Pengakuan Sri Mulyani Kerja di Antara Dua Presiden | PT KONTAK PERKASA

PT KONTAK PERKASA SURABAYA – Siapa yang tidak mengenal sosok Sri Mulyani Indrawati. Wanita kelahiran Tanjung Karang, Lampung ini merupakan wanita dan orang Indonesia pertama yang menjabat sebagai Direktur Pelaksana Bank Dunia.

Kepribadiannya yang lugas dan cerdas, telah mengantarkannya kepada pergaulan yang sangat luas. Ia disenangi banyak orang di dalam dan luar negeri. Bahkan, wanita berbintang Virgo ini beberapa kali mengemban jabatan penting di pemerintahan.

Jabatan yang paling membuat dirinya terkenal adalah sebagai Menteri Keuangan di era Presiden Susilo Bambang Yudhoyono (SBY) pada kabinet Indonesia bersatu dan era Presiden Joko Widodo (Jokowi) pada kabinet kerja.

Sri Mulyani pun mendapatkan banyak penghargaan dari dalam maupun luar negeri. Namun, wanita yang akrab disapa Ani ini ternyata memiliki sifat yang mudah tersentuh terhadap kejadian yang emosional.

Tidak hanya itu, di tengah sibuknya jadwal sebagai menteri keuangan, Sri Mulyani juga ternyata sangat membutuhkan quality time bersama keluarga tercintanya. Bagaimana cerita Mantan Direktur Pelaksana Bank Dunia ini mengatur waktu berkumpul dengan keluarga di tengah sibuknya menjaga keuangan negara? Tim Detikcom berkesempatan melakukan wawancara khusus dengan beliau. Berikut petikan wawancaranya:

1. Jebakan Ekonomi 5%

Rencana penetapan pertumbuhan ekonomi tahun 2020 5,3-5,6% apakah sengaja ditaruh usai pemilu yang berjalan lancar dan damai?
Sebetulnya nggak yah. Kalau persiapan untuk penyusunan APBN tahun depan, 2020, APBN itu mulai Januari selesai Desember. Nah, menyusun APBN untuk tahun depan memang tahapannya sejak bulan Februari lalu, itu di internal pemerintah dulu, BI, Bappenas, BPS, Menko Perekonomian untuk membahas biasanya asumsi-asumsi makro. Menteri ESDM mengenai harga minyaknya, dengan Bappenas dan BPS, kemudian BI. Berikutnya mengenai pertumbuhan ekonomi, inflasi, suku bunga. Jadi, itu sudah merupakan siklus penyusunan APBN diatur dalam peraturan pemerintah.

Nah, kebetulan untuk presentasi rencana rancangan awal dan termasuk pagu awal itu memang seharusnya pada bulan April ini. Karena jadwal pemilu luar biasa padat, sehingga kita menunggu sesudah pemilu kemudian presiden kan sempat cuti juga untuk kampanye, jadi tinggal wapres. Sehingga kita menunggu seluruh pemilihan selesai, sehingga ada waktu untuk melakukan sidang kabinet paripurna (SKP).

Ada yang bilang angka 5,3-5,6% ini angka yang moderat, tapi ada yang bilang ini terlalu optimis karena situasi gejolak dunia masih ada, IMF malah menurunkan proyeksi pertumbuhan dunia. Langkah-langkah untuk bisa mencapai angka itu apa?
Kalau pandangan orang berbeda itu sangat dimaklumi, namanya juga ilmu ekonomi dan kita bicara proyeksi yang bukan merupakan angka science. Namun dari sisi pemerintah kita menjelaskan kenapa angka itu muncul, jadi kalau dilihat pertumbuhan ekonomi itu bisa dilihat dari sisi permintaan dan penawaran, demand dan suplai. Dari sisi agregat demand bisa mencapai 5,3-5,6% itu mensyaratkan konsumsi harus tetap stabil di atas 5% dan selama beberapa tahun walaupun suasana sulit waktu harga komoditas jatuh tahun 2015 kita masih bisa menjaga, waktu inflasi juga rendah. Jadi harga stabil menyebabkan daya beli masyarakat relatif terjaga, confidence dari masyarakat terjaga terutama dari pemilu kita harapkan masyarakat menatap ke depan, kita lihat konsumsi menjelang ramadan, puasa, pertengahan tahun. Jadi itu persyaratan dari sisi konsumsi.

