Prestasi di Asia Terus Merosot, Ada Apa Voli Pantai IndonesiaJakarta – Voli pantai menjadi salah satu cabang olahraga yang menjadi lumbung medali di Asian Games. Tapi fakta menunjukkan penampilan mereka terus merosot belakangan.

Voli pantai selalu menjadi cabang olahraga prioritas di Asian Games. Donasi medali dalam empat perhelatan olahraga negara-negara se-Asia itu menjadi patokan. Tapi rupanya, dukungan yang diberikan tak setara dengan beban berat yang harus dipikul.

Pada Asian Games 1994 di Hiroshima, Jepang, Indonesia belum ambil bagian. Barulah empat tahun kemudian, dua tim dikirimkan. Hasilnya tak mengecewakan. Satu perak dan satu perunggu dibawa pulang dari Bangkok, Thailand. Agus Salim/Irilkhun Sofana mendapatkan perak, Iwan Sumoyo/Anjas Menasmara memetik perunggu.

Torehan sedikit menurun pada perhelatan serupa 2002 di Busan, Korea Selatan. Agus Salim/Koko Prasetyo mendapatkan perak. Di Qatar empat tahun berikutnya, voli pantai juga tak mampu mencatatkan hasil lebih baik. Agus Salim dan Supriadi mendapatkan perunggu.

Prestasi voli pantai semakin terpuruk ketika di Guangzhou, China. Andi Ardiansyah/Koko Prasetyo tidak memperoleh medali sama sekali. Emas dan perak menjadi milik China, sedangkan perunggu direbut Jepang.

“Pesaing tak banyak berubah sejak 12 tahun lalu. China, Jepang, Qatar dan Kazakhstan. Sedikit perbedaan pada Qatar karena mereka memakai pemain naturalisasi dari Brasil,” kata Slamet Muljanto, manajer tim voli pantai.

Sebaliknya, justru tim Indonesia yang tak menaikkan standar latihan untuk atlet elit. Uji coba juga tak konsisten. Kalau ada uang berangkat, kalau tidak ada dana mereka diperam di Senayan. Kalau sudah tak bisa mendanai biaya akomodasi, atlet pun dipulangkan ke daerah masing-masing. Malah, Slamet yang juga menjabat sebagai ketua bidang voli pantai PP PBVSI, mengatakan perhatian kepada voli pantai mengalami kemunduran.

“Ya, gitulah kita mau try out kejuaraan dunia saja tidak ada dana. Paling mungkin simulasi game saja antar pemain,” ucap Slamet.

Pelatih tim nasional Andi Ardiansyah mencatat, tak hanya pembinaan tim elit yang mengalami penurunan tapi pembinaan juga tak berjalan baik.

“Kalau menurut aku (prestasi voli pantai) tak berkembang. Artinya masih belum ada peningkatan. Mungkin ini karena dukungan persiapan, seperti try out atau pembinaan berkelanjutan yang kurang. Padahal kalau pengalaman bertandingnya banyak otomatis prestasi juga akan terus meningkat,” kata Andi.

Artikel: kontakperkasa futures.