KUALA LUMPUR, MALAYSIA - OCTOBER 25:  The Moto3 riders start from the grid during the Moto3 race during the MotoGP Of Malaysia at Sepang Circuit on October 25, 2015 in Kuala Lumpur, Malaysia.  (Photo by Mirco Lazzari gp/Getty Images)

KUALA LUMPUR, MALAYSIA – OCTOBER 25: The Moto3 riders start from the grid during the Moto3 race during the MotoGP Of Malaysia at Sepang Circuit on October 25, 2015 in Kuala Lumpur, Malaysia. (Photo by Mirco Lazzari gp/Getty Images)

 KontakPerkasa Futures, Setahun yang lalu otoritas Republik Ceko mengumumkan bahwa mereka telah memperpanjang kontrak gelaran MotoGP di negara mereka sampai tahun 2020, dengan sirkuit Brno sebagai venue-nya.

Pada 15 Juni 2015, Qatar, yang pertama kali menghajat MotoGP di tahun 2004, meneken kontrak baru dengan Dorna, yang berdurasi 10 tahun, bahwa mereka akan melanjutkan event tersebut sampai 2026.

Pun dengan sejumlah negara lain. MotoGP Prancis di LeMans akan berlanjut sampai 2021, MotoGP Belanda di Assen pun umurnya masih sampai 2021.

Yang terbaru, pada Agustus 2014, Dorna meneken kontrak dengan sirkuit Wales untuk menggelar balapan di negara Britania itu, dari 2015 sampai 2019. Padahal sirkuit itu sendiri belum ada, dan baru mulai dibangun per Oktober 2014.

Belakangan Wales menyatakan sirkuitnya tak siap dipakai untuk 2015. Mereka lalu menunjuk pengelola sirkuit Donington Park, untuk “menalangi” jatah mereka menjadi tuan rumah MotoGP Inggris Raya 2015. Namun Donington Park pun mundur karena ada hambatan finansial dengan pihak Wales. Maka di musim itu (dan 2016), seri Inggris Raya dioper ke sirkuit Silverstone. Wales baru akan mulai menjadi tuan rumah per 2017 – dan kontraknya diubah sampai 2024.

Mulai musim 2016 ini sirkuit Red Bull Ring di kota Spielberg, berhasil menggantikan Austin, Amerika Serikat. Austria pun untuk pertama kalinya sejak 1997 — alias 19 tahun kemudian– kembali menggelar Grand Prix motor.

Soal Kans Indonesia

Setelah melakukan serangkaian pertemuan dengan Dorna, pada Oktober 2015 pemerintah mengumumkan bahwa Indonesia akan menggelar MotoGP mulai 2017 sampai 2019. Namun, belakangan rencana itu sepertinya mental lagi, setelah ada pernyataan dari Kemenko PMK Puan Maharani agar MotoGP Indonesia ditinjau kembali. Akan tetapi, kemarin (1/2/2016) Menpora Imam Nahwari mengatakan, dirinya tetap berupaya supaya event tersebut terselenggara.

Jika bicara tentang kesempatan, ini tentu saja kesempatan yang akhirnya datang lagi setelah Indonesia terakhir kali menggelar Grand Prix motor pada tahun 1997. Hampir 20 tahun untuk Dorna kembali memberi penawaran kepada Indonesia, yang masuk daftar tiga besar sebagai pasar sepeda motor terbesar di dunia.

Dengan tarik-ulur yang sedang terjadi di level pemerintah, kesempatan itu menjadi sebuah pertaruhan lagi. Kalau Indonesia tidak mau atau tidak siap, Dorna mungkin saja akan dengan sangat mudah mendapatkan pengganti Indonesia.

Dorna adalah swasta – sebut saja, event organizer – yang berorientasi bisnis. Federasi motosport internasional , FIM, hanya “regulator”, sedangkan MotoGP adalah “gaweannya‘ Dorna. Sama seperti Formula 1 itu milik Bernie Ecclestone, bukan FIA. [Beda dengan Piala Dunia adalah milik FIFA, atau Olimpiade adalah barangnya IOC].

Jika 2017 lepas, apakah proposal itu bisa diajukan lagi di tahun 2018, 2019, dan seterusnya? Tentu saja bisa. Tapi, ada sejumlah hal yang mesti diperhitungkan.

Pertama, negara-negara yang selama ini sudah jadi langganan MotoGP, sebagian besar sudah memperpanjang kontraknya. Sebagai pelanggan, logis apabila Dorna memprioritaskan mereka, sebelum melirik “calon pembeli” baru.

Malaysia, misalnya. Dari pertama kali menjadi tuan rumah GP di tahun 1991 (di sirkuit Shah Alam), mereka hingga kini tetap eksis (di Sepang). Tak perlulah bicara Qatar yang duitnya tak berseri, bahwa mereka berani bayar di muka untuk 10 tahun ke depan.

Kedua, umumnya negara penyelenggara mengambil kontrak dengan Dorna 3-5 tahun. Alasannya, dengan investasi besar yang mereka keluarkan untuk event sebesar MotoGP, proyeksi balik modal tentu saja tidak akan didapat dalam jangka pendek — bisa setahun impas, misalnya, melainkan baru mulai return di tahun kedua, ketiga, dan seterusnya.

Ketiga, persaingan dari negara-negara lain. Seperti pernah diungkapkan Dorna, sedikitnya empat negara sudah antre di belakang: Finlandia, Chile, Kazakhstan, dan Thailand. Isunya Vietnam juga mulai mengincar. Buat Dorna yang notabene pebisnis, “jika Anda tidak mau, ya tidak apa-apa, yang lain masih banyak.”

Alhasil, boleh jadi ini memang momen krusial buat Indonesia jika ingin mengadakan MotoGP dalam waktu dekat (2017) – sebelum semua slot terisi, dan kita harus mengantre beberapa tahun lagi, untuk bersaing dengan calon-calon baru, atau (syukur-syukur) ada negara penyelenggara yang berhenti di tengah jalan – itu pun kalau tidak keduluan direbut oleh peminat yang lain.

Tapi, kalau punya pertimbangan-pertimbangan lain, dan kalau mau bersabar untuk menunggu sekian tahun lagi, yang garansinya pun masih samar-samar, ya itu juga sah-sah saja.

(hnm)

Artikel: kontakperkasa futures.