Sinting Berjamaah Bersama ‘Joker’ | PT KONTAK PERKASA FUTURES

PT KONTAK PERKASA FUTURES SURABAYA – Ada anekdot bahwa villain keren itu justru yang murni lahir dari tempaan kesedihan dan rasa kecewa berbalut frustrasi. Dan meski tanpa kekuatan sihir atau radioaktif sekalipun, villain macam itu justru bisa membakar semua hal yang perlu ia musnahkan tanpa perlu bersusah payah menyediakan bensin.

Saya ambil tokoh Baron Zemo dari semesta Marvel. Tokoh tanpa kekuatan ini begitu piawai menciptakan perang antara kubu Iron Man dan Captain America yang kita sudah nikmati dalam Captain America: Civil War.

Lalu bagaimana dengan Joker? Karakteristiknya nyaris sama dengan Zemo, namun ada unsur tambahan karena ada ledakan kegilaan dari sosok Arthur Fleck ini.

Zemo adalah mantan tentara Sokovia yang depresi karena kehilangan keluarganya akibat aksi dua frontman Avengers, Tony Stark dan Steve Rodgers. Ironisnya, aksi itu justru menyelamatkan banyak orang di Sokovia, terkecuali anak dan istri Zemo.

Berangkat dari sana, Zemo membentuk dirinya menjadi begitu mahir mengadu domba dua superhero pentolan Marvel agar dendamnya terbalaskan. Walhasil, peperangan yang kita saksikan sungguh dahsyat sekaligus mengharukan.

‘Joker’ sudah meneror bioskop Tanah Air, Rabu (2/10) kemarin. Dan sajian yang disuguhkan Todd Phillips (Trilogi Hangover sampai War Dogs) sungguh memikat dan mendebarkan.

Duetnya dengan aktor sekaliber Joaquin Phoenix nyatanya memang melenakan dan berbahaya. Film dibuka dengan sosok Arthur yang menghadap cermin sembari menghias wajahnya saat mau bekerja sebagai badut untuk toko alat musik Kenny’s yang mau bangkrut. Perusahan induknya adalah Haha’s yang menyewakan badut untuk keperluan acara.

Gotham yang suram di awal 80-an ternyata bikin hidup Arthur betul-betul menyedihkan dan terasa tak adil meski sebagai badut ia dituntut selalu tersenyum. Nggak ada yang lebih nelangsa dari hidup Arthur Fleck. Pernah dirawat di RSJ, dan berusaha sekuat tenaga agar mental illness-nya tidak kambuh adalah hari-hari berat yang harus dijalani Arthur.

Penyakit superlangkanya juga bikin dia bisa tertawa tak terkontrol ketika gugup atau tegang. Ini membuatnya lengkap bagi orang lain beralasan menjauhinya.

Belum lagi ada saja remaja iseng yang kerap kali membully Arthur ketika bekerja. Hidupnya hanyalah kesuraman. Tak lebih tidak kurang.

Di sela-sela itu, Arthur Fleck masih punya cita-cita tinggi sebagai stand up comedian sebagaimana referensi besar The Killing Joke yang dicomot untuk premis solo villain ksatria Gotham.

Suatu saat, hidupnya tambah suram ketika mengetahui fakta bahwa Thomas Wayne, ayah Bruce Wayne yang mencalonkan diri sebagai Wali Kota Gotham punya masa lalu dengan sang ibu, Penny Fleck. Hal itu bikin Arthur benar-benar membenci kaum kaya raya.

Belum lagi ada pergerakan rakyat Gotham yang semakin rusuh semakin hari karena tegangnya tensi kaum pejabat dengan jelata juga bikin warna film ini semakin gelap. Phillips tahu betul membangun atmsofer gelap yang dibutuhkan.

Cara paling efektif soal bagaimana Joker bisa menghantui Anda adalah Anda pasti akan merasa iba dan kasihan ketika Arthur tidak bisa mengendalikan tawanya. Sama sekali tak ada rasa lucu di sana. Anda bisa melihat mata Joaquin sungguh menggambarkan penyiksaan itu ketika ia tertawa.

“Sesungguhnya aku belum pernah bisa merasakan bahagia satu menit saja dalam hidupku,” lirih Arthur ketika jiwa liar lain dalam diri mulai menguasainya.

Sejak lahir dan hidup di dunia, Arthur sudah didoktrin ibunya untuk selalu menebar kebahagiaan dan senyuman yang ironisnya terjadi adalah sebaliknya. Arthur sejatinya tak pernah merasa bahagia dan selalu tersakiti.

Joaquin jelas satu-satunya bintang di panggung ini. Ia seperti kesurupan orang sakit mental yang sempurna untuk bertansformasi menjadi Joker. Gambar yang disajikan oleh Lawrence Sher juga benar-benar bikin Anda terbawa ke suasana 80-an dengan warna-warnanya yang membawa nostalgia.

Script dari Todd Phillips dan Scott Silver sebenarnya sederhana. Tapi mungkin film ini bisa mencapai klimaks lebih lagi ketika Mr J benar-benar bisa menggerakkan kerusuhan total di Gotham pada ujung film. Di sini yang kurang gereget dalam eksekusi Phillips. Tapi overall, ini pertunjukan megah dari seorang villain yang memuaskan.

Belum lagi nilai plus scoring pengantarnya juga bikin nuansa makin depresi. Alunan musik dari Hildur Guðnadóttir cukup mencekam meski buat saya kemegahan Hans Zimmer untuk Trilogi The Dark Knight masih juara.

Ketika ‘Joker’ berhasil meneror Gotham, Anda bisa jadi justru merasa puas lantaran ia bisa melampiaskan semua ketidakadilan dalam hidupnya ke orang-orang yang kejam padanya selama ini. Kesintingannya yang menular adalah bukti bahwa dia memang Prince of Crime.

Tanpa sihir dan kekuatan gaib, Joker adalah villain yang murni lahir dari kekecewaan besar. Perusuh total tanpa tujuan. Lalu bisa apa superhero jika bertemu dengan musuh yang memang tak punya tujuan? PT KONTAK PERKASA FUTURES

detik.com