Dari sisi investasi ini mungkin tantangan, karena suku bunga kemarin cenderung naik paling tidak mempengaruhi. Kemudian suasana global sendiri tidak pasti mengenai perdagangan global melemah, pertumbuhannya masih di bawah 4% sekarang 3,8% pertumbuhannya. Pertumbuhan ekonomi dunia turun lagi ke 3,3% dari yang tadinya 3,9% penurunannya sampai empat kali. Jadi kita menganggap suasana global agak murung, agak melemah jadi kita harus membuat ekstra effort supaya kita membuat iklim investasi kita menarik. Mungkin positifnya dengan selesai pemilu yang aman, sekarang orang melihat oh Pak Jokowi mendapatkan quick count yang cukup besar, ini memberikan kepastian arah kebijakan ke depan dan itu bisa dikapitalisi.

Yang agak berat lainnya adalah ekspor, karena lingkungan globalnya menekan atau melemah ini berarti tantangan untuk ekspor jadi lebih tinggi dan kita harus melakukan upaya yang lebih jauh lagi.

Kalau sisi ekspor kan unggulan kita, kita tahu sawit lagi diganggu sama eropa, di luar itu apa yang akan digenjot?
Kalau sawit di Eropa, tetapi di luar alternatif Eropa cukup banyak dan tumbuhnya cukup besar. Asia Selatan, India, Pakistan, Bangladesh itu negara yang penduduknya cukup besar dan mereka growing, berarti mereka memiliki kebutuhan itu. China tetap dengan jumlah penduduk paling besar dan ekonominya relatif tinggi. Tapi, kita lihat Afrika yang jumlah penduduknya 700 juta, di beberapa bagian Ethiopia, Kenya, Senegal mereka punya banyak sekali pertumbuhan ekonomi yang tinggi. Jadi kita bisa mendiversifikasi.

Komoditas lain yang tidak berhubungan natural resource seperti coal, barang mineral lainnya itu saya kira memiliki korelasi besar dengan kondisi ekonomi dunia. Jadi kalau ekonomi dunia tumbuh tinggi, dia harganya juga tinggi dan permintaannya tinggi, jadi yang itu tidak bisa kita harapkan banyak. Namun, Indonesia punya diversifikasi sekarang produk dari manufaktur. Dulu konsennya pada labour intensif seperti sepatu, baju, tekstil, garmen. Tapi sekarang sudah mulai masuk, kita termasuk yang di dalam suplai chain meskipun tidak sekuat Thailand atau Vietnam. Tapi seperti produk handphone kita sudah masuk, elektronik merupakan bagian yang cukup memiliki potensi besar. Kemudian produk makanan, bahkan untuk Indonesia memiliki diversifikasi, makanan olahan. Jadi Indonesia salah satu area yang merupakan PR (pekerjaan rumah) kita untuk memperkuat industri kompetitivenes kita melalui produktivitas yang menigkat dan dari kemampuan kita untuk penetrasi pasar.

Kalau untuk investasi, selama kampanye atau jauh sebelumnya sering kali kita disebut China lagi China lagi yang investasi, sebetulnya posisi investasi terbesar siapa?
Singapura. Empat terbesar itu adalah Singapura, Jepang, RRT, sama Amerika. Jadi, ya orang kalau melihat mungkin Indonesia lebih kepada sentimen. Dulu tahun 70-an Indonesia mengalami sentimen negatif Jepang, makanya memunculkan kejadian Malawi. Jadi memang selalu ada konteksnya sosial, politik dalam hal ini dan khususul hari ini karena menjelang pemilu dan teknik pemilu sekarang diseluruh dunia dihadapkan teknologi informasi yang sangat cepat dan pemenang pemilu banyak sekali juga dilandasi oleh faktor yang sifatnya emosional maka teknik kampanye kayanya lebih happy kepada masalah emosional dan inilah menjadi tantangan kita merawat demokrasi supaya tetap berkualitas, artinya emosi kan tidak bisa dihilangkan, karena kita manusia ada keinginan rasionalitas, supaya kita lebih banyak berbicara program, apa yang dijanjikan, caranya mencapai itu bagaimana, hitungannya bagaimana, harusnya kan itu.

