RI Masih Impor Ikan dari China | PT KONTAK PERKASA

PT KONTAK PERKASA  SURABAYA – Kapal-kapal penangkap ikan berbendera China kerap berada di kawasan Zona Ekonomi Eksklusif (ZEE) perairan Natuna Utara, Kepulauan Riau (Kepri). Tujuannya untuk menangkap hasil laut di perairan Indonesia.

Namun tampak ironis karena di sisi lain Indonesia masih impor sejumlah hasil perikanan termasuk dari China sementara negara tersebut kerap mengambil hasil laut di perairan Indonesia, salah satunya Natuna.

Menurut Pengamat Perikanan Suhana, total impor perikanan dari China ke Indonesia adalah 59 ribu ton per September 2019. Salah satunya adalah cumi yang padahal ada di perairan Indonesia. Berdasarkan data yang dia paparkan, jumlahnya adalah 2 ribu ton per September 2019.

“Impor cumi itu 2019 ini ada 2.000 ton sampai September,” kata dia saat dihubungi detikcom, Minggu (12/1/2020).

Dia tak bisa memastikan apakah hasil perikanan yang diambil China di perairan Indonesia kemudian diimpor ke Indonesia. Tapi tak tertutup kemungkinan dalam praktiknya hal itu terjadi.

“Nah mungkin cumi ini yang banyak ditangkap dari laut China Selatan. Sebagian mungkin masuk ke kita,” sebutnya.

Untuk hasil olahan perikanan pun bisa saja yang diimpor dari China ke Indonesia, bahan bakunya alias hasil tangkapan produk perikanannya berasal dari Indonesia.

“(Diimpor lagi ke Indonesia) mungkin dalam bentuk-bentuk olahan ya,” tambahnya.

Lalu kenapa Indonesia masih impor perikanan dari Negeri Tirai Bambu?

Suhana menilai Indonesia masih impor perikanan dari China yang sebenarnya bisa dihasilkan sendiri karena masalah ketegasan terhadap aturan.

“Pertama kan kebijakan impor kita harus lebih tegas lagi. Pertama kebijakan impor kita itu adalah kan ikan-ikan yang tidak diproduksi, yang bisa diproduksi oleh dalam negeri, oleh nelayan-nelayan kita itu harusnya memang tidak boleh diimpor karena itu akan bersaing dengan produk-produk dalam negeri,” kata dia saat dihubungi detikcom, Minggu (12/1/2020).

Faktor kedua, impor dilakukan karena memang ada hasil perikanan yang tidak ditemukan di perairan Indonesia. Misalnya yang paling banyak adalah makarel dan tepung ikan.

“Untuk ikan-ikan yang memang tidak diproduksi dalam negeri (diimpor). Nah itu seperti ikan pacific mackerel kan memang kita nggak punya, ikan salmon kita nggak punya,” sebutnya.

Lalu ada pula hasil perikanan yang memang diimpor untuk kebutuhan bahan baku industri. Hasil jadinya akan diekspor kembali.

“Kalau industri kan dia nanti akan diekspor kembali. Untuk bahan baku industri ya kayak cakalang, kan kita masih impor tuh karena untuk bahan baku industri di mana nantinya jadi produk kaleng dan diekspor kembali, bukan yang langsung ke pasar domestik,” jelasnya.

Namun menurutnya sulit untuk mengidentifikasi perikanan yang diimpor dari China apakah ditangkapnya di perairan Indonesia.

“Nah kita kan kita nggak tahu apakah itu ikan dari Indonesia atau bukan. Ya kan karena Indonesia tidak terlalu ketat untuk mengetahui apakah ikan itu dari laut China Selatan atau bukan. Tapi ya salah satu potensi laut China Selatan itu adalah cumi gitu,” tambahnya.

Lalu apa kata Menteri Kelautan dan Perikanan Edhy Prabowo?

Edhy tak menampik bahwa Indonesia masih impor hasil perikanan yang salah satunya dari China. Tapi apakah ikan yang diimpor diambil dari perairan Indonesia, Edhy tak menjawab.

Dia menjelaskan, Indonesia memang perlu impor karena tidak semua hasil perikanan ada di laut Indonesia.

“Kita mengimpor ikan ada, tidak hanya dari China, kita kan nggak punya salmon, salmon dari mana saja itu, makarel kan kita nggak ada,” kata Edhy saat diwawancara detikcom baru-baru ini.

Memang ada hasil perikanan yang diimpor padahal di laut Indonesia pun ada. Biasanya itu untuk memenuhi kebutuhan industri. Alasannya karena industri harus menjaga ketersediaan bahan baku.

“Beberapa ikan yang dipakai bahan industri yang kita sendiri punya tapi diproduksi sangat sedikit terpaksa harus kita impor untuk memenuhi kebutuhan industri. Kita nggak boleh juga tutup mata terhadap pertumbuhan industri yang sekarang ini ada,” tambahnya. PT KONTAK PERKASA

detik.com