FBL-ITA-SERIEA-SAMPDORIA-JUVENTUS KontakPerkasa Futures, Memasuki musim 2015/2016, bursa transfer Serie A Italia begitu menggeliat. Sejumlah pemain telah bergabung dengan tim baru, bahkan sebelum bursa transfer dibuka. Serie A tampaknya begitu bersiap menyambut musim yang baru.

Hal ini bisa terjadi mungkin sedikit banyak disebabkan oleh apa yang terjadi pada musim 2014/2015. Pada musim yang menghasilkan 1.024 gol dalam 38 pertandingan itu terjadi beberapa hal mengejutkan, yang membuat bursa transfer musim yang baru lebih menggeliat.

Tak Ada (Duo) Milan di Kompetisi Eropa Musim Depan

Juventus tak lagi ditangani Antonio Conte yang memberikan tiga gelar Serie A dalam tiga tahun terakhir secara beruntun. Kursi kepelatihan pun kemudian berganti pada Massimilliano Allegri. Awalnya banyak yang menyangsikan kekuatan Juventus di bawah kepemimpian Allegri. Juve pun akhirnya tak begitu dijagokan untuk mempertahankan gelarnya karena Allegri dianggap tak memiliki kapabilitas untuk menangani tim sebesar Juventus, setelah gagal bersama AC Milan.

Kandidat kuat peraih Scudetto mengarah pada AS Roma. Musim lalu klub berjuluk “Serigala Ibukota” ini finis diurutan kedua klasemen. Dengan kedatangan sejumlah pemain anyar seperti Kostas Manolas, Jose Holebas, Juan Iturbe, Ashley Cole, David Astori dan mempermanenkan Radja Nainggolan rasanya akan menambah kekuatan Roma untuk mengakhiri liga sebagai peraih kampiun juara.

Namun ternyata perkiraan tersebut meleset. Juventus tetap tampil perkasa di bawah asuhan Allegri sejak awal musim. Hingga akhir musim mereka hanya mengalami 3 kali kekalahan. Permainan Juventus yang selalu konsisten hingga akhir musim membuat mereka akhirnya bisa jadi juara.

Sedangkan Roma hanya mampu menempel ketat Juve di papan atas di awal-awal musim saja. Roma seperti mulai kehabisan bensin setelah melewati pekan ke-15. Mereka mengalami rentetan hasil buruk pada pekan ke-16 hingga pekan ke 27. Dari 12 pertandingan, hanya dua yang berhasil mereka menangkan. Sedangkan 9 pertandingan lainnya berakhir imbang, dan satu kali kalah. Dengan begitu, Roma telah kehilangan 21 poin dari 12 pertandingan di pekan 16-27 tersebut.

Selain kedua klub ini, Genoa menjadi klub yang penuh kejutan dengan berhasil masuk ke papan atas Serie A. Pada akhir musim mereka berada di peringkat 6 klasemen. Bersama eks gelandang Sevilla, Diego Perrotti, Genoa sempat menempati peringkat tiga klasemen pada pekan ke-14. Selain Juve, pada musim ini Genoa juga berhasil mengalahkan AC Milan dan Lazio. Dan pada pekan ke-37, giliran Internazionale Milan yang dikalahkan skuat besutan Gian Piero Gasperini ini dengan skor tipis 3-2.

Namun kegemilangan Genoa akan berakhir sia-sia karena Il Grifone tak lolos untuk mendapatkan lisensi UEFA. Hal ini disebabkan karena markas mereka, Stadion Luigi Ferraris, tak memenuhi standar UEFA. Meski menggunakan stadion yang sama dengan Sampdoria, namun Genoa tidak mencantumkan nama stadion lain sebagai alternatif. Sampdoria menyebutkan nama stadion Sassuolo, Stadion Mapei, sebagai alternatif, sehingga mereka bisa mengikuti kompetisi Eropa.

