Apa itu Hikikomori ? | PT KONTAK PERKASA

PT KONTAK PERKASA SURABAYA – Hampir 700 ribu orang di Jepang “menghilang” bagaikan ditelan bumi. Mereka tidak bekerja, mereka tidak bersosialisasi, dan mereka bisa “hilang” selama bertahun-tahun. Mereka disebut dengan para “hikikomori”.

Secara harfiah, dalam bahasa Jepang “hikikomori” berarti menyendiri atau membatasi diri. Di Jepang, Menteri Kesehatan, Perburuhan, dan Kesejahteraan Jepang menjelaskan bahwa hikikomori adalah istilah bagi orang-orang yang tidak ingin pergi keluar rumah dan dengan demikian, mengisolasi diri mereka dari masyarakat selama lebih dari enam bulan.

Dihimpun dari berbagai sumber, bisa disimpulkan bahwa hikikomori bukanlah sebuah penyakit kesehatan jiwa, namun hanya sebuah istilah untuk sebuah masalah sosial yang dipicu oleh gangguan mental (kecemasan dan depresi), wabah trend, kebiasaan berperilaku, lingkungan traumatik, pemasungan dan seterusnya.

Hikikomori sebenarnya masih terlalu ambigu untuk disebut penyakit, karena tidak tercantum dalam The Diagnostic and Statistical Manual of Mental Disorders dari Asosiasi Psikiater Amerika yang menjadi acuan para psikiater dalam mengidentifikasi gangguan jiwa.

Gejala hikikomori pun mirip dengan agorafobia, yang menurut Mayo Clinic, adalah sebuah tipe gangguan kecemasan yang merasa takut dan sering menghindari tempat atau situasi yang dapat membuat seseorang panik dan merasa terjebak, tak berdaya, atau memalukan.

Kesehatan mental adalah salah satu isu yang tidak banyak dibicarakan di Jepang karena dianggap hal tabu atau aib. Karena itu, banyak kasus tentang hikikomori yang tidak terlaporkan dan membuat orang-orang tersebut menjadi “hilang”.

“Kami berpikir bahwa ada aspek psikologis pada kondisi ini— yang berasal dari depresi dan kecemasan—tetapi juga ada budaya dan pengaruh sosial pada prakteknya,” terang Takahiro Kato, seorang profesor neuropsychiatrist dari Universitas Kyushu. “Orang-orang ini mempunyai level ketahanan yang lebih rendah dan bisa sering merasa sangat tertekan.”

Kato menanggapi epidemi hikikomori di negaranya dengan menyebut kesuksesan atau reputasi seseorang adalah kunci. Ketika seseorang merasa gagal, mereka merasa kacau dan ini memicu keinginan untuk menutup diri mereka atau bahkan bunuh diri. Dan angka bunuh diri di Jepang dari tahun ke tahun pun semakin melonjak.

Sudah banyak cerita dan kasus tentang anak-anak atau remaja Indonesia yang kurang bersosialisasi karena asyik bermain game atau membaca komik lalu mengunci diri di kamar. Namun sayangnya, kebanyakan remaja tersebut menganggap hikikomori adalah sebuah hal keren untuk dilakukan, dan ini salah kaprah.

Terutama jika remaja ini berasal dari kelompok yang menyukai segala hal tentang Jepang. Tetapi hal ini hanyalah salah satu penyebab dari penyebab utama yaitu gangguan mental serta trauma pribadi yang disebabkan oleh lingkungan.

Selain itu, hikikomori Jepang kebanyakan berasal dari keluarga menengah ke atas. Di Indonesia justru di idap oleh anak-anak dari keluarga sederhana dan bahkan banyak dari keluarga ekonomi ke bawah.

Makin lama orang-orang hikikomori terpisah dari masyarakat, mereka makin sadar atas kegagalan sosial yang mereka alami. Mereka kehilangan semua harga diri dan kepercayaan diri yang mereka miliki dan kemungkinan untuk keluar rumah menjadi lebih menakutkan. PT KONTAK PERKASA

Sumber : health.detik