PT KONTAK PERKASA FUTURES – Mari kita sepakati saja: Terlepas dari pro dan kontranya, transfer Paul Pogba ke Manchester United adalah transfer pemain paling menarik musim panas ini.

Tentu saja, segala pergunjingan dan perdebatan berujung pada satu hal, yakni harganya. Nilai 89 juta poundsterling yang dikeluarkan ‘Setan Merah’ membuatnya menjadi pemain dengan nilai transfer termahal di dunia. Dengan mendapatkan Pogba, seorang pemain berbakat plus berharga mahal, United baru saja membeli sebuah Ferrari.

Terlihat menyenangkan, memang –apalagi buat pendukung United. Walaupun, kalau mau ditilik lebih jauh, sebenarnya United lebih dulu membuat kesalahan dengan membiarkan Pogba pindah ke Juventus empat tahun silam. Kala itu, Pogba memutuskan untuk tidak memperpanjang kontraknya lantaran ingin mendapatkan kesempatan bermain secara reguler. United pun hanya mendapatkan kompensasi sebesar 800.000 pounds dari Bianconeri.

Bagi yang kontra, ini tentu saja terlihat konyol. United melepas pemain yang pernah bermain untuk akademi mereka dengan harga nyaris cuma-cuma, tetapi membelinya dengan amat mahal hingga memecahkan rekor transfer dunia. Tapi, anggap saja begini: United melepas Ferrari mereka untuk dipoles menjadi lebih “wah” lagi.

Pogba sendiri mengutarakan analogi yang amat menarik. Dalam wawancaranya dengan MUTV, gelandang asal Prancis itu menyebut dirinya seolah-olah baru pulang dari liburan panjang dan kini sudah kembali ke rumahnya. United bukanlah klub yang asing buat Pogba. Ia kenal mantan rekan-rekannya di tim U-21 dulu dan juga staf-staf di AON Training Complex. Tak heran, ketika ia datang untuk melakukan tes medis pada awal pekan ini, para staf menyambutnya dengan semringah, selayaknya menyambut anggota keluarga yang kembali setelah lama bepergian jauh.

Sebagai sebuah “Ferrari”, Pogba jelas saja tidak bisa digunakan secara asal-asalan. Jika sistem permainan yang digunakan United tidak pas, kemampuan terbaiknya justru tidak akan keluar sama sekali. Contohnya sudah ada, yakni ketika Pogba memperkuat tim nasional Prancis di Piala Eropa 2016.

Pada perhelatan empat tahunan tersebut, masyarakat Prancis memperdebatkan sebuah bahasan taktikal yang menarik: Apakah Prancis harus tetap bermain dengan 4-3-3 atau mengubah bentuk menjadi 4-2-3-1? Kedua formasi tersebut bisa memberikan dampak berbeda terhadap dua orang pemain di dalam tim, yakni Pogba dan Antoine Griezmann.

Ketika bermain dengan 4-3-3, lini tengah Prancis diisi oleh Pogba, Blaise Matuidi, dan N’Golo Kante. Sementara, lini depan diisi oleh Dimitri Payet, Olivier Giroud, dan Griezmann.

Dengan formasi demikian, Kante diplot sebagai jangkar sehingga membuat Pogba ataupun Matuidi bebas dan leluasa untuk naik membantu serangan. Di Juventus dulu, Pogba juga pernah bermain di posisi dan peran serupa. Dengan adanya Andrea Pirlo, ia dan Arturo Vidal diberikan izin untuk bebas bermain ofensif.

Pogba adalah gelandang dengan kemampuan komplet. Ia bisa dimainkan sebagai box-to-box midfielder ataupun sebagai “nomor 10″. Tapi, peran dan posisinya di formasi 4-3-3 Prancis dan Juventus itulah yang dianggap sebagai peran dan posisi terbaiknya.

Ini menjadi dilema ketika pelatih Prancis, Didier Deschamps, dihadapkan pada dua pilihan, yakni mengeluarkan kemampuan terbaik Griezmann atau Pogba. Deschamps akhirnya menjatuhkan pilihan pada yang pertama. Untuk memaksimalkan Griezmann, Deschamps menggesernya ke tengah –di belakang striker– dan bermain dengan 4-2-3-1. Kante dicadangkan, sementara Pogba dan Matuidi dimainkan sebagai double pivot.

Baik Pogba maupun Matuidi akhirnya tidak mampu tampil maksimal. Sebab, menjadi jangkar bukanlah peran terbaik mereka. Ini yang kemudian membuat Pogba “tidak kelihatan” sama sekali menjelang akhir perhelatan Piala Eropa 2016. Imbasnya, label “overrated” dan “overpriced” pun menempel pada dirinya.

Pekerjaan rumah sekarang ada pada Jose Mourinho. Manajer United itu selalu menggunakan formasi 4-2-3-1 sejak pramusim. Namun, dengan kedatangan Pogba, ada kemungkinan Mourinho mengubah formasi timnya.

Ada indikasi kuat bahwa Mourinho bakal menjajal 4-3-3. Beberapa waktu lalu, sebelum Pogba resmi bergabung, pria asal Portugal itu mengatakan bahwa skuatnya tidak punya pemain yang bisa bertahan sebagai “nomor 6″ dan menyerang sebagai “nomor 10″. Lebih lanjut lagi, Mourinho juga mengatakan bahwa dirinya butuh pemain seperti Frank Lampard ataupun Paul Scholes yang bisa datang dengan cepat dari lini kedua untuk menyelesaikan serangan.

Pogba, dengan segala atribut yang dimilikinya –punya dribel bagus, operan akurat, dan gemar melepaskan tendangan dari luar kotak penalti–, cocok dengan profil tersebut.

Terlebih, kini Mourinho punya semua bahan bakunya. Ia bisa menyerahkan posisi gelandang jangkar kepada Michael Carrick ataupun Morgan Schneiderlin. Sementara, Pogba, bersama Ander Herrera, bisa diberikan keleluasaan untuk membantu serangan.

“Kami punya Carrick. Seorang gelandang yang stabil. Satu orang yang bisa bermain di depan para bek. Yang kami butuhkan adalah gelandang kedua,” ujar Mourinho kepada BT Sports.

Pertanyaannya sekarang, jika akhirnya Pogba dimainkan di posisi dan peran tersebut, Mourinho harus berpikir untuk mencari posisi anyar bagi Wayne Rooney. Dalam pramusim hingga Community Shield, Rooney selalu dipasang sebagai “nomor 10″ di belakang striker tunggal.

Ini adalah PR lain yang harus dijawab Mourinho. (hnm) – KONTAK PERKASA FUTURES