melakukan terobosan di laga ini. Salah satu terobosan terbaik yang dilakukan oleh Zidane di laga ini tentu adalah pilihannya memainkan pressing tinggi.

Upaya tersebut dilandasi oleh pilihan Sampaoli yang begitu sering meminta anak asuhannya melepaskan umpan dekat ketika kiper mendapatkan bola. Dengan pressing ini Sevilla kesulitan membangun serangan.

Beberapa kali pemain Madrid berhasil memanfaatkan situasi sulit yang didapatkan Sevilla ini. Tidak hanya itu, beberapa kali pemain Madrid mampu melepas sepakan ke gawang yang diawali oleh kesalahan Sevilla saat menerima tekanan. Gol pertama Madrid yang dicetak oleh Asensio pada menit ke-21 pun berawal dari pressing yang dilakukan oleh Casemiro terhadap pemain Nzonzi di area permainan Sevilla.

Sevilla Berupaya Tekan Sisi Kiri Pertahanan Madrid

Sevilla menyamakan kedudukan jelang berakhirnya babak pertama. Berawal dari umpan Mariano, Luciano Vietto berhasil mengirim umpan silang ke kotak penalti, dan pada akhirnya berhasil dieksekusi dengan baik oleh Franco Vazquez.

Bermain imbang di babak pertama membuat Sevilla berupaya mengubah permainan di babak kedua dengan cara melakukan pergantian pemain. Adil Rami masuk menggantikan Daniel Carrico di menit ke-51, lalu memasukkan Yevhen Konoplyanka menggantikan Vietto, dan terakhir memasukkan Matias Kranevitter untuk menutup permainan tak memuaskan Iborra.

Gol ini menunjukkan bahwa sisi kiri pertahanan Madrid yang diperkuat oleh Marcelo ibarat memiliki sisi negatif dan positif. Terlihat bagaimana Marcelo terlalu cepat mengambil keputusan untuk menutup Mariano, yang berada di dekat Asensio. Tak hanya cepat mengambil keputusan, Marcelo juga kerap terlalu naik untuk membantu serangan dan membuat Ramos harus bekerja keras demi menutup sisi yang ia tinggalkan.

Marcelo juga layak disalahkan atas gol kedua Sevilla yang lahir dari penalti Konoplyanka. Gol ini sendiri diawali oleh Marcelo yang memberikan ruang kepada Vitolo untuk masuk diantara dirinya dan Sergio Ramos, yang pada akhirnya Ramos dengan sengaja melanggar Vitolo di dalam kotak penalti Madrid.

             [Target umpan Sevilla yang lebih banyak diarahkan ke sisi kiri pertahanan Madrid]

Real Madrid Butuh Modric

Madrid memulai laga dengan memainkan tiga gelandang, Casemiro, Mateo Kovacic, dan Isco Alarcon. Namun, sepanjang jalannya laga, hanya Casemiro yang tampil sesuai harapan Zidane. Sementara itu, keberadaan Kovacic dan Isco, justru malah tidak begitu membantu Madrid menyerang.

Kovacic yang diplot sebagai pengganti Modric untuk membagikan bola tidak mampu tampil seapik penampilan seniornya di timnas Kroasia tersebut. Beberapa kali terlihat Kovacic tak melakukan recovery bola dan memberikan umpan terobosan istimewa layaknya Modric. Tak heran, berdasarkan data WhoScored, selama 72 menit Kovacic berada di lapangan, ia hanya membuat 35 sentuhan bola.

Tidak hanya Kovacic yang disorot, pemain muda lain, Isco, juga mendapat teriakan negatif dari pendukung Madrid. Diharapkan tampil bagus untuk membuktikan apakah dia layak masuk skuat utama Madrid musim ini, Isco justru menampilkan permainan di bawah standar miliknya.

Kurang maksimalnya dua pemain di lini tengah begitu membuat Madrid kesulitan mengembangkan permainan maupun saat mendapatkan peluang emas untuk lini kedua. Tak heran, utamanya, di babak kedua, dua bek Madrid, Marcelo, dan Dani Carvajal, begitu sering naik untuk mengisi pos di lini kedua.

Zidane tampaknya tak benar-benar puas dengan penampilan keduanya. Di pertengahan babak kedua, Kovacic dan Isco pada akhirnya diganti oleh Zidane dengan memasukkan nama Luka Modric dan James Rodriguez.

Masuknya Modric dan James langsung mengubah permainan Madrid. Modric berhasil memerankan peran sebagai gelandang pembagi bola dengan baik, sementara James berhasil mengubah cara menyerang kesebelasannya yang di awal pertandingan begitu kacau.

Keberadaan Modric dan James di lapangan pun berhasil membuat Madrid langsung memimpin jalannya pertandingan. Pasalnya, sebelum keduanya berada di lapangan, Sevilla unggul penguasaan bola dengan perbandingan 62% berbanding 38%. Sementara, saat keduanya berada di lapangan, Madrid langsung mendominasi permainan dengan 55% berbanding 45%.

Asensio dan Vazquez Tampil Impresif

Real Madrid sempat ditakutkan bakal bermain di bawah performa terbaik di laga ini. Absennya Ronaldo dan Bale disebut sebagai salah satu alasan yang mendukung pernyataan tersebut. Ketakutan tersebut muncul di awal pertandingan ini sebab dua pemain yang menggantikan keduanya, Asensio dan Vazquez tak tampil benar-benar baik.

Anggapan tersebut salah mulai menit ke-21 saat Asensio mencetak gol. Gol tersebut berhasil membuktikan pemain 20 tahun tersebut mampu mengatasi tekanan di laga ini dan justru berhasil mengubah pertandingan menjadi ajang unjuk gigi baginya. Gol yang ia cetak pada menit ke-21 pun menjadi gol pertamanya untuk Real Madrid, dalam pertandingan resmi pertama, serta dalam pertandingan big match pertama.

Tidak hanya Asensio, Lucas Vazquez juga layak disebut sebagai bintang di laga ini. Assist yang dilepaskan kepada Sergio Ramos 10 detik jelang laga berakhir membuat nyawa El Real di pertandingan ini dapat terus berlanjut. Peran Vazquez juga semakin terlihat saat Timothee Kolodziejczak mendapatkan kartu merah pada menit ke-93.

Tak heran, kedua pemain ini layak disebut sebagai nyawa Madrid saat menyerang di laga ini, apalagi Alvaro Morata, yang baru didatangkan dari Juventus, tampil tak sesuai ekspektasi yang diharapkan Zidane dan pendukung Madrid.

Kesimpulan

Keberhasilan Madrid menjuarai Piala Super Eropa memang begitu istimewa. Pasalnya, hal ini mereka lakukan saat mereka bermain tanpa beberapa nama pemain kunci, seperti Keylor Navas, Pepe, Toni Kroos, Cristiano Ronaldo, dan Gareth Bale. Kemenangan ini juga disebut sebagai upaya Real Madrid yang berhasil mengatasi jeda antara skuat utama dengan pemain cadangan.

Meskipun demikian, saat kompetisi sudah berjalan nanti, Zidane harus mengupayakan agar duet bek sayapnya bermain disiplin. Dalam laga ini terlihat, Marcelo dan Carvajal, begitu sering naik untuk membantu lini kedua yang tak optimal.

(hnm) – KONTAK PERKASA FUTURES