Mengenal Ezra Walian, Pemain Muda Ajax Berdarah Manado KontakPerkasa Futures, Setahun lalu ada berita dari negeri Belanda, seorang remaja keturunan Indonesiaa bernama Ezra Walian dikontrak Ajax Amsterdam. Saat ini remaja berdarah Manado itu sedang berada di negara kelahiran bapaknya.

Berkesempatan bertemu Ezra dan sang ayah, Glenn Walian, di sebuah hotel berbintang di Jakarta tadi malam (2/7). Yang memperkenalkan kami adalah Wide Putra Ananda, president director dari Top Sportainment.

“Hi, nice to meet you,” sapa Ezra sambil tersenyum menyalami saya. Ia berpakaian casual: kaus oblong dan celana jeans. Rambut ikalnya tersisir rapi, sepertinya diberi minyak. Dia bilang, baru dipangkas sedikit.

Lalu saya katakan pada dia, bahwa saya telah melihat video aksinya di Youtube dan saya memuji permainannya –dan rambut gondrongnya. Sambil agak tersipu-sipu dia bilang, “thank you.”

Kemudian saya berkenalan dengan Pak Glenn, yang tampak sangat sopan. “Maafkan, bahasa saya tidak bagus,” katanya sewaktu saya memancing dia untuk berbicara dengan bahasa Indonesia. Dan kami pun ngobrol dengan bahasa Inggris.

“Setahun lalu bahasa Inggris Ezra tidak terlalu bagus. Tapi sekarang dia sudah jauh lebih baik. Ezra sadar, dia perlu mengasah kemampuannya berbahasa Inggris, karena dia punya tekad yang sangat tinggi untuk bisa menjadi pemain bola yang sukses,” timpal Wide.

Glenn lalu bercerita, dia tidak lama tinggal di Manado. Sewaktu berusia tiga tahun, orangtuanya — bapaknya asli Manado, ibunya wanita Belanda — membawanya pindah ke Negeri Kincir Angin, dan kelak menjadi warga negara sana.

“Karena di Belanda kami memang jarang menggunakan bahasa Indonesia, jadinya saya pun kesulitan berbahasa Indonesia,” ujar Glenn.

Obrolan kami berlanjut di meja makan. Setiap pertanyaan saya dijawab dengan penuh perhatian dan ramah oleh bapak dan anaknya itu. Sebelum ke Jakarta mereka lebih dulu singgah di Jonggol, Jawa Barat, selama beberapa hari. Ezra dan Glenn mengunjungi famili Manado-nya di sana, yang mengelola sebuah panti asuhan. Di sana Ezra turut memberi pelatihan sepakbola kepada anak-anak kurang mampu.

“Hampir setiap tahun kami liburan ke Indonesia. Kami berdua sangat cinta pada Indonesia. Sudah dua tahun ini kami juga memberi coaching clinic kepada anak-anak Indonesia, seperti di Manado, Jonggol, dan Bandung. Kami ingin semakin mengenal Indonesia. Dan apa yang kami lakukan ini mendapat dukungan dari Ajax Foundation. Setiap kami datang ke sini, Ajax Foundation menitipkan puluhan jersey Ajax untuk dibagi-bagikan kepada anak-anak di sini. Kami juga membawa banyak sertifikat Ajax yang ditandatangani Ezra dan Frank de Boer,” terang Glenn.

 

Ezra dan keluarganya tinggal di sebuah daerah pinggiran di kota Amsterdam. Darah sepakbola Ezra menurun dari sang ayah, yang pernah jadi pemain bola –berposisi bek kanan– di sebuah klub lokal.

“Dua anak pertama kami perempuan. Awalnya kami merasa sudah cukup. Tapi rupaya saya punya keinginan mendapatkan anak laki-laki, supaya bisa main bola bareng,” kenang Glenn. Dan keinginan itu terkabul ketika ia pun dikaruniai Ezra.

“Kata ibu saya, sejak masih bayi pun saya sudah menyukai bola. Mereka bilang, saya senang sekali meninju-ninju bola yang digantung di ayunan di teras rumah. Waktu saya mulai bisa merangkak, saya paling hobi mengejar bola,” tutur Ezra sambil tertawa.

Dan mungkin Ezra memang dilahirkan untuk bermain bola. Di umur empat tahun ia sudah masuk sebuah klub sepakbola lokal. Tahun demi tahun minatnya pada olahraga ini semakin besar. Di usia sembilan, bakatnya semakin terlihat. Menurut Glenn, Ezra tampak menonjol dari anak-anak seusia dia, dan sering kali bermain dengan anak-anak yang usianya di atas dia.

Dalam sebuah pertandingan, aksi Ezra terpantau seorang pemandu bakat dari akademi AZ Alkmaar. Dia lalu menghubungi Glenn dan meminta Ezra bergabung dengan klub mereka.

“Tapi ayah saya menolak. Alasannya, saya masih terlalu muda dan kurang bagus kalau sering berpindah-pindah klub. Dia juga masih ingin melatih saya secara langsung. Maka dia pun berkata tidak. Waktu tahu ayah menolak, saya sempat menangis. Tentu saja saya sedih, ada klub sebesar Alkmaar meminang, tapi ditolak,” kenang Ezra.

Tapi dasar rezeki, hampir setahun kemudian sang pemandu bakat datang lagi pada Glenn. Kali itu pinangan Alkmaar diterima.

“Saya memang melihat anak saya sangat potensial. Selama berkompetisi di levelnya, dia sudah mencetak ratusan gol. Saya rasa, sudah saatnya dia diberi kesempatan lebih untuk menapak ke jenjang yang lebih tinggi,” sahut Glenn.

