Rekomendasi Mingguan Emas 8 – 12 November 2021: Bisakah Naik $50? | PT KONTAK PERKASA FUTURES

PT KONTAK PERKASA FUTURES SURABAYA – Memasuki minggu perdagangan yang baru pada minggu lalu dengan posisi di bawah di $1,783, emas melanjutkan penurunnya ke $1,768 akibat menguatnya dolar AS jelang pertemuan FOMC the Fed. Namun harga emas berhasil berbalik menguat ke $1,818 karena setelah pertemuan FOMC ternyata the Fed tidak se hawkish seperti yang diperkirakan sebelumnya.

Pasar emas akhirnya bergerak setelah Federal Reserve menyatakan akan mulai melakukan tapering pada bulan ini dan setelah keluarnya data Non-Farm Payrolls mengenai employment AS yang baru.

Harga emas lompat $25 pada hari Jumat minggu lalu dengan pasar mulai mengantisipasikan Federal Reserve ke depannya akan lebih bersabar. Emas berjangka kontrak bulan Desember naik 1.40% pada hari itu ke $1,818.60.

Meskipun menyatakan akan memulai tapering pada bulan ini, kepala Federal Reserve Jerome Powell mengakui ketidakpastian mengenai inflasi sementara menekankan terlalu cepat untuk mulai menaikkan tingkat bunga.

Volatilitas intraday bagi emas muncul lagi. Pasar sedang menggali seberapa hawkish the Fed sebenarnya. Komentar Powell meninggalkan banyak ruang untuk mundur dari sikap yang hawkish. Kelihatannya bank sentral AS ini lebih ingin tetap bertahan sabar untuk menolong ekonomi AS. Hal ini adalah positip bagi emas. The Fed kemungkinan akan menunggu lebih lama lagi sebelum memulai menaikkan tingkat bunga atau bahkan bisa menghentikan tapering terhadap quantitative easing.

Dari sisi data ekonomi, emas mengalami rally meskipun ekonomi AS membaik dengan penambahan 531.000 posisi pekerjaan yang mengesankan dan tingkat pengangguran turun ke 4.6% pada bulan Oktober.

Alasannya adalah karena tingkat partisipasi di dalam pekerjaan tidak berubah. Hal ini berarti partisipasi tenaga kerja masih berada pada level yang rendah yang problematik. Dengan perkataan lain, employment masih jauh dari penuh. Inilah sebabnya mengapa pasar tidak memperhitungkan dalam harga kemungkinan pengetatan dari the Fed sudah mengintai.

Dengan pengumuman tapering dari the Fed yang dovish dan data pekerjaan yang masih jauh dari full employment, kenaikan tingkat bunga yang diantisipasikan terjadi pada bulan Juni tahun depan, kelihatannya sangat tidak mungkin.

The Fed akan tetap memelihara kebijakan moneter mudah untuk jangka waktu yang lebih lama karena employment yang penuh masih jauh dari tercapai. Pandangan the Fed adalah membiarkan ekonomi panas pada akhirnya akan memicu lebih banyak orang terabsorpsi ke dalam tenaga kerja. Mereka perlu membalikkan berhentinya bekerja secara masal yang terjadi karena pandemic.

Angka Non-Farm Payrolls hari Jumat minggu lalu yang positip namun yang tidak berdampak menurunkan harga emas adalah suatu pertanda bahwa pasar memperkirakan bank sentral AS bersikap sabar. Emas, dollar AS dan yields AS sedang bergerak pada arah yang sama, dimana hal seperti ini adalah tidak biasanya terjadi. Ini adalah respon safe-haven andaikata the Fed tidak bisa menaikkan tingkat bunga.

Bisa terjadi aksi ambil untung apabila harga emas telah di atas $1,818 per ons. $1,819 adalah resistance yang cukup kokoh. Sekali terlewati akan bisa naik lebih tinggi lagi. Sementara ke arah sebaliknya, S1,786 bertindak sebagai support.

Jika emas berhasil menembus $1,819, bisa terjadi pergerakan naik $50 pada minggu ini. Hal kunci yang perlu diperhatikan adalah dollar AS dan pasar obligasi. Jika kedua-duanya tidak bergerak, emas bisa akan terbatas pergerakannya. Namun jika ada banyak permintaan terhadap dollar AS dan treasuries AS, hal ini memberikan indikasi ada respon terhadap safe-haven yang akan bisa diikuti oleh emas.

Selain itu yang bisa mendukung harga emas adalah potensi orang memandang the Fed sebagai telah membuat kesalahan dalam kebijakan moneternya, dimana tidak bisa menangani normalisasi kebijakan moneter dalam respon terhadap perkembangan ekonomi. Dollar AS, yields AS dan emas yang bergerak dalam arah yang sama adalah refleksi bagaimana pasar percaya bahwa the Fed sedang melakukan pekerjaannya. Ketiganya dipandang sebagai safe-haven.

Sementara dari Amerika Serikat, data inflasi yang akan keluar pada hari Rabu menonjol. Apakah inflasi akan naik lebih lanjut? Semua tanda mengarah kepada naiknya harga secara persisten. Consumer Price Index (CPI) umum diperkirakan akan muncul di 5.3% pada bulan Oktober, 0.1% kurang dari 5.4% di bulan September.

CPI inti yang lebih menarik perhatian pasar dan the Fed diperkirakan muncul di 4%. Setiap deviasi sedikit saja akan bisa menggoncang dollar AS. Di atas 4% adalah positip bagi dollar AS dan sebaliknya.

The University of Michigan’s preliminary Consumer Sentiment Index untuk bulan November juga akan dipublikasikan. Meskipun kurang hubungannya dengan penjualan ritel, tetap menjadi penggerak pasar. Indikator ini gagal pulih dari penurunan tajam di bulan Agustus dan diperkirakan akan turun lebih jauh.

“Support” terdekat menunggu di $1,813 yang apabila berhasil dilewati akan lanjut ke $1,800 dan kemudian $1,786. “Resistance” terdekat menunggu di $1,819 yang apabila berhasil dilewati akan lanjut ke $1,836 dan kemudian $1,869. PT KONTAK PERKASA FUTURES

vibiznews.com