Imbas Corona, Harga Produk-produk dari China Bakal Naik | PT KP PRESS

PT KP PRESS SURABAYA – Virus corona yang menjangkiti masyarakat China bisa memberikan dampak negatif bagi sektor ekonomi Indonesia. Pemerintah patut waspada.

Menurut Ekonom Institute for Development of Economics and Finance (INDEF) Ahmad Heri Firdaus bencana virus tersebut bisa membuat pasokan barang dari China ke Indonesia terganggu. Hal itu karena menurunnya produktivitas di Negeri Tirai Bambu imbas wabah mematikan itu.

“Sebagian besar kategori bahan baku yang mungkin sebagian diproduksi di Wuhan karena adanya supply shock di sana, artinya ada gangguan produktivitas sehingga mungkin produksi di sana berhenti. Ini tentu pasti ada gangguan aliran barang ya dari Wuhan ke kota lain di China dan keluar negeri, salah satunya Indonesia,” kata dia, Selasa (11/2/2020).

Kondisi tersebut ujung-ujungnya bakal membuat barang, termasuk barang konsumsi yang biasanya dipasok Indonesia dari China menjadi langka.

“Yang tadinya kita impor barang konsumsi kan menjadi mengalami kelangkaan mungkin ya,” ujar Heri.

Indonesia juga cukup bergantung pasokan bahan baku dari China. Heri menyebut impor bahan baku dari China ke Indonesia mencapai 30%. Jika kondisi tersebut tidak diantisipasi, tentu saja kebutuhan bahan baku di Indonesia akan menjadi langka.

“Itu perlu antisipasi adanya kemungkinan sulitnya mendapatkan barang impor dari China atau antisipasi kelangkaan lah, antisipasi kelangkaan impor dari China,” tambahnya.

Harga barang impor dari China terancam naik?

Heri menjelaskan, kelangkaan barang impor dari China bakal melambungkan harga di Indonesia. Hal itu sesuai hukum supply-demand.

“Kalau kelangkaan kan otomatis harganya naik, jadi lebih mahal ya,” kata Heri.

Heri menjelaskan produk yang cukup banyak diimpor Indonesia dari China adalah elektronik, telekomunikasi, dan tekstil.

“Barang konsumsi kita selama ini kalau dari China impornya komponen elektronik dan elektronik. Kemudian telekomunikasi kayak handphone gitu, gadget. Terus tekstil dan turunannya atau produk-produk tekstil. Itu tiga produk yang mungkin akan mengalami shock ya,” jelasnya.

“Yang menjadi permasalahan adalah kalau pabrik itu tutup semua sehingga suplainya ke luar berhenti dan berimbas ke Indonesia. Dan yang beli barang kan bukan cuma Indonesia doang tapi mungkin Jepang, Korea pada beli dari situ sehingga adanya kelangkaan,” jelas Heri.

Dia mencontohkan kejadian banjir besar yang pernah terjadi di Bangkok, Thailand. Itu membuat harga elektronik di Indonesia mengalami kenaikan. Pola yang sama bisa terjadi karena dipicu wabah virus corona. Namun berapa kenaikan harganya, menurut Heri belum bisa diperkirakan.

“Dulu saya ingat ada banjir di Bangkok, di Thailand, nah itu mengguncang harga elektronik kita. Waktu itu harganya naik beberapa persen. Nah ini mungkin ada kemiripan. Intinya kalau ada shock, ada guncangan di pusat produksinya itu akan berdampak kepada harga di sini,” tambahnya.

Pemerintah harus waspadai ancaman inflasi.

Virus corona bisa memicu inflasi di Indonesia jika wabah tersebut berlangsung lama. Heri menjelaskan, inflasi terutama dipicu oleh barang-barang dari China yang pasokannya ke Indonesia menjadi seret.

“Memang inflasi tidak bisa dihindari karena yang namanya rantai suplainya itu sudah kebentuk sekian lama kan dari China ke Indonesia. Kalau itu berubah misalnya (barang dipasok) dari luar kota ke Jakarta atau dari negara lain ke Indonesia, kalau berubah pasti ada penyesuaian dalam ongkos biaya dan lain-lain sehingga ada inflasi di situ,” jelasnya.

Menurutnya pemerintah harus bergerak cepat dalam mengantisipasi hal itu, misalnya mencari negara lain yang bisa memasok barang ke Indonesia.

“Kita perlu segera mencari alternatif solusi sumber asal barang yang selama ini dari China, kita perlu cari sumber asal yang lain, apa dari Vietnam, apa dari Taiwan, apa dari India, apa dari Australia,” sebutnya.

Sebenarnya, menurut Heri, kondisi di atas juga bisa menjadi peluang untuk menggenjot produksi dalam negeri, ketimbang bergantung impor.

“Artinya ini peluang bagi kita karena China lagi kesulitan dalam hal memproduksi sehingga ekspor dia ke Indonesia juga berpotensi terpengaruh. Sebenarnya ini kesempatan kita untuk bisa memenuhi pasokan dalam negeri dari hasil produksi sendiri,” tambahnya. PT KP PRESS

 

detik.com