Investor Ingin Bisnis Disney+ Digenjot, Minta Pembayaran Dividen Ditunda | PT KP PRESS

PT KP PRESS SURABAYA – Bisnis Disney telah terpuruk sepanjang 2020 ini akibat pandemi COVID-19. Satu-satunya titik terang bagi perusahaan yakni layanan streaming barunya, Disney+. Kini investor Disney mendesak perusahaan untuk memompa lebih banyak uang ke Disney+ dengan mengalihkan semua uang pemegang sahamnya.

Kepala Hedge Fund Third Point, Dan Loeb menuliskan surat kepada CEO Disney Bob Chapek, surat itu berisi permintaan kepada perusahaan untuk secara permanen menangguhkan US$ 3 miliar setara Rp 44 triliun (kurs Rp 14.740) pembayaran dividen dan menginvestasikannya ke layanan streaming Disney+.

“Kami berbagi pandangan bahwa Disney sedang memulai salah satu transisi terpenting dalam sejarahnya: menggeser distribusi merek hiburan paling ikonik di dunia dari box office ke rumah yakni melalui Disney+,” kata Leob, dikutip dari CNN, Kamis (8/10/2020).

Loeb berpendapat dengan mengalokasikan kembali uang tersebut, Disney dapat menggandakan anggaran konten asli Disney+. Dia juga yakin Disney dapat membangun bisnisnya dan pendapatannya akan lebih dari bisnis TV kabel dan box office saat ini. Disney+ bisa menjadi penyelamat perusahaan di tengah sulitnya ekonomi akibat pandemi COVID-19.

Pekan lalu, Disney (DIS) mengumumkan bahwa mereka memberhentikan 28.000 orang di AS mengingat bisnis taman hiburan Disney Land dan resornya dihantam pandemi COVID-19. Perusahaan juga harus menunda sejumlah film seperti Marvel’s “Black Widow” hingga 2021.

Meski bisnis Disney lainnya melambat dan berangkat hancur, layanan streaming Disney+ meroket cepat. Maka tak heran jika investor buru-buru memperingatkan Disney untuk mengalihkan investasi pemegang saham ke Disney+.

Layanan streaming yang memulai debutnya November dan kini memiliki lebih dari 60 juta pelanggan. Padahal sebelumnya perusahaan hanya memproyeksikan Disney + akan memiliki 60 juta hingga 90 juta pelanggan global pada tahun 2024.

Disney juga memutuskan untuk menggunakan Disney + untuk merilis “Mulan,” yang ditunda beberapa kali tahun ini. Pembuatan ulang film animasi klasik 1998 berharga US$ 29,99. Disney belum mengatakan berapa banyak orang yang menonton “Mulan” setelah debut pada 4 September 2020. Saham perusahaan naik sedikit sekitar 2%.

Loeb mengatakan Disney pantas mendapatkan investor yang berpikiran berkembang dan berorientasi jangka panjang dan dia yakin bahwa menumbuhkan bisnis streaming baru adalah cara terbaik. Dia juga mengatakan bahwa Disney berpotensi menjadi lebih signifikan daripada Netflix (NFLX) di pasar streaming. PT KP PRESS