 

Genoa yang berada di peringkat enam pada akhir klasemen pun terancam takkan bisa berlaga di Liga Eropa musim depan jika banding mereka memenuhi standar UEFA. Peringkat enam sendiri mendapatkan jatah satu tiket Europa League karena dua finalis Coppa Italia, Juventus dan Lazio, berada di zona Liga Champions pada klasemen akhir.

Jika Genoa gagal memenuhi standar FIFA, maka otomatis tiket Liga Europa akan diberikan ke peringkat 7. Dan posisi ini dihuni oleh rival sekota Genoa, Sampdoria. Skuat berjuluk Il Blucherciati ini mengemas 56 poin dan unggul satu poin atas Inter yang berada di bawahnya. Ini artinya, Inter dipastikan tak akan berlaga di kompetisi Eropa pada musim depan.

Tak hanya Inter, AC Milan pun tak akan berlaga di kompetisi Eropa musim depan. Mereka hanya mampu finish di urutan ke-10 dengan hasil 13 kali menang, 13 kali imbang, serta 12 kekalahan. Peringkat 10 bagi AC Milan adalah peringkat terburuk sejak tahun 1997. Dan gagal lolosnya duo Milan ini ke kompetisi Eropa musim depan merupakan yang pertama kalinya dalam 60 tahun terakhir. Karena dari itu, tak heran pada bursa transfer ini keduanya begitu aktif menggaet pemain-pemain anyar untuk memperbaiki reputasi mereka pada musim depan.

Persaingan Dua Tim Roma di Peringkat Dua

Saat Roma tampil buruk pada pertengahan musim, tanpa disadari rival sekota mereka, Lazio, terus mengintai mereka. Pada pekan ke-27 Lazio berhasil memangkas poin dengan Roma yang berada di peringkat dua hingga hanya berjarak satu poin. Padahal pada pekan ke-15, sebelum Roma mengalami rentetan hasil buruk, keduanya berjarak sembilan poin di mana Lazio saat itu tertahan di peringkat lima.

Adalah lima kemenangan beruntun yang diraih Lazio yang membuat mereka berhasil mengejar Roma. Setelah mengalahkan Udinese di pekan ke-23, Palermo, Sassuolo, Fiorentina, dan Torino berhasil mereka jungkalkan. Ketika itu, Felipe Anderson menjadi andalan dengan tiga gol dan dua assist dalam lima pertandingan.

Pada pekan ke-28, Roma dan Lazio sama-sama meraih tiga poin: Roma mengalahkan Cesena, Lazio menumbangkan Verona. Lagi-lagi Felipe Anderson kembali menyumbang gol. Pada pekan berikutnya, Roma kembali berhasil mengamankan peringkat dua dengan mengalahkan Napoli. Sedangkan Lazio masih terus menempel ketat dengan mengalahkan Cagliari 3-1.

Baru pada pekan ke-30, Lazio akhirnya berhasil menyalip Roma. Kemenangan 4-0 atas Empoli dibarengi dengan hasil imbang yang diraih Roma saat menghadapi Torino dengan skor 1-1. Lazio pun untuk pertama kalinya pada musim tersebut berada di peringkat dua, bahkan membuka peluang untuk meraih gelar juara karena masih memungkinkan untuk menyusul Juventus dengan pertandingan sisa yang ada.

 

Persaingan keduanya semakin sengit di pekan ke-31. Lazio takluk dari Juventus sedangkan Roma bermain imbang melawan Atalanta. Dengan begitu kedua tim ibukota ini memiliki poin sama, 58.

Namun perlawanan Lazio harus berakhir pada pekan ke-34. Atalanta kembali menjadi tokoh yang memanaskan persaingan Roma dan Lazio. Lazio bermain imbang 1-1 dengan Atalanta sementara Roma mengalahkan Genoa dengan skor 2-0. Roma pun kembali menempati peringkat dua.

Pada empat pertandingan terakhir, kedua tim meraih hasil sama — dua kemenangan dan dua hasil imbang. Roma pun berhasil memenangkan persaingan dengan menempati peringkat dua, sementara Lazio harus puas di urutan ke-3. Meskipun begitu, hasil tersebut berhasil membuat mereka kembali ke Liga Champions, kompetisi Eropa yang terakhir kali mereka ikut pada delapan musim yang lalu.