Potensi itu sepertinya memang benar adanya. Setelah kurang lebih empat tahun menimba ilmu sepakbola di akademi Alkmaar, Ezra dipanggil ke tim nasional Belanda U-15. Kelak dia bahkan diserahi ban kapten.

 

Episode berikutnya adalah yang ditunggu-tunggu. Saat bermain untuk timnas U-15, Ezra didatangi seorang pemandu bakat dari … Ajax. Kali itu keputusan Ezra dan Glenn lebih mudah: tidaklah mungkin menolak pinangan Ajax, klub yang memiliki akademi terbaik di dunia.

“Sejak kecil mimpi saya memang bisa main untuk Ajax,” ucap Ezra, yang mengaku mengidolai Robin van Persie dan Zlatan Ibrahimovic.

Dan mimpi itu mulai menjadi kenyataan. Setahun kemudian, setelah usianya mencapai 16 tahun, Ezra diberi kontrak profesional oleh klub raksasa tersebut. Kontraknya berdurasi empat tahun. Ada garis nasib yang sudah mulai berubah buat Ezra.

“Maaf, saya tidak bisa memberi tahu Anda berapa gaji anak saya,” ucap Glenn saat saya iseng menanyakan berapa uang yang diterima Ezra dari klubnya itu.

“Di Ajax ada sejumlah peraturan tertentu. Kami tidak membicarakan soal agama, politik, dan salary pemain muda. Karena untuk pemain muda, uang jangan sampai menjadi motivasi. Uang akan datang dengan sendirinya jika si pemain bisa memperjuangkan kesuksesannya sendiri.”

Di musim pertamanya sebagai pemain profesional, Ezra dinilai Glenn tampil baik. Ia menghabiskan sebagian besar pertandingan sebagai starter. Tapi Ezra tahu, dirinya belum jadi siapa-siapa. Jalan buat dia masihlah panjang.

“Kompetisi di sini luar biasa tinggi. Setiap pemain berlomba-lomba untuk menjadi yang terbaik. Lengah sedikit, tempat kita bisa diambil pemain lain,” ujar Ezra.

Maka dia pun menanamkan tekad untuk terus berlatih dan berlatih, bekerja keras dan bekerja keras. Dia tidak mau buru-buru membebani dirinya untuk segera menembus tim pertama. Dia hanya yakin, kalau kesempatan itu harus datang, maka dia akan datang.

“Yang pasti, saya masih punya kontrak dua tahun di Ajax. Saya akan berusaha sekuat tenaga untuk bisa mewujudkan mimpi saya menjadi pemain Ajax. Tapi jika nanti mereka memutuskan tidak akan memakai saya, saya akan mencari klub lain.”

 

Kecintaan pada Indonesia

Pada akun twitter-nya [@ezzie1020] Ezra menuliskan profilnya sebuah kalimat “love Indonesia”. Ya, walaupun lahir dan besar di Belanda, tapi darah Indonesia di tubuh Ezra tak mungkin dipungkiri. Apalagi warga keturunan Indonesia memang sangat banyak di Belanda. Menurut Glenn, teman wanita yang sedang dekat dengan anaknya pun bergaris keturunan Indonesia.

“Momen yang membuat saya sadar bahwa saya adalah orang Indonesia adalah waktu saya mengikuti sebuah turnamen di Singapura, waktu umur saya 14-15 tahun. Di sana saya ternyata cukup mencuri perhatian media. Dari empat pertandingan saya bikin sembilan gol. Ketika ayah saya menyebut kami ada keturunan Indonesia, tiba-tiba wartawan terus menanyakan soal Indonesia. Saya kaget juga. Wow, ternyata Indonesia ….” tutur Ezra.

“Sejak itu saya semakin ingin tahu tentang Indonesia. Saya sering mendengar soal Ambon, karena banyak orang Belanda keturunan sana. Saya juga mendengar cerita tentang Irfan Bachdim yang pernah jadi primadona di sini. Saya juga kenal (Stepano) Lilipaly. Makin hari, saya semakin mencintai Indonesia. Saya sudah merasa menjadi bagian dari negeri ini.”

Tak heran, dalam beberapa tahun terakhir ini ia dan keluarganya hampir setiap tahun selalu menyempatkan diri berlibur ke Indonesia. Selain Jakarta, Jonggol, Bangka, dan Manado, dia juga sudah mengunjungi Bali.

“Bali indah sekali. Tapi di sana terlalu banyak orang Barat. Jadi kurang terlihat Indonesia, hehehe… Menurut saya tempat seperti Jonggol itulah gambaran keunikan Indonesia. Saya senang dengan orang-orang di sini. Mereka ramah-ramah, selalu menyapa. Mereka friendly. Saya suka sekali, saya mencintai Indonesia,” tukas pria kelahiran 22 Oktober 1997 itu.

Rencananya Ezra dan Glenn akan berlibur di Indonesia sampai pertengahan Juli, sebelum dia mulai berlatih lagi di Ajax pada awal Agustus. Rencananya pula Ezra akan ikut memberi coaching clinic di Jakarta pada Sabtu besok di lapangan F Senayan. Di situ dia akan menemani legenda sepakbola Indonesia, Rochi Putiray, yang mengelola SSB bernama R21, yang dihuni anak-anak kurang mampu. Rochi sendiri membiayai hidup sedikitnya 12 anak didiknya.

Oke, Ezra, selamat menikmati liburanmu di sini. Semoga semakin dalam mengenal Indonesia. Semoga sukses dalam meniti karier di Ajax. (hnm)

 

Artikel: kontakperkasa futures.