Belum Mentok, Rupiah Masih Bisa Terbang Lebih Tinggi Lagi | PT KP PRESS

PT KP PRESS – Penguatan nilai tukar rupiah terhadap dolar Amerika Serikat (AS) diyakini diyakini belum usai. Mata uang Garuda diprediksi masih bisa menguat di pekan depan.

Dolar AS sendiri pada perdagangan Jumat kemarin sempat berada di level Rp 13.800-an. Direktur TRFX Garuda Berjangka Ibrahim yakin dolar AS masih akan melemah hingga mencapai Rp 13.600-an.

“Dalam penutupan pasar rupiah ditutup menguat sebesar 217 point di level Rp 13.877. Dalam perdagangan senen depan rupiah masih akan menguat kemungkinan mendekati Rp 13.600,” tuturnya Minggu (7/6/2020).

Kepala Ekonom PT Bank Permata Tbk, Josua Pardede juga memiliki pandangan yang sama. Dia perkirakan rupiah dalam jangka pendek berpotensi bergerak di kisaran Rp 13.700-14.000.

Sepanjang minggu kemarin, rupiah sudah mengalami penguatan sebesar 5,3%. Kenaikan itu merupakan yang tertinggi di Asia.

Sejak mencapai titik terendahnya di level Rp 16.575, rupiah sudah mengalami penguatan sebesar 16,3% dan secara tahun kalender rupiah membukukan koreksi kecil sekitar 0,09%.

Josua menilai penguatan lebih lanjut dari rupiah juga akibat adanya investor yang memindahkan asetnya dari pasar India. Mereka menarik dananya akibat adanya penurunan rating negara tersebut dari BAA2 menjadi BAA3 dan menurunkan outlooknya dari stabil menjadi negatif.

“Dengan struktur negara yang mirip, penurunan ini diperkirakan menjadi salah satu faktor yang mendorong perpindahan aset ke Indonesia, yang kemudian meningkatkan permintaan akan Rupiah dan mendorong penguatan rupiah,” terangnya.

Di sisi lain, dolar Amerika Serikat (AS) memang sedang cenderung melemah. Secara umum dolar AS turun 1,7% terhadap mata uang utama selama seminggu ini.

Pelemahan ini utamanya disebabkan oleh terakumulasinya ekspektasi dari para investor terkait pembukaan ekonomi kembali di berbagai negara Asia. Terbukti dari sisi pasar Asia, sebagian besar mata uang Asia di minggu ini mengalami penguatan, kecuali Yen.

Dari sisi domestik, penguatan rupiah cenderung disebabkan dimulainya transisi pembukaan PSBB oleh beberapa daerah, seperti DKI Jakarta. Kebijakan ini diharapkan akan mendorong peningkatan produktivitas perekonomian setelah menurun tajam ketika implementasi PSBB di berbagai daerah di Indonesia. PT KP PRESS

detik.com