PT KONTAK PERKASA FUTURES – Dari salah satu pemain terbaik yang pernah dipunya Manchester City, Joe Hart tiba-tiba saja tak terpakai di skuatnya. Semua karena Josep Guardiola.

Dua gelar Premier League, dua titel Piala Liga dan sekali menjuarai Piala FA adalah kontribusi besar Hart untuk City. Dengan capaian tersebut, Hart adalah salah satu pemain paling berjasa dan paling berprestasi yang pernah dipunya The Citizens.

Jangan lupa juga kalau Hart tampil luar biasa saat City menghadapi Barcelona dan Borussia Dortmund di Liga Champions. Penampilannya di bawah mistar gawang ketika itu menghindarkan The Citizens jadi bulan-bulanan dua klub tersebut. Media-media Inggris menyanjung tinggi ketika itu, menyebutnya sebagai ‘bukan manusia’.

Tapi kenyataan brutal harus dihadapi kiper 29 tahun itu setelah pergantian manajer terjadi. Josep Guardiola butuh kiper yang tak cuma hebat dalam refleks menghalau bola, dia sangat perlu seorang penjaga gawang yang memiliki kemampuan mendistribusikan bola. Pep butuh itu untuk menjalankan strateginya membangun serangan sejak dari belakang. Maka sejak pekan pertama Premier League Hart jadi penonton, menyaksikan posisinya ditempati Willy Caballero.

Dalam pernyataannya jelang laga dengan Steaua Bucharest, Pep kembali menegaskan kalau dia memang sangat membutuhkan kiper yang bisa mendistribusikan bola dengan baik, sesuatu yang sudah dia yakini merupakan kemampuan vital seorang penjaga gawang. Dan saat ini Caballero dinilainya lebih oke ketimbang Hart. Tidak ada masalah personal di balik keputusan itu.

“Saya sudah tumbuh sejak usia 13 tahun dengan (pemain) seperti itu. Setiap kali kami membangun (permainan) dengan baik, kami menghasilkan sebuah peluang, atau dua buah peluang, transisinya cepat dan kami mengalirkan bola dengan cepat. Itulah mengapa saya menekankan pada pemain betapa pentingnya hal tersebut. Tapi ini adalah sebuah proses, jadi kami butuh waktu untuk membuat kiper kami jadi lebih baik,” ucap Pep di Guardian

Musim lalu akurasi passing Hart di Premier League adalah 52,6%. Sementara di dua musim sebelumnya berturut-turut sebesar 47,6% dan 54,5%. Sementara Claudio Bravo, yang kini santer dikabarkan akan dibeli City dari Barcelona, dalam dua musim berturut-turut memiliki akurasi umpan 84,3% dan 80%. Sementara pada musim terakhirnya di Real Sociedad, akurasi umpannya hanya 56,4%.

“Ini bukan masalah romantisme. Itu karena saat Anda membangun permainan dengan bagus maka pemain depan akan menerima bola dalam kondisi yang lebih baik, itulah alasannya. Menguasai bola bukan sekadar menguasai bola demi menguasai bola. Itu (dilakukan) untuk satu alasan – untuk menciptakan lebih banyak peluang dan kemasukan lebih sedikit,” lanjut Pep.

Malang buat Hart, saat kemampuan mengumpannya dinilai tak memenuhi standar Guardiola dia juga punya penampilan yang mengecewakan di Piala Eropa 2016 lalu. Dia dinilai melakukan dua kesalahan ketika gagal menghalau tendangan Gareth Bale dan Kolbeinn Sigthorsson, saat berhadapan dengan Wales dan Islandia.

Beberapa pekan lalu kiper legendari Inggris, Peter Shilton, malah menyebut Hart sebenarnya tidak sebagus yang banyak dipikirkan orang. Yang dia soroti adalah Hart masih sering melakukan kesalahan.

“Saya selalu bilang kalau saya tidak berpikir Joe sebagus yang orang-orang pikirkan. Dia kiper yang bagus, tapi dia rentan membuat kesalahan-kesalahan, dan itu terjadi bukan hanya saat memperkuat Inggris. Sekarang dia menghadapi kompetisi dan menurut saya dia tidak akan otomatis menjadi pilihan utama di awal musim,” analaisa Shilton.

Setelah terpinggirkan di dua pertandingan Premier League, Hart punya peluang melakukan debut dalam laga playoff Liga Champions, Rabu (25/8/2016) dinihari WIB nanti. (hnm) – KONTAK PERKASA FUTURES