Prancis yang Tidak (Selamanya) Romantis KontakPerkasa Futures, Dengan nada yang acapkali komikal, Prancis digambarkan sebagai negara yang lemah gemulai, penuh cinta, dan romantis. Tentu, tidak selamanya Prancis seperti itu.

Simak lelucon yang satu ini, yang juga menyangkut berbagai stereotipe negara-negara di Eropa sana: “Surga adalah di mana polisinya orang Britania, mekaniknya orang Jerman, kokinya orang Italia, mereka yang kasmaran adalah orang Prancis, dan semua diatur oleh orang Swiss.”

Lelucon yang awalnya beredar lewat faxlore, lalu di era modern menyebar dari satu situs lelucon ke situs lelucon lainnya, itu masih memiliki lanjutan yang tidak kalah satirnya: “…sementara neraka adalah di mana polisinya orang Jerman, mereka yang kasmaran adalah orang Swiss, mekaniknya orang Prancis, kokinya orang Britania, dan semuanya diatur oleh orang Italia.”

Dalam dua bait lelucon tersebut, kita bisa mengambil kesimpulan bahwa makanan khas Britania tidaklah seenak makanan khas Italia, atau betapa kaku dan efisiennya orang Jerman sehingga mereka lebih cocok jadi mekanik ketimbang jadi polisi. Setidaknya, dalam lelucon itu, kendati tidak bisa memasak, orang Inggris masih cukup becus jadi polisi. Orang Italia, kendati pun tidak becus mengatur, masih bisa menjadi chef jempolan.

Alangkah sialnya Prancis, jika demikian, sebab mereka digambarkan sebagai orang-orang yang sibuk dimabuk cinta, tapi tidak becus mengerjakan pekerjaan kotor bin keras seperti menjadi mekanik. Lelucon tersebut menegaskan stereotipe Prancis sebagai negara yang lemah gemulai tadi, sekaligus romantis dan penuh cinta.

Tentu, pada kenyataannya, stereotipe tersebut dapat dengan mudah dibantah. Siapa bilang orang Prancis tidak bisa jadi mekanik? Renault, salah satu raksasa otomotif Eropa dan dunia, didirikan oleh orang-orang Prancis. Tidak hanya sekadar berdiri, Renault juga secara konsisten berani berkompetisi di arena balapan seperti Formula 1 dan reli dunia.

Romantis? Orang-orang Paris, mungkin, iya. Tapi, Prancis bukan cuma Paris. Salah satu narasi yang kerap didengungkan tiap Le Classique (laga kolosal antara Paris Saint-Germain dan Olmpique Marseille) berlangsung adalah bagaimana laga tersebut merupakan perwujudan dari Paris melawan Marseille dan orang Prancis lainnya.

Le Classique pernah disebut oleh jurnalis Prancis, Julien Laurens, sebagai pertandingan yang memecah negara menjadi dua. Paris, sebagai perwakilan kalangan borjuis dan masyarakat kota, dan Marseille, sebagai perwakilan kalangan kelas pekerja dari kota pelabuhan. Kebetulan juga, Paris dan Marseille adalah kota-kota terbesar di Prancis.

Olympique Marseille yang merakyat melawan Paris Saint-Germain yang begitu mewah.

Oleh karenanya, berkebalikan dengan Paris yang dianggap begitu romantis, Marseille dianggap mewakili sisi keras Prancis. Salah satu sosok yang lahir dan besar di Marseille adalah Eric Cantona.

Sebagai orang Prancis, Cantona masih punya sisi kharismatik. Ia berbicara dengan lambat dan suara yang berat. Ia juga memilih kata-katanya dengan hati-hati, mencari-cari padanan yang pas untuk sesuatu yang melintas di benaknya sebelum ia lontarkan lewat mulutnya. Seringkali, kalimat-kalimat yang ia susun bernada filosofis. Ini membuat Cantona terlihat seperti seorang filsuf ataupun seseorang yang terlahir untuk menjadi aristokrat.

Cantona mengagumi lukisan Nicholas de Stael dan menyukai puisi Arthur Rimbaud. Di waktu lengang, ia mendengarkan Jim Morrison dan The Doors. Kelas dan chaos bercampur menjadi satu dalam sosok Cantona.

Sebagai pesepakbola, Cantona juga tidak ada lemah lembutnya. Sebagai orang Prancis, ia lebih mirip hooligan. Dalam sebuah essai yang dituliskan Jeff Maysh pada tahun 2011, diceritakan bagaimana Cantona sengaja melakukan pelanggaran kasar dan sudah tahu bahwa ia akan diganjar kartu merah. Dengan santainya, ia berjalan keluar lapangan dengan diikuti wasit yang tergopoh-gopoh mengejarnya sembari mengacungkan kartu merah.