Stabilitas politik sangat menentukan sebagai salah satu daya tarik investasi asing masuk. Di luar itu apa bu?
Kalau istilah ekonominya kita sebut necessary condition. Jadi stabilitas politik itu necessary condition. Di negara yang tidak ada stabilitas politik tidak akan ada investasi, tetapi negara yang punya stabilitas politik tidak pasti bisa menarik inveatasi kalau tidak punya policy. Jadi inilah yang selalu kita di kabinet presiden minta bekerja lha untuk membuat ekonomi bergerak, investasi masuk, kalau perlu kita membuat keputusan yang sulit tapi penting, itu dilakukan. Apa yang membuat investasi datang, infrastruktur. Makanya Indonesia di dalam infrastruktur kualitas kita masih punya gap (rentang), makanya infrastructure gap kita masih tinggi di antara negara yang sama Indonesia masih di bawah, artinya kita perlu ngejar makanya kita bangun infrastruktur, jalan raya, tol, listrik, port, airport itu penting.

Kedua yang membuat investasi datang ke suatu negara adalah potensi negara itu sendiri dan kita punya, natural resource kita punya, penduduk besar, demografi kita muda, daya beli middle class nya mulai growth. Tapi yang sering membuay investor sering frustasi adalah peraturan, makanya kenapa kita ingin menyederhanakan dengan OSS, kenapa kita ingin ranking ease of doing business (EODB) harua naik, bukan karena kita ikut perlombaan dunia, tapi karena itu yang dijadikan faktor apakah investor merasa nyaman, dan ini saya tidak berbicara investor luar negeri saja, dalam negeri mereka juga membutuhkan kepastian regulasi, simplifikasi, dan kalau itu kurang dan masih membutuhkan lagi adalah risiko dan insentif. Makanya kadang-kadang pemerintah memberikan guarante (jaminan) seperti beberapa infrastruktur supaya investor masuk itu menggunakan guarante atau insentif seperti tax holiday, tax allowance. Hal seperti itu agar investor bisa menghitung, kalau ke Indonesia nilai investasinya segini, prospeknya segini, risikonya ini, kayanya masuk nih.

2. Biaya Gencarnya Pembangunan Infrastruktur

Terkait pembangunan infrastruktur yang gencar, tapi ada yang bilang kurangnya keterlibatan swasta khususnya pengusaha daerah yang artinya mati suri, jadi tidak memberikan efek turunan?
Pertama, dulu proyek infrastruktur yang coba didorong oleh presiden Jokowi pada awal memimpin dalam kondisi banyak yang mati suri atau stagnan atau mangkrak, atau ada investor yang sudah menang tetapi tidak melakukan. Banyak alasannya, mungkin mereka kesulitan modal, atau mereka punya hitungan tidak cocok dengan realitas. Sehingga waktu itu presiden meminta itu supaya diselesaikan dan caranya BUMN yang harus mengambil risiko semunya, itu lah yang menimbulkan persepsi BUMN sangat dominan.

Namun, mendapat masukan eh jangan semua BUMN dong, makanya ada public private partnership (PPP) atau pihak swasta dilibatkan, bahkan ada aturan di bawah Rp 500 miliar BUMN tidak boleh ikut. Memang terasa juga di daerah, saya juga mendengar jika ada kontraktor yang tidak bisa ikut di dalam kontrak itu. Mungkin persoalan BUMN atau anak BUMN yang ikut dalam tender ini. Saya rasa masukan agar pemerintah tidak menggunakan alatnya sendiri dalam mengerjakan infrastruktur merupakan masukan yang baik dan memang itu diterima. Oleh karena itu presiden melakukan instruksi mengkoreksi dan Menteri BUMN membuat policy agar BUMN tidak mendominasi diseluruh sektor.

Saya mau beralih ke isu yang sempat ramai selama kampanye dan ini dikaitkan dengan keuangan negara. Pak Jokowi janjikan 3 kartu sakti, duitnya dari mana?

Sebetulnya gini, pertama di dalam kontestasi setiap pasangan calon dia menjanjikan atau menyampaikan ke masyarakat apa programnya dan semuanya tentu pasti punya. Kami di Kementerian Keuangan sebetulnya melihat itu oke berarti masing-masing memiliki konsekuensinya, ada yang bicara soal pajak, tax ratio, penurunan tarif, lalu ada yang bicara beberpa hal akan digratiskan, lalu gaji akan dinaikan. Nah, tradisi demokrasi di negara maju memang kalau terjadi pemilu seperti ini ada lembaga yang relatif independen melakukan fact check untuk menghitung, kalau in dijalankan aka profile keuagan negara seperti ini, saya tahu di Australia melakukan itu bahkan Menteri Keuangannya juga melakukan itu supaya dia menjadi penengah secara faktual memberikan data.

