Oh Tidak, LuisJakarta – Hukuman skorsing FIFA kepada Luis Suarez menjadi antiklimaks untuk penyerang hebat Uruguay itu, atas apa yang telah dicapainya di sepanjang musim lalu.

Apa yang tidak hebat dari Suarez di musim 2013/104? Ia mencetak 31 gol dari 33 pertandingan Premier League; tampil sebagai top skorer kompetisi; terpilih sebagai pemain terbaik, baik versi asosiasi pemain maupun jurnalis.

Masih kurang? Dia adalah pemain non-Eropa pertama yang meraih penghargaan PFA Players’ Player of the Year. Ia juga menerima trofi “Sepatu Emas Eropa” sebagai top skorer liga-liga Eropa, yang dibaginya bersama si langganan dari Real Madrid, Cristiano Ronaldo.

Bagi Liverpool, Suarez adalah juru selamat. Gol-golnya –plus kerja samanya dengan Daniel Sturridge– telah mengeluarkan mereka dari empat tahun “kegelapan” tidak mengikuti turnamen antarklub Eropa tertinggi: Liga Champions. Dan “Si Merah” tidak sekadar menggapainya hanya cukup dengan finis 4 besar, melainkan nyaris juara. Maka, finis sebagai runner-up adalah sebuah pencapaian sangat baik untuk sebuah kebangkitan, dan Suarez adalah faktor besar kebangkitan itu — sejajar dengan Brendan Rodgers sang manajer.

Maka aksinya di Piala Dunia sangat ditunggu-tunggu. Uruguay diprediksi tetap kuat, seperti empat tahun lalu ketika mereka menembus semifinal. Duet Suarez-Edinson Cavani terdengar sangat menggiurkan.

Ketika ia disergap cedera saat latihan kurang sebulan sebelum Piala Dunia, publik kaget. Yang tidak menyukai sosoknya pun seakan-akan tidak rela. Dia seperti ucapan Ibrahimovic tentang dirinya sendiri: “Apa enaknya nonton Piala Dunia tanpa Zlatan?” Uruguay tanpa Luiz Suarez di Piala Dunia, ibarat sayur tanpa garam. Kira-kira demikian.

Sepertinya “falsafah garam” itu memang berlaku untuk skuat La Celeste. Di laga pertamanya melawan Kosta Rika, Uruguay takluk. Cavani mencetak gol pembuka lewat tendangan penalti, tapi ia tidak menemukan Suarez di sisinya, karena tandemnya itu belum pulih betul. Di akhir laga Uruguay kalah 1-3.

Lalu “jagoan datang belakangan”. Di pertandingan kedua yang lebih penting dan bergengsi –karena lawannya adalah Inggris– Suarez bisa main, dan langsung menjadi starter. Kita tahu apa yang terjadi: Uruguay menang 2-1, dan Suarez memborong kedua gol timnya.

Di partai ketiga Uruguay dan Suarez masih harus bertemu lawan tangguh, Italia. Sebagian masih lebih menjagokan Gli Azzurri. Tapi lihat lagi apa yang terjadi: Uruguay menang 1-0 dan memulangkan Andrea Pirlo dkk. lebih cepat. Uruguay lolos ke babak knockout.

Ironisnya, pesta tiba-tiba terhenti. Suarez menggigit bahu belakang Giorgio Chiellini. Oh, tidak. Betapapun timnya membela, setiap pembelaan itu selalu kalah dengan video dari berbagai sudut, yang merekam aksi “instingtif” Suarez. Ketimbang untuk mengurusi apakah bola sudah melewati garis gawang atau tidak, teknologi (visual) lebih ampuh untuk menangkap momen-momen “langka” seperti gigitan Suarez.

Apa boleh buat, bahkan kelakuan itu sampai mengundang opini para psikolog, bahwa alam bawah sadarlah yang mendorong Suarez untuk melibatkan gigi di lapangan. Ada faktor kejiwaan yang mesti dikendalikan oleh dia. Tapi, apa yang telah terjadi, ya telah terjadi. Oh tidak, Luis. Not again. Tiga kali menggigit –pertama waktu masih di Ajax, dan kedua dalam insiden dengan Branislav Ivanovic– adalah kebiasaan yang harus dihentikan.

Dan FIFA pun menghentikan Suarez. Mereka menghukum dia dengan sangat WOW: skorsing 9 pertandingan internasional resmi, 4 bulan tidak boleh beraktivitas di sepakbola, plus denda Rp 1,3 miliar. Hanya sanksi nomor tiga yang tidak ada artinya, karena itu bisa dibayar dengan gaji dia satu minggu di Liverpool. Tapi pencekalannya sungguh mengejutkan. Mengutip penyerang Brasil, Fred, “Dia bersalah dan patut dihukum, tapi tidakkah itu terlalu berat?”

Ini pasti akan menjadi kontroversi di media-media, baik dari sisi hukuman maupun figur Suarez itu sendiri, yang bagaimanapun telah membuat antiklimaks untuk dirinya sendiri, setelah penampilannya yang sangat memukau bersama Liverpool.

Akan menarik juga untuk ditunggu segala pembahasan dan spekulasi tentang masa depan dan kariernya: tentang Liverpool yang ikut merugi di awal musim, tentang konsekuensi yang dihadapi calon-calon klub baru Suarez (jika dia pindah), dan lain-lain.

Yang paling hakikat adalah bagaimana si pemain akan menghadapi ini semua.

Artikel: kontakperkasa futures.