Kejutan dari Pendatang Baru

Pada musim 2014/2015 Serie A kedatangan beberapa tim promosi, salah satunya adalah Empoli. Dan ternyata mereka tak terlalu menjadi bulan-bulanan tim-tim lain yang lebih berpengalaman. Bahkan lebih dari itu, Empoli sempat dijuluki giant killer karena beberapa hasil gemilang skuat berjuluk Azzurri ini saat menghadapi kesebelasan papan atas.

Dari 38 pertandingan yang telah dijalani skuat besutan Maurizio Sarri ini, hampir setengahnya (18) berakhir dengan hasil imbang. Dari hasil imbang tersebut, tim papan atas macam Napoli, Inter Milan, AS Roma, Fiorentina berhasil sekali ditahan imbang, bahkan AC Milan dua kali ditahan imbang. Sementara Lazio dan Napoli adalah dua kesebelasan yang pernah ditaklukkan Empoli pada musim lalu.

Meski hanya mampu finis di urutan ke-15, namun hasil tersebut cukup membuat Empoli menjadi salah satu tim yang sulit ditaklukkan. Dan sang arsitek, Sarri, akhirnya direkrut oleh Napoli karena prestasinya bersama Empoli pada musim lalu. Ditambah lagi, ia berhasil memakai tenaga para pemain muda di Empoli.

Selain Empoli, pendatang baru lain yang tampil cukup menyita perhatian adalah Sassuolo. Sassuolo yang musim lalu menjalani musim keduanya di Serie A, berhasil finis di urutan ke-12. Posisi ini meningkat setelah musim sebelumnya mereka hanya finis di urutan ke-17.

 

Duet lini depan mereka, Simone Zaza dan Domenico Berardi, menghasilkan 26 gol, sekaligus menjadi duet terbaik Serie A musim 2014/2015. Berardi sendiri mencuri perhatian Serie A dengan torehan 15 gol dan 10 assist sehingga disebut sebagai pemain masa depan Italia karena usianya yang masih 20 tahun.

Sassuolo memang tak seperti Empoli yang cukup liat saat menghadapi tim besar. Mereka sendiri pernah ditaklukkan dengan skor 7-0 oleh Inter Milan. Namun saat menghadapi tim-tim yang selevel, skuat besutan Eusibio Di Franscesco ini selalu berhasil meraih hasil maksimal.

Sassuolo pun kembali menjadi momok bagi AC Milan seperti musim sebelumnya. Pada musim 2014/2015, Sassuolo sukses menjungkalkan Milan pada dua pertemuannya di liga. Inter pun berhasil mereka kalahkan pada musim ini.

Musim depan Sassuolo masih memungkinkan menjadi salah satu kejutan Serie A. Pasalnya, mereka berhasil mempertahankan Berardi yang setengah kepemilikannya dimiliki Juventus. Sassuolo mempermanenkan Berardi dengan nilai transfer delapan juta euro dan akan kembali menduetkannya dengan Simone Zaza pada musim depan.

***

Serie A musim 2014/2015 memang penuh kejutan. Namun tak ada yang lebih mengejutkan dari yang dialami oleh AC Parma. Kesebelasan yang pernah berjaya pada akhir 90-an ini dinyatakan bangkrut karena terlilit utang yang teramat besar.

Parma yang kesulitan membayar gaji para pemainnya sejak awal musim, harus kehilangan para pemain terbaiknya pada pertengahan musim, karena gaji yang tertunggak. Dengan masalah yang terus merundungi Parma selama musim tersebut, Parma pun harus mengakhiri musim dengan berada di peringkat buncit.

Lebih dari itu, Parma akan memulai kembali perjalanan mereka dengan berkarir di Serie D karena kebangkrutan mereka ini. Mereka harus berjuang dari bawah untuk kembali ke Serie A. Tentunya ini menjadi puncak dari segala kejutan yang terjadi di Serie A pada musim 2014/2015.

. (hnm)

 

Artikel: kontakperkasa futures.