Nah, kami dalam hal ini program yang disampaikan Pak Jokowi itu sebetulnya memperkuat program yang sudah ada dan kebetulah hasilnya cukup baik, yaitu angka kemiskinan menurun untuk pertama kalinya angka kemiskinan kita di bawah 10 persen, one single digit, sekarang sudah 9,6 persen. Kalau kita ingin terus menurunkan terus maka program untuk menurunkan kemiskinan itu makin diperkuat dan itulah yang menjadi landasan Bapak Jokowi menyampaikan. Dan oleh karena itu kita menghitung dari basis program yang sudah ada tapi diperkuat. Umpamanya Kartu Sembako Murah, itu kalau kita lihat sudah ada program bantungan pangan non tunai (BPNT) plus PKH, sekarang makin diperkuat saja pangannya. Nanti untuk pendidikannya ditangkap oleh KIP tapi sekarang sampai kuliah, sementara kuliah sudah ada bidik misi bahkan kita punya LPDP untuk pasca sarjana. Jadi ini sebetulnya re-designing sambil meunggu akselerasi sambil menggunakan komunikasi politik yang gampang masyarakat menangkapnya.

Lalu, bagaimana dengan Kartu Pra-Kerja, ada yang bilang orang mengatakan pengangguran dibayar. Jadi sebetulnya designnya banyak para lulusan yang sulit mencari kerja namun ini ada banyak penyebabnya dan itu akan ditangani. Pertama apakah skillnya itu cocok atau tidak jadi ini masalah vokasinya. Di luar itu kalau seandainya orang sudah mendapat vokasi akan masuk ke pasar tenaga kerja dia masih membutuhkan waktu, maka dilakukan Kartu Pra-Kerja sebelum dia masuk lapangan kerja.

Kalau saya sebagai Menteri Keuangan, karena kita bertemu menteri-menteri keuangan di dunia. Debat mengenai social savety net atau jaring pengaman sosial sekarang masuk pada minimum income guarante, karena di dunia antisipasi industri 4.0, industri robot dan nanti banyak orang nganggur, kerjaannya diganti robot dan orang nganggur bagaimana kerjanya, robot yang bayar pajak tapi orang nganggur atau manusia di negara tersebut dikasih minimum income guarante. Karena para teknisi bisnis berbasiskan teknologi itu mereka meng-advokat polici makanya didebatkan dibanyak pertemuan di dunia. Jadi kalau sekarang kita mulai memikirkan skill, memikirkan bagaimana membuat masyarakat siap dan kalau tidak ada bagaimana jaring pengaman sosialnya, ini Indonesia sudah terlambat tapi bagus tetap menyiapkan dalam situasi masyarakat perlu jaring pengaman sosial.

Tentang beban keuangan, utang termasuk satu isu yang kemarin kuat dikampanye, tapi ini lebih kepada aspek emosinya, tapi kalau aspek rasionalnya maka kita mengelola utang itu ada rambu-rambu UU, ada rambu-rambu kehati-hatiannya. Jadi pertama jumlah defisit Indonesia ugal-ugalan, ya nggak lah kalau di negara emerging defisit kita di bawah 2%. Apakah kita melakukan menumpuk utang asal utang saja, nggak juga, dalam hal ini kita berhati-hati. Kalau sekarang suku bunga cenderung tinggi ya harusnya utang bisa lebih dikendalikan. Namun, orang Indonesia kan diprovokasi emosinya, ngomongnya nih utang nambah, nominal memang nambah karena PDB kita nambah dan mungkin itu orang yang tetap tidak bisa terima sekarang ini. Ya saya rasa konsekuensi dari tugas kita untuk mengelola keuangan negara tetap melakukan edukasi saja, sambil terus melakukan transparansi.

Terkait utang juga akhirnya mendapat gelar, Sebagai menteri utang?

Memang boleh memberikan gelar seperti itu, itu bukan gelar, itu ngeledek tapi kalau gelar saya dapat banyak yang lain.

