PT KONTAK PERKASA  FUTURES – Pound kembali lanjutkan pelemahannya pada hari Senin ini di sesi Asia dan yen membalik keuntungan awal dengan pembuat kebijakan di Jepang masih menilai langkah berikutnya dalam pasar keuangan setelah pekan lalu Inggris Raya memutuskan untuk meninggalkan Uni Eropa.

GBP/USD ambrol 2,04% menjadi 1,3401 dan EUR/USD tergerus 0,85% ke 1,1023. USD/JPY menyentuh 102,33, naik 0,10%, sedangkan AUD/USD diperdagangkan pada 0,7425, turun 0,51%.

Indeks dolar AS naik 0,78% ke 96,38.

Di Selandia Baru, neraca perdagangan menunjukkan surplus NZ$358 juta di bulan Mei bulan ke bulan, jauh di atas surplus NZ$164 juta, dengan angka tahun ke tahun defisit NZ$3,63 miliar, hampir sama dengan bulan sebelumnya.

NZD/USD diperdagangkan pada 0,7084, turun 0,67% setelah data dirilis.

Dalam minggu ini, komentar lebih lanjut tentang Uni Eropa akan diawasi ketat, jika ada. Serta, Ketua Federal Reserve Janet Yellen akan berbicara pada sebuah konferensi bank sentral ECB di Portugal pada hari Rabu, dengan investor mencari indikasi tentang bagaimana Brexit akan mengubah prospek ekonomi AS dan kebijakan suku bunga.

AS akan merilis perkiraan revisi pertumbuhan kuartal pertama, Selasa.

Pekan lalu, pound jatuh dalam pada hari Jumat, menderita kerugian terbesar satu hari dalam sejarah; sementara dolar dan yen melonjak naik setelah hasil mengejutkan referendum Inggris Raya keluar dari Uni Eropa bergema di seluruh pasar global. Hasil referendum Inggris Raya untuk keluar dari Eropa, di mana jumlah antar pemilihnya hampir 52% vs. 48% yang selesai dihitung pada hari Jumat.

Perdana Menteri Inggris David Cameron, mendukung kampanye Tetap yang gagal, mengundurkan diri setelah hasil akhir referendum diumumkan.

Sterling jatuh di tengah kekhawatiran bahwa keputusan tersebut bisa memukul investasi dalam ekonomi Inggris, mengancam peran London sebagai pusat keuangan global dan memicu ketidakpastian politik.

Pemungutan suara dapat menyebabkan pecahnya Inggris, dengan Skotlandia sekarang sangat mungkin untuk mengadakan referendum kemerdekaan kedua.

Lembaga pemeringkat Moody`s memperingatkan, Jumat, bahwa mungkin peringkat kredit Inggris diturunkan mengikuti penurunan prospek dari “stabil” menjadi “negatif” setelah negara itu memutuskan untuk meninggalkan Uni Eropa.

Moody mengatakan bahwa hasilnya akan memberitakan “ketidakpastian berkepanjangan”.

Rival lembaga pemeringkat Standard & Poor, satu-satunya dari tiga lembaga pemeringkat utama yang masih memiliki rating AAA bagi Inggris, Jumat mengatakan referendum Brexit menang berarti rating AAA tidak lagi dapat dipertahankan.

GBP/USD berada di 1,3616 pada akhir Jumat, turun 8% untuk hari itu, setelah jatuh serendah 1,3228 sebelumnya, level terlemah sejak pertengahan 1985. Hari itu merupakan hari terburuk untuk pound sejak devaluasi mata uang pada tahun 1967.

Pound dapatkan sokongan setelah Bank of England mengumumkan untuk siap memompa £250 miliar dalam membantu kelancaran pasar, dengan menyatakan akan mengambil “semua langkah yang diperlukan” untuk memastikan stabilitas keuangan dan moneter.

Gubernur Bank of England Mark Carney mengatakan BoE akan mempertimbangkan apakah akan mengambil respons kebijakan tambahan dalam beberapa minggu mendatang.

Bank sentral dari kelompok G7 juga mengatakan dalam sebuah pernyataan bersama bahwa mereka siap untuk menyediakan likuiditas tambahan yang diperlukan pasar.

Euro anjlok 2,3% terhadap dolar pada hari Jumat, dengan EUR/USD di 1,1120 akhir Jumat.

Yen naik terhadap dolar, dengan USD/JPY mencapai posisi terendah di 99,03, terakhir terlihat pada November 2013. (hnm) – KONTAK PERKASA FUTURES