Gelombang Kedua COVID-19 Mengintai, Dampak Ekonomi Bisa Makin Parah | PT KP PRESS

PT KP PRESS SURABAYA – Ekonom mengingatkan pemerintah mengenai bahaya gelombang kedua pandemi virus Corona (COVID-19) yang bakal merambat ke perekonomian Indonesia. Untuk itu, pemerintah perlu memperhitungkan secara matang dalam memutuskan kebijakan, termasuk relaksasi atau pelonggaran pembatasan sosial berskala besar (PSBB) demi alasan ekonomi.
Wakil Direktur Institute for Development of Economics and Finance (INDEF) Eko Listiyanto menjelaskan jika sampai terjadi gelombang kedua virus Corona maka anggaran yang sudah digelontorkan pemerintah sejauh ini sia-sia.

“Kalau misalnya mulai dari awal, katakanlah case-nya tiba-tiba misalkan tadi saya baca statement Gubernur DKI Jakarta, situasinya takut dikhawatirkan kembali ke situasi Maret. Kan berarti semua ongkos secara ekonominya, hitung-hitungannya ongkos yang sudah dikeluarkan selama ini untuk membuat PSBB itu menjadi kayak nggak berarti kan,” kata dia saat dihubungi, Minggu (17/5/2020).

Jika kasus positif Corona bertambah parah, otomatis biaya yang harus dikeluarkan pemerintah pun juga lebih besar dari yang sebelumnya.

“Kalau angkanya gede, probabilitas satu orang yang positif bisa menularkan katakanlah 3-10 orang, itu kan kalau kita kalkulasi secara statistik saja itu berarti kan case-nya malah tambah gede lagi. Itu biayanya nambah lagi. Secara ekonomi itu harus dipertimbangkan banget,” tambahnya.

Belum lagi kondisi tersebut akan meningkatkan ketidakpastian terhadap Indonesia. Itu juga akan berimplikasi negatif terhadap perekonomian.

Ekonom Center of Reform on Economics (CORE) Yusuf Rendy Manilet juga berpendapat serupa. Menurutnya gelombang kedua virus Corona bisa menyebabkan krisis kesehatan karena ketidaksiapan kapasitas rumah sakit dan dokter, serta kebutuhan obat-obatan untuk menangani pasien yang bertambah signifikan.

“Ketika krisis kesehatan ini lebih buruk, tentunya anggaran yang digunakan pemerintah harus lebih besar lagi. Nah makanya ketika krisis ini terjadi bisa saja anggaran yang diajukan akan lebih besar dibandingkan anggaran yang diajukan pemerintah sebelumnya,” terangnya.

Bahkan banyaknya pasien yang meninggal dalam kasus COVID-19, menurutnya bakal mempengaruhi pertumbuhan ekonomi nasional yang ditopang oleh pengeluaran masyarakat.

“Kalau seandainya manusianya meninggal, lalu sumber untuk melakukan kegiatan ekonomi dari mana? Inilah kerugian yang bisa terjadi kalau terjadinya gelombang kedua ini. Jadi anggaran kesehatan bisa lebih besar, kemudian kehilangan manusia yang lebih banyak yang sebenarnya kita tidak harapkan,” tambahnya. PT KP PRESS

detik.com