Di dalam negeri ibu diledek, dicela, bahkan oleh mantan kolega. Di level Asia dam Dunia karena reformasi pajak, ada yang bilang ayo dong sekarang Bea Cukai?
Pertama, kalau mengenai posisi orang bekerja di dunia ini pasti ada yang senang ada yang tidak, tapi ya sudahlah tidak usah dibawa masuk ke hati. Tapi yang paling penting sebagai menteri keuangan di dunia ini kan ada 192 negara ya kita banding-bandingin saja, kan kalau misalnya liga premier bandingin saja dengan club sepak bola liga premier. Kalau saya liga menteri keuangan ya saya lihat di antara menteri keuangan, dia melakukan apa saya melakukan apa, bagaimana kondisi ekonominya, bagaimana kondisi APBN. Jadi kita tahu bagaimana mengelola keuangan negara itu adalah ada dasarnya. Itu yang menyebabkan Indonesia atau saya mendapat apresiasi. Karena mungkin banyak di negara lain tidak keingin transparan dan kalau saya lebih baik transparan wong itu negara terbuka, bahkan kalau saya menyebutnya bukan APBN tetapi uang kita. Hashtag seperti itu dilakukan agar kita tahu bahwa ini persoalan kita semua.

Mengenai reformasi pajak dan bea cukai, sebetulnya dua-duanya kita lakukan. Dulu waktu saya menajdi menteri keungan bahka dulu pernah mengganti seluruh personil Tanjung Priok di Bea Cukai dan kita lakukan perubahan secara sistematik. Sekarang reformasinya keduanya di dalam tahap tidak boleh bekerja sendiri-sendiri, jadi kalau ada kasus saya yakin mereka sudah masuk bersama-sama.

Saya percaya bahwa pajak dan bea cukai mencoba untuk mereformasi. Tugas saya sebagai pimpinan adalah menjaga momentum reform tetap jalan, melidungi mereka jika mendapat tekana terutama yang sifatnya back fire, orang yang mencoba gagalkan atau mengintimidasi mereka di lapangan, sehingga mereka tetap setiap pada tujuan reformasi. Nggak gampang saya tahu.

3. Menteri Keuangan di Antara Dua Presiden

Ibu kan dua kali jadi menteri keuangan, era Pak SBY dan Pak Jokowi. Kira-kira enak yang mana?
Dua-duanya saya belajar cukup banyak. Sebetulnya sebagai sesorang yang bekerja dan kita selalu tahu kalau yang kita kerjakan itu sangat penting bagi negara dan bangsa. Maka Anda tidak punya kemewahan. Tapi yang paling penting Anda memiliki sikap, mental untuk siap belajar. Karena yang kita kerjakan itu bukan text book, yang saya kerjakan bukan ngajarin anak-anak di kelas kemudian dipraktekan. Tapi yang namanya keuangan negara, APBN itu dimensi politiknya sangat kental dan memang kekuasaan keuangan tertinggi ada di presiden, untuk menjalankan didelegasikan sebagai bendahara negara Menteri Keuangan tapi juga ke menteri lainnya dalam bentuk spending. Jadi ini menyangkut keseluruhan organ negara, bahkan sampai ke daerah. Jadi saya memiliki pengalaman sedikit dari menteri yang bekerja didua presiden, yang dua-duanya terpilih secara sangat meyakinkan oleh masyarakat dan sekaligus harapan masyarakat.

Waktu dengan Pak SBY harapannya tinggi tiba-tiba didera dengan harga minyak yang melonjak tinggi yang mendekati US$ 100, APBN nya goyang, sehingga kita harus menaikkan BBM dan kita harus lakukan BLT. Presiden melakukan keputusan politik yang tidak mudah, karena tidak ada seorang presiden yang ingin membebani masyarakatnya. Tapi beliau harus memilih antara menyelamatkan ekonomi keuangan negara dengan bagaimana menyampaikan kepada masyarakat.

