Ilmuan Asal Togo (Afrika) Ciptakan Printer 3D dari Sampah Elektronik | PT KONTAK PERKASA FUTURES

PT KONTAK PERKASA FUTURES SURABAYA – Sampah elektronik telah menjadi masalah serius di Afrika selama bertahun-tahun. Tumpukan barang digital seperti ponsel, komputer, televisi, baterai, hingga lemari pendingin terus meningkat di seluruh penjuru Benua Hitam tersebut.

Berdasarkan riset European Union Network for the Implementation and Enforcement of Environmental Law (IMPEL), sekitar 50 juta ton komputer dibuang tiap tahunnya, dengan Afrika menjadi destinasi favorit. Hal tersebut tercermin dari datangnya 100 ribu komputer tiap bulannya di Lagos, Nigeria.

Tidak hanya itu, sekitar 42 juta ton sampah elektronik dibuang begitu saja tiap tahunnya di sekitar Agbogbloshie, Ghana, yang menjadikannya salah satu lokasi pembuangan barang-barang digital terbesar di dunia.

Dari tumpukan tersebut, tidak sampai 1/6 yang dapat didaur ulang atau digunakan kembali dalam setahun. Hal ini makin diperparah dengan pengolahannya yang masih didominasi pembakaran sehingga menimbulkan asap berbahaya bagi masyarakat sekitar.

Dengan masalah yang terus memburuk tiap tahun, mulai muncul beberapa komunitas untuk meningkatkan kesadaran terhadap sampah elektronik dan menggalang usaha daur ulang yang lebih ramah lingkungan.

Salah satunya adalah WoeLab yang berada di Lomé, Togo, dengan seorang arsitek Sénamé Koffi Agbodjinou sebagai pendirinya. Laboratorium inovatif yang didirikan pada 2012 ini berhasil menciptakan printer 3D dengan sampah elektronik jadi bahan utama pembuatan.

Agbodjinou sendiri yang pertama kali mencetuskan ide ini setelah ia membeli sebuah printer 3D untuk kebutuhan laboratorium tersebut.

“Kami ingin melihat bagaimana kami dapat membuatnya dengan sumber daya yang kami miliki sendiri,” ujarnya.

Mesin yang mereka gunakan diadaptasi dari model printer 3D milik RepRap yang pertama kali didesain oleh para ahli dari University of Bath. Printer 3D ini dapat mencetak objek berbahan plastik.

Kini, WoeLab telah membuat 20 unit produk tersebut, sejak pertama kali diproduksi pada 2013 lalu. Rencananya, mereka akan membagikan printer 3D ini ke setiap sekolah di dalam radius 1 km dari WoeLab untuk meningkatkan percepatan terhadap pembelajaran teknologi bagi anak usia sekolah.

“Kami sangat fokus dalam membuat anak-anak muda percaya pada diri mereka masing-masing agar mereka yakin terhadap kemampuan mereka dalam menjalankan sebuah proyek,” Agbodjinou mengatakan.

Beberapa laboratorium independen lain di Afrika pun telah mengikuti jejak WoeLab dalam menciptakan printer 3D menggunakan sampah elektronik, seperti Buni Hub di Tanzania dan Not Impossible di Sudan.

“Kami ingin membawa teknologi lebih jauh lagi di Afrika agar kami dapat melihat bagaimana masyarakat dapat memahami dan mengembangkannya sebagai usaha dalam membuat Afrika menjadi pusat teknologi dunia,” pungkasnya. PT KONTAK PERKASA FUTURES

Sumber : inet.detik