Beda Dampak Krisis 2008 dengan Efek Corona | PT KONTAK PERKASA

PT KONTAK PERKASA SURABAYA – Pemerintah dihadapkan pada tantangan yang lebih berat imbas pandemi COVID-19. Bahkan dampaknya lebih parah dibandingkan krisis keuangan global pada 2008.

Menurut Ekonom senior sekaligus mantan Menteri Keuangan Muhammad Chatib Basri, pemerintah tidak bisa menggunakan kebijakan yang sama untuk mengatasi masalah baru ini.

“Situasi COVID-19 saat ini saya lihat sangat berbeda. Karena dalam krisis keuangan global 2008 itu dipicu oleh subprime mortgage di AS. Dan itu memukul ekonomi Indonesia hanya pada sisi permintaan karena perdagangan global runtuh pada saat itu,” kata dia dalam diskusi online melalui saluran YouTube, Senin (13/4/2020).

Pada saat krisis 2008, pemerintah hanya perlu mengobatinya dengan menjaga daya beli masyarakat untuk menjaga ekonomi domestik.

“Jadi apa yang kami lakukan pada saat itu jika Anda ingat, kami memperkenalkan strategis dalam menjaga daya beli, pada dasarnya untuk memfokuskan permintaan domestik,” sebutnya.

Sayangnya virus Corona tak mampu hanya ditangani dengan menjaga daya beli masyarakat. Sebab dari sisi demand (ketersediaan) barang di Indonesia juga terganggu. Itu dikarenakan komponen bahan baku industri yang dipasok dari China tersendat lantaran di negara tersebut turut dihajar COVID-19.

“Jadi jika kita menanggapi situasi ini dengan menggunakan semua kebijakan tradisional seperti apa yang kita lakukan 2008, dengan meningkatkan permintaan, ketika produksi melambat maka akan menyebabkan inflasi,” tambahnya.

Bagaimana dampaknya ke pertumbuhan ekonomi Indonesia? Klik halaman selanjutnya.

Ekonom senior sekaligus mantan Menteri Keuangan Muhammad Chatib Basri memperkirakan ekonomi Indonesia masih bisa tumbuh di tengah hantaman pandemi COVID-19. Namun diperkirakan pertumbuhannya paling mentok cuma 2,2% imbas merebaknya virus Corona.

Hal itu berdasarkan simulasi jika dampak yang diakibatkan pandemi COVID-19 bersifat sedang. Sementara dampak ringan dirasa sudah tidak memungkinkan. Berdasarkan skenario tersebut maka pertumbuhan ekonomi Indonesia akan terkoreksi 2,8% dari angka dasar (baseline) 5%

“Dalam skenario ini, ekonomi Indonesia akan terpukul minus 2,8% dari baseline. Jadi jika (asumsi) pertumbuhan ekonomi Indonesia 2020 adalah 5%, kita hanya bisa tumbuh sebesar 2,2% dalam skenario sedang,” kata dia dalam diskusi online melalui saluran YouTube, Senin (13/4/2020).

Namun jika ternyata dampak yang dialami Indonesia adalah yang paling besar maka pertumbuhan ekonomi akan terkoreksi 4,7% dari baseline 5%.

“Dampak besarnya, ekonomi Indonesia akan menurun sebesar 4,7% sehingga dari 5% menjadi hanya 0,3%,” ujarnya.

Kondisi tersebut disebabkan terganggunya rantai pasokan global (global supply chain) imbas virus Corona, terutama yang diproduksi oleh China. Dampaknya terasa signifikan bagi Indonesia karena cukup bergantung oleh pasokan barang dari Negeri Tirai Bambu.

“Jika Anda melihat komputer, elektronik, dan produk optik, 30% dari China, Anda tahu pangsa ekspor global berasal dari China. Jadi jika China terpengaruh, rantai pasokan global juga akan terganggu,” tambahnya. PT KONTAK PERKASA

detik.com