Presiden Jokowi juga menghadapi situasi yang sama. Beliau menjadi presiden waktu itu dibilang subsidinya sampai 350 (triliun rupiah) harga minyaknya 100 (dolar per barel), begitu menjadi presiden harga minyaknya terjung payung. Sehingga penerimaan negara jatuh pada saat janji membangun infrastruktur banyak sekali. Sehingga dibutuhkan adjusment lagi. Saya kan masuk ke gelanggan menteri keuangan di tengah-tengah game, jadi pemain pengganti, waktu Pak SBY saya menggantikan Pak Yusuf Anwar, waktu di sini saya menggantikan Pak Bambang Brodjo. Jadi dalam hal ini saya menganggap bekerja bahwa saya bekerja dengan dua presiden merupakan suatu privilege dan merupakan kesempatan saya belajar bagaimana mengenai leadership, political ekonomi yang tidak mudah, mengenai tanggungjawab kenegarawanan, dan tentu dari sisi kemampuan sebagai menteri bisa mengamankan jani politik tetpai tepat menjaga kehati-hatian keuangan negara. Saya rasa itu kesan yang saya miliki diantara keduanya. Kalau kesan pribadi setiap pemimpin dilahirkan pada zamanya. Kita mensyukuri saja lha.

Banyak yang menilai Ibu Ani lebih enjoy, tantangan lebih berat, tapi Ibu punya waktu menari, nyanyi, olah raga voli?
Mungkin gaya saja, kalau enjoy sebetulnya sama. Pak SBY itu dulu suka sekali nyanyi, Pak Jokowi mungkin beliau tidak karokean atau nyanyi. Kalau dulu Pak SBY kalau kita kumpul pasti ada yang kena saya ingat banget beberapa menteri yang tidak bisa nyanyi sampai harus ambil les nyanyi, karena dia tahu pada suatu saat akan disuruh nyanyi. Jadi its fun, bedanya dulu medsos belum ada. Jadi orang tidak melihat saya lagi fun atau melihatnya saya waktu di DPR, pidato di mana saja yang tidak fun. Dengan medsos saya menyampaikan kalau di Kementerian Keuangan tidak ada jedanya, jadi kadang human interestnya juga muncul di situ kalau di Kemenkeu yang namanya tradisi Jumat olah raga sudah ada dari dulu, mungkin sekarang karena ada medsos dan KLI saya Pak Frans sangat skillfull jadi dia motret-motret terus upload, jadi bu menteri fun. Kemudian kita melihat Asian Games penutupan, performance bagus, ketika K-POP naik itu anak-anak pada jerit, loncat tinggi sekali, ini orang pada tergila-gila, dan kalau gitu kalau kita yang nyanyi dan nari K-POP anak-anak kita yang masih milenial di Kemenkeu akan exited, makanya kita punya ide yuk nari K-POP, its fun.

Termasuk pakai topi miring itu, apakah keinginan bu ani sendiri atau bagaimana?

Topi miring sendiri, saya beberapa kali di Elekyo Band kalau pakai topi ke belakang, masa saya di panggung pakai topi ke depan kan orang tidak bisa melihat muka kita, jadinya kita belakangin saja. Makanya kalau pakai topi lebih cocok karena pakai celana jeans, baju putih, dan sepatu. Mungkin satu-satunya pada saat zaman Pak SBY tidak ada adalah kita diperbolehkan pakai celana jeans dan baju putih dan baju olah raga.

Artinya dalam soal ini media sosial memainkan peran penting membuat masyarkat bisa mengetahui 24 jam 7 hari itu ngapain saja. Untungnya tidak ada foto saya lagi tidur, Bu Susi pernah, Bu Khofifah juga.

Komunikasi ibu juga sudah Jokowi banget, ke pedagang, sama perajin, termasuk sama anak-anak di tempat penitipan anak itu?

Kalau anak saya memang saya senang anak its soft spot dari hati kita, dulu saya bilang cita-cita ibu yang belum tercapai apa, jadi guru TK (Taman Kanak-kanak) saya bilang. Itu cita-cita saya belum tercapai, makin tua susah juga karena guru TK itu energinya banyak banget, enjoy play with children.

Kalau komunikasi, kan saya perhatikan Pak SBY caranya presentasi, menjelaskan ke masyarkat jadi kita juga adjust, Pak Jokowi di satu sisi materi yang sama beliau ingin pakai bahasa yang langsung direct, jadi kita juga adjust. Tantangan yang berbeda dari dulu dan sekarang adalah sosial media, sekarang ini tidak hanya di sini tapi saat saya di Bank Dunia Chief Economist nya merasa kok semua orang ingin simple, jadi kalau Bank Dunia buat studi yang rumit 500 halaman, media sosial dalam bentuk 140 karakter kata di Twitter, jadi mereka bingung. Jadi waktu saya diminta jadi menteri keuangan saya berfikir keras, kita bicara dengan teman Kementerian Keuangan bagaimana caranya menterjemahkan berbagai informasi keuangan negara ke masyarkat secara biasa. Jadi pertama medianya, dulu website, cetak, tapi itu sangat terbatas sementara orang psikologi market dipenuhi tadi maka kita bilang bikin Facebook, Instagram, Twitter dan bagaimana menpresentasikan dalam bentuk yang berbeda-beda, ada yang infografis, pakai influencer, pakai komik, ada yang saya langsung sendiri ngomong, jadi itulah yang terus kita variasikan.