Cantona barangkali adalah perwujudan yang tepat dari Marseille dan sisi keras Prancis. Ucapannya jelang Piala Eropa 2016 boleh jadi membuat kuping pelatih Prancis saat ini, Didier Deschamps, memerah. Dengan santainya, ia menuding Deschamps tunduk pada rasialisme karena tidak memanggil dua pemain berdarah Afrika, Karim Benzema dan Hatem Ben Arfa. Padahal, kata Cantona, Benzema dan Ben Arfa adalah dua pemain dengan talenta memukau.

Statistik memang tidak bisa dibantah. Di musim 2015/2016, Ben Arfa tampil 34 kali, mencetak 17 gol, dan membuat 6 assist. Oleh karenanya, andai Deschamps membawa pemain berdarah Tunisia itu ke dalam skuatnya, tentu itu jadi sebuah pemanggilan yang logis.

Untuk Benzema, kasusnya agak berbeda. Pemain berdarah Aljazair itu sengaja tidak dibawa karena masih tersandung kasus hukum. Benzema diduga terlibat dalam pemerasan lewat video seks terhadap rekan satu timnya di timnas Prancis, Mathieu Valbuena. Tapi, Benzema melawan. Ia merasa belum dijadikan tersangka dan oleh karenanya, merasa tidak layak untuk diadili dengan tidak dibawa ke Piala Eropa.

Di tengah kegeraman, Benzema pun melontarkan kalimat yang bernada nyaris sama dengan tudingan Cantona: “Dia (Deschamps) sudah tunduk pada tekanan dari kubu rasialis Prancis. Dia tahu bahwa di Prancis, partai ekstremis telah mencapai babak kedua dalam dua pemilu terakhir,” ujar Benzema kepada media yang berbasis di Madrid, Marca.

Ini bukanlah pertama kalinya Prancis (atau timnas Prancis) diguncang isu rasialis. Dalam essai “Menaklukkan Mount Everest”, yang ditulis oleh Sindhunata jelang final Piala Dunia 1998, disebutkan bagaimana banyak pemain-pemain Prancis adalah anak-anak pendatang. Zinedine Zidane berasal dari Aljazair, Youri Djorkaeff memiliki darah Armenia, Lilian Thuram lahir di Guadeloupe, sementara Patrick Vieira lahir di Dakar, Senegal.

Salah satu kritik yang terlontar ketika itu adalah apakah mereka, yang nama-namanya disebutkan di atas itu, bisa “menjiwai semangat equipe tricolore“? Kritik inilah yang dilontarkan oleh kaum ekstrem kanan oleh Jean-Marie Le Pen.

Pada akhirnya, justru lewat anak-anak pendatang itulah Prancis dengan bangganya bisa mengangkat trofi Piala Dunia. Essai “Menaklukkan Mount Everest” itu sendiri dibuka dengan alinea yang bernada nubuat: “Siapa mengalahkan Brasil, dia sampai di ujung batas dunia bola, dia dibebaskan dari susah payah dan derita perjalanan mengejar serta mencari bola, untuk sampai di ‘nirwana bola’. Di sana tiada lagi bola, yang ada hanyalah piala.”

Prancis sudah pernah mencapai nirwana itu, sekalipun mengawalinya dengan berdarah-darah dan dilumuti kritik. Toh, pada cerita-cerita timnas Prancis selanjutnya, kontroversi nyaris tidak bisa dipisahkan dari mereka. Pada Piala Dunia 2010, performa buruk dibumbui dengan konflik internal yang mencapai puncaknya setelah Nicolas Anelka dikeluarkan dari tim setelah berselisih dengan pelatih Raymond Domenech.

Les Bleus tampil amburadul di Piala Dunia 2010. Alhasil, mereka gagal lolos dari fase grup, tidak sekali pun meraih kemenangan, dan secara memalukan menjadi juru kunci.

Tentu saja, Domenech ikut dikritik dan kehidupan pribadinya diobok-obok. Sebagai orang yang tergila-gila dengan astrologi, Domenech mencari jawaban kepada bintang-bintang untuk menentukan pilihan pemainnya. Ketika ia tidak memanggil Robert Pires pada Piala Dunia 2006, diketahui bahwa Pires berzodiak Scorpio –sesuatu yang dinilai Domenech bisa berdampak negatif pada timnya.

Dari isu rasial di Piala Dunia 1998, sikap konyol Domenech, hingga kini tudingan Cantona –yang mudah dipatahkan kalau melihat beberapa pemain di skuat Prancis saat ini berdarah imigran–, romantisme agaknya tidak selalu menjadi milik Prancis.

Romantisme Prancis itu sepertinya cuma ada dalam bait-bait lelucon… atau ketika Prancis nanti mengangkat trofi. (hnm)

Artikel: kontakperkasa futures.