PT KONTAK PERKASA FUTURES – Keberhasilan Cristiano Ronaldo juara Piala Eropa 2016 ikut memunculkan nama Lionel Messi. Memang, Messi tak main di Euro. Tapi namanya ikut disebut-sebut terkait statusnya dengan Ronaldo sebagai dua pemain terbaik dunia pada saat ini.

Ronaldo dan Messi adalah pesepakbola yang dalam beberapa waktu terakhir jadi langganan berada di jajaran pemain paling jempolan di dunia. Setumpuk pencapaian dari mereka turut memunculkan perdebatan mengenai siapa yang paling unggul.

Ada berbagai kriteria yang dapat dipilih-pilih dalam argumentasi tersebut, dengan Ronaldo dan Messi juga punya masing-masing pengagum dan barisan pendukung. Apa pun, faktanya tak terbantahkan kalau mereka kini merupakan “dewa” lapangan sepakbola.

Musim panas ini Ronaldo dan Messi juga sama-sama mampu menandai musimnya, bersama klub, dengan trofi. Ronaldo menjuarai Liga Champions bersama Real Madrid, sementara Messi membantu Barcelona meraih titel dobel dengan menjuarai La Liga dan Copa del Rey.

Yang kemudian membedakan adalah ketika mereka berpartipasi untuk tim nasionalnya masing-masing pada turnamen musim panas; Messi di Copa America Centenario bersama Argentina, Ronaldo di Euro dengan Portugal.

Keikutsertaan keduanya di turnamen tersebut menyedot perhatian dunia mengingat rivalitas mereka, juga mengingat fakta bahwa dengan dominasinya di dunia sepakbola Ronaldo dan Messi justru belum bisa mempersembahkan gelar prestisius buat negaranya.

Sebelum tahun ini Messi “cuma” membawa Argentina juara Piala Dunia U-20, medali emas Olimpiade 2008, serta jadi runner-up di Copa America 2007 dan 2015, serta Piala Dunia 2014. Sementara Ronaldo sempat membawa Portugal runner-up Euro 2004.

Di Copa America Centenario, yang berlangsung 3-26 Juni, Messi absen di partai pretama Argentina akibat cedera. Tapi ia sudah bisa main di partai kedua dengan masuk jadi pemain pengganti di menit ke-61. Yang luar biasa, pemain 29 tahun itu langsung unjuk kelihaian dengan mencetak trigol dalam partai pertamanya di ajang itu dalam kemenangan 5-0 atas Panama.

Messi pada prosesnya juga melanjutkan penampilan-penampilan impresifnya dalam mengantar Argentina ke final Copa America Centenario, di antaranya seraya melewati rekor Gabriel Batistuta sebagai topskorer sepanjang masa ‘Tim Tango’.

Sialnya, di partai final Messi tak bisa mencegah timnya kalah adu penalti dari Chile–yang di fase grup sebenarnya sempat dikalahkan 2-1. Hasil ini menambah panjang kegagalan Messi di partai final turnamen besar bersama Argentina.

Usai pertandingan itu Messi yang kecewa berat, dan belakangan terus diganggu permasalahan pajak, pun mengisyaratkan bakal pensiun dari timnas Argentina. Itu memicu serangkaian respons dari berbagai kalangan, termasuk di antaranya Ronaldo.

“Saya ikut terluka melihat air mata Messi,” kata Ronaldo seperti dilansir surat kabar AS dan Mundo Deportivo. Saya harap ia masih akan kembali ke timnas karena mereka membutuhkannya.”

Fokus lalu beralih sepenuhnya ke sepak terjang Ronaldo di Piala Eropa, yang kick-off 10 Juni lalu dan resmi berakhir Senin (11/7/2016) dinihari WIB.

Ronaldo memulai turnamen ini tidak dengan mulus. Saat Portugal mengawali dengan hasil seri 1-1 lawan Islandia, Ronaldo jadi sorotan setelah menyebut lawan telah bermain dengan mentalitas tim kecil yang sudah sedemikian puas dengan hasil seri.

Sorotan tidak menyenangkan kembali didapatkan pesepakbola 31 tahun tersebut setelah Portugal berimbang 0-0 dengan Austria di laga kedua. Ronaldo belum bisa mencetak gol di turnamen setelah membuang peluang emas dari titik putih. Teriakan “Messi”, sebagai bentuk cibiran kepada Ronaldo dari suporter Austria, juga turut memanaskan pertandingan tersebut.

Pun demikian Ronaldo kemudian menjawab kritikan di laga ketiga; dua gol dan satu assist darinya membantu Portugal meraih hasil seri 3-3 lawan Hongaria untuk mengamankan tiket lolos ke fase gugur sebagai salah satu tim peringkat tiga terbaik turnamen.

Pada prosesnya Ronaldo turut membantu Portugal melewati satu-persatu tim lawan sampai akhirnya menembus partai final lawan tuan rumah Prancis. Di menit ke-25 laga tersebut, Ronaldo meneteskan airmata ketika harus ditandu keluar–dan pada akhirnya digantikan. Adegan itu mengingatkan momen 12 tahun lalu saat sosok yang sama terisak saat kalah dari Yunani di pentas yang sama.

Akan tetapi, aksi Ronaldo tak berhenti sampai situ saja. Dari luar lapangan permainan, di tepi lapangan, ia terus menyemangati para rekan-rekan setimnya. Gayanya bahkan sudah seperti asisten pelatih dadakan saja.

Dengan Ronaldo “beralih tugas”, Portugal pada akhirnya berhasil mengalahkan Prancis di extra time. Perayaan pun dilakukan Portugal dan Ronaldo menjadi sosok sentralnya. Terlepas dari fakta bahwa ia cuma main 25 menit saja di final ini Ronaldo telah berhasil meraih sebuah titel juara bergengsi bersama Portugal, sesuatu yang ia tegaskan sudah lama diimpikan.

Apa yang terjadi dengan Ronaldo di Euro, dan sebelumnya kepada Messi dalam Copa America Centenario, pun sekali lagi memanaskan perdebatan “rutin” dalam dunia sepakbola belakangan ini mengenai siapa dari mereka yang paling jago sedunia. Keberhasilan menjuarai Piala Eropa dengan Portugal dinilai sudah membuat Ronaldo untuk sementara ada di atas Messi yang musim panas ini gagal lagi bersama Argentina.

Namun demikian, tentu saja ada kans kisah persaingan ini–tentu dalam konteks timnas–belum sepenuhnya tamat. Bukan tidak mungkin keberhasilan Ronaldo memacu Messi untuk menarik kembali keinginannya pensiun dan lanjut main untuk memburu trofi Piala Dunia dua tahun mendatang. Saat itu usia Messi akan sama dengan Ronaldo yang akhirnya meraih trofi dengan timnasnya pada tahun ini.

Satu hal yang pasti, Ronaldo tampaknya akan melewati musim panas ini dengan merasa lebih hepi daripada Messi. (hnm) – KONTAK PERKASA FUTURES