Satu hal yang buat orang terkagum-kagum ternyata Ibu masih punya waktu untuk keluarga. Kemarin main di Monas sama cucu naik delman?
Iyah, orang hidup berkeluarga pasti butuh lah, masa kerja 24/7 tidak ada aspek keluarganya. Karena kan keluarga merupakan oasis buat kita. Kita tidak mungkin di gurun jalan terus tidak menemukan jeda, jadi ini jeda yang sama seperti tubuh kita yang perlu di re-charge, pikiran kita, emosi kita, badan kita, saya rasa ketemu dengan keluarga dan bermain yang sama sekali tidak ada hubungannya dengan itu penting.

Cucu saya kebetulan senang sekali naik kuda. Dulu pernah di New york sekali naik kuda US$ 60 mahal banget, saya bilang nanti kalau di Indonesia naik kuda murah dan lebih senang. Jadi saya sudah beberapa kali naik kuda waktu di Monas dan senang melihat suasana, karea biasanya saya kalau di Monas hanya lewat saja waktu mau jalan ke istana, ke kantor saya, butek yah.

Ketika menjadi masyarakat biasa bawa anak, makan lihat orang jual kerak telor, tanya bang kalau telor bebek lebih mahal dari telor ayam, lebih gurih. You become just a normal human dan itu menyenangkan. Ketemu cucu atau anak kecil itu sama seperti menemukan malaikat, melihat mereka bicara, melihat matanya, hati kita adem banget, saya tidak tahu ada nggak manusia yang tidak suka sama anak, kalau saya itu anak it just seperti kita melihat sepenggal bagian surga di dunia. Jadi menutu saya part of manusiawi saja. Jadi saya menganggap itu jeda yang bagus, saya merasa sangat happy dan tidak perlu duit banyak dan yang paling penting itu menimbulkan kesadaran di masyarakat.

Seorang Sri Mulyani pernah nangis nggak sih. Dikatain sebagai menteri pengutang dia malah nyantai saja, malahan bikin puisi, ya ekspresi kejengkelan, pernah menangis tidak?

Ya sering, Ibu saya meninggal bapak saya meninggal, saya selalu menangis ketika anak buah saya meninggal di Lion Air begitu banyak, itu sedih saya. Jadi, saya termasuk orang mungkin terlalu mudah tersentuh untuk hal itu. Tapi kalau dikatain soal pekerjaan karena saya tahu apa yang saya kerjain saya ya sudahlah, malah kasihan sama yang ngatain. Karena i think saya diberikan banyak pahala, katanya kalau orang dikatain saya mendapat pahala. Jadi saya bersyukur dengan banyak hal. Tapi aspek emosional saya sama seperti yang lain, menyangkut nasib orang, sedih kalau melihat anak buah saya yang ibunya berangkat subuh and then dia tidak pernah kembali lagi. Siapa sih yang nggak masih soal itu, i think that tragedi yang kita semua sebagai manusia pasti akan tersentuh.

Terakhir bu, banyak masyarkat mungkin berharap ibu akan tetap terus membantu Pak Jokowi di kabinet, dari sisi pribadi ibu bagaimana?
Saya kalau bekerja itu pasti dengan usaha dan keyakinan. Dalam hal ini pekerjaan sebagai pejabat negara itu suatu pekerjaan yang sangat penting dan tidak ringan, Jadi pertama kita fokus untuk pemilu ini diselesaikan saja seluruh tahapan, kemudian kepada presiden terpilih memiliki kesempatan untuk menyampaikan semua janjinya untuk bisa dilaksanakan. Jadi kita semua sebagai masyarakat membantu membuat Indonesia menjadi lebih baik. Saya kan bagian dari masyarakat, jadi kita mendoakan, mendukung, kita membantu sehingga siapapun yang terpilih itu adalah presiden republik Indonesia. PT KONTAK PERKASA