PT KONTAK PERKASAUpaya Bank Indonesia dalam meningkatkan porsi pembiayaan bagi Usaha Mikro Kecil dan Menengah (UMKM) di perbankan membuahkan hasil. Berdasarkan catatan BI, kredit UMKM di Sulsel tumbuh 8,46 persen (yoy) pada 2016. “Tercatat penyaluran kredit UMKM sebesar Rp33,23 triliun dengan porsi terhadap kredit perbankan mencapai 31,99 persen,” kata Kepala Kantor Perwakilan BI Sulsel, Wiwiek Sisto Widayat, di Makassar, Sabtu (4/2/2017).

Menurut Wiwiek, pihaknya berharap jumlah kredit yang disalurkan ke UMKM bisa lebih besar lagi terserap. Musababnya, UMKM merupakan salah satu faktor penting pendorong pertumbuhan ekonomi di Sulsel. Geliat pertumbuhan UMKM diyakini akan bertumbuh seiring dengan pertumbuhan ekonomi daerah. “UMKM ini memegang peranan penting dan harus terus didorong. BI sendiri selalu siap untuk memberikan support langsung,” ujar dia.

Merujuk data BI, porsi total kredit perbankan untuk UMKM relatif stabil dari 2015 ke 2016. Menurut Wiwiek, stabilnya porsi kredit UMKM disebabkan pertumbuhan kredit UMKM yang seimbang dengan pertumbuhan kredit. Meski begitu, diakuinya kredit investasi untuk UMKM mengalami kontraksi sebesar -3,17 persen (yoy), lebih dalam dibandingkan kontraksi total kredir investasi sebesar -1,55 persen (yoy).

Bila dilihat dari sebaran kategori, pertumbuhan kredit UMKM tertinggi dicatat oleh kredit mikro sebesar 17,55 (yoy) dengan porsi mencapai 33,88 persen. Diikuti kredit menengah yang tumbuh 8,94 persen (yoy) dengan porsi berkisar 33,88 persen. Terakhir yakni kredit kecil mengalami kenaikan meski tidak begitu besar yakni 2,29 persen dengan porsi mencapai 38,20 persen

Secara sektoral, menurut Wiwiek, pertumbuhan tertinggi penyaluran kredit UMKM tercatat pada lapangan usaha jasa kesehatan dan kegiatan sosial mencapai 41,97 persen (yoy), diikuti konstruksi 34,85 persen (yoy) serta pertanian, perburuan dan kehutanan 7,14 persen (yoy). Selanjutnya, lapangan usaha kehutanan menyerap kredit sebesar 7,14 persen (yoy) dan industri pengolahan sebesar 5,99 persen (yoy).

“Kredit UMKM di Sulsel masih terpusat di Kota Makassar dengan alokasi mencapai 53,3 persen. Diikuti Parepare (7,71 persen) dan Palopo (4 persen). Untuk penyaluran di daerah memang masih terpusat di Makassar dan kita harap ke depannya bisa lebih menyebar,” tutur Wiwiek.

Sebelumnya, Menteri Koperasi dan Usaha Kecil Menegah RI AAGN Puspayoga mendorong pengembangan koperasi dan UMKM di daerah untuk memaju pertumbuhan ekonomi. Hal itu disampaikannya saat meresmikan Gedung Koperasi dan UMKM Centre Sulsel di Jalan AP Pettarani, Kota Makassar, akhir Januari lalu. “Koperasi dan UMKM harus didorong dan menjadi pilar pembangunan,” tegasnya.

Puspayoga menjelaskan salah satu upaya pemerintah mendorong koperasi dan UMKM yakni dengan diturunkannya suku bunga kredit usaha rakyat dari 22 persen menjadi 9 persen. Lalu, alokasi anggaran pun meningkat dari Rp100 triliun menjadi Rp 110 triliun pada 2017. (hnm) – PT KONTAK PERKASA