PT KONTAK PERKASA FUTURES – Percayalah. Jose Mourinho dan Josep Guardiola pernah akrab dan dekat. Foto di atas menunjukkan hal tersebut, meski itu sudah terjadi nyaris dua dekade lalu.

“Aku masih memiliki foto pelukan itu. Kami memang dekat,” ucap Mourinho beberapa tahun lalu saat ditanya soal relasi dia dengan Guardiola.

Pernyataan Mourinho tersebut bukan merujuk pada foto di atas. Pelukan yang disebut Mourinho adalah saat dia dan Guardiola merayakan keberhasilan Barcelona memenangi Piala Winners tahun 1997. Ketika itu Guardiola masih jadi pemain penting The Catalans, sementara Mourinho adalah asisten pelatih (Bobby Robson). Keduanya, sebagaimana Anda lihat pada video berikut ini, berpelukan sangat emosional.

Banyak hal sudah berubah sejak hari kemenangan Barcelona di Piala Winners itu. Mourinho meninggalkan Camp Nou di tahun 2000 dan bergabung dengan Benfica — untuk kemudian menapaki karier kepelatihannya yang gemilang itu. Sementara Guardiola bergabung dengan Brescia di 2001 dan mulai menjalani momen-momen akhir kariernya sebagai pemain profesional.

Maju tujuh tahun kemudian (tepatnya di musim panas 2008), Guardiola dan Mourinho kembali dipertemukan oleh Barcelona. Manajemen klub ketika itu tengah mencari pelatih baru sebagai pengganti Frank Rijkaard. Bersama pelatih Belanda itu Barca cuma bisa finis di posisi tiga pada musim 2007/2008, setelah setahun sebelumnya juga gagal jadi juara dan harus puas atas status runner up.

Barcelona punya dua kandidat kuat untuk posisi pelatih baru: Mourinho yang tengah menganggur usai berpisah dengan Chelsea dan Guardiola yang berstatus pelatih Barcelona B.

Mourinho dan Guardiola sama-sama melakukan wawancara dengan petinggi klub. Disebutkan kalau keduanya bahkan saling melontarkan pujian. Mourinho malah menjanjikan akan menjadikan Guardiola sebagai assistennya kalau dia terpilih. Sampai titik itu, Mourinho dan Guardiola sepertinya akan kembali bersatu.

Tapi manajemen Barca ternyata justru memilih Guardiola dan mengesampingkan Mourinho. Txiki Begiristain (Direktur Sepakbola Barcelona ketika itu) menilai Mourinho sebagai pelatih top, dia menyanjung pria Portugal itu telah menyiapkan segalanya untuk menduduki kursi pelatih Barcelona. Mourinho bahkan menyiapkan slide presentasi berdurasi tiga jam pada Begiristain dan Marc Ingla (Wakil Presiden Barcelona).

Lalu kenapa Begiristain dan Ingla kompak menolak Mourinho? Dalam pandangan Begiristain, sosok Mourinho terlalu kontroversial. Begiristain tidak ingin Barcelona punya pelatih yang kerap berseteru dengan media. Mourinho dinilai tak sesuai dengan falsafah klub Barcelona, yang mencoba membangun nilai menghargai lawan, tetap terhormat meski kalah, menjunjung harga diri dan konsep-konsep serupa yang justru sangat berseberangan dengan Mourinho. Di sisi lain, sosok Guardiola yang asli Catalan, dinilai bisa mewujudkan itu semua.

“Mourinho akan bisa meraih hasil bagus (di Barcelona), tapi kontroversi yang akan dia hasilkan di internal (klub) dan dengan media tidak sebanding,” cetus Begiristain.

“Dia mempresentasikan PowerPoint soal bagaimana dia akan mengurus segalanya. Tiga jam dihabiskan dan kami berdua berpikir kalau Mourinho bukanlah orangnya. Sepanjang waktu itu dia berbicara 90% dan tidak mendengarkan. Saya tidak suka dengannya,” kisah Ingla.

Dan dari sinilah hubungan Mourinho serta Guardiola memasuki babak baru. Guardiola ditunjuk sebagai pelatih Barcelona, sementara Mourinho menemukan pelabuhan baru saat Inter Milan mengontraknya. Guardiola menyapu bersih gelar juara yang bisa didapat pada musim pertamanya menjadi pelatih Barca. Di Inter Milan, Mourinho juga meraih sukses dengan mengantar Nerazzurri memenangi Serie A dan Piala Super Italia.

Pertemuan pertama Mourinho dengan Guardiola terjadi di Liga Champions musim 2009/2010, di fase grup dan babak semifinal. Mourinho dengan kecerdikannya berhasil meraih kemenangan 3-1 pada leg pertama semifinal di Giuseppe Meazza. Meski kemudian kalah 0-1 di Camp Nou, Inter tetap lolos ke final dan akhirnya jadi juara Liga Champions – menggenapi Coppa Italia dan Scudetto yang sudah diraih.

“Itu kekalahan terindah sepanjang hidup saya. Itu adalah gaya perjuangan berdarah-darah, bukan skill. Kami adalah tim yang terdiri dari para pahlawan,” ucap Mourinho usai laga di Camp Nou.

Perseteruan Guardiola dan Mourinho makin intens selepas tahun 2010, setelah Mourinho menerima pinangan Real Madrid. Tapi Mourinho ternyata lebih sering berada di pihak yang kalah dalam duel dengan Guardiola. Mourinho malah mengawali dengan memalukan perseteruan-peseteruannya dengan Pep saat Madrid dipecundangi 0-5 di El Clasico pertamanya. Total Mourinho dan Guardiola terlibat dalam 11 Clasico, dengan skor akhir Pep menang lima kali, Jose menang dua kali, dan empat laga lainnya berkesudahan imbang.

Tak terhitung berapa kejadian kontroversial Mourinho dengan Guardiola dalam kurun itu. Salah satu yang paling mengejutkan adalah saat Mourinho mengeluarkan jurus mencolok mata Titto Vilanova. Itu belum termasuk komentar-komentar pedas Mourinho, yang beberapa kali membuat Pep terpancing membalasnya.

“Saya tidak akan bilang kami gembira karena kami tidak memenangi Piala Super Spanyol, itu akan membuat saya menjadi seorang hipokrit. Tapi kami bermain seperti pria dan tidak terjatuh di tanah hanya karena sentuhan kecil. Saya sudah diajari untuk bermain sebagai pria dan yang pertama adalah tidak mudah terjatuh,” seru Mourinho usai Madrid kalah dari Barcelona di Piala Super Spanyol 2011.

Cerita panas Mourinho dan Guardiola berlanjut saat mereka sudah mendapat klub baru: Bayern Munich dan Chelsea. Kedua tim bertemu di ajang Piala Super Eropa 2013. Laga tuntas 2-2 sampai perpanjangan waktu, tapi Guardiola bersama pasukan merahnya akhirnya mengangkat trofi juara setelah menang via adu penalti.

Akhir pekan ini perseteruan Mourinho dengan Guardiola akan masuk babak baru. Sejauh ini Guardiola unggul head to head atas Mourinho, tapi dengan keduanya kini menangani tim baru dan pernah bertemu lagi dalam tiga tahun terakhir, banyak hal bisa terjadi antara mereka berdua. (hnm) – KONTAK PERKASA FUTURES