Kisah Bisnis Babi Hasilkan Kekayaan Rp 196 Triliun | PT KP PRESS

PT KP PRESS SURABAYA – Hurun kembali merilis daftar orang terkaya di negeri tirai bambu. Dalam laporan bernama China Rich List itu, orang terkaya di negara tersebut bergerak di bidang teknologi, konstruksi hingga manufaktur.

Satu hal yang menarik, ada orang terkaya yang masuk daftar tersebut berkat berternak babi. Dia adalah Qin Yinglin dan Qian Ying, suami-istri yang mendirikan Muyuan Foods merangsek masuk ke daftar 20 besar orang terkaya di China. Keduanya ada di peringkat 15.

1. Kekayaannya Rp 196 T

Keduanya mengantongi harta senilai US$ 14 miliar atau sekitar Rp 196 triliun (Rp 14.000/US$). kekayaan tersebut didapatkan setelah mereka menjual 5,8 juta ekor babi saat harga hewan ternak tersebut sedang tinggi-tingginya.

Suami istri ini mulai beternak babi sejak 1992 dan Muyuan saat ini adalah peternakan babi terbesar di China.

Bisnis makan memang sedang mengalami tren positif di China. Selain Qin dan Qian, ada juga Zhang Yong dan Pang Kang yang juga masuk ke dalam fatar orang terkaya China dari industri makanan.

Zhang Yong punya bisnis restoran hotpot Haidilao dan Pang Kang disebut sebagai ‘raja saus kedelai’.

2. Mulai dari 22 Babi

Qin Yinglin dan Qian Ying mulai beternak babi sejak 1992. Dikutip dari Forbes, Senin (14/10/2019), saat itu mereka mulai beternak 22 ekor babi.

Berdasarkan laporan dari Hurun, mereka jadi orang terkaya di China peringkat ke 15 karena sudah menjual sebanyak 5,8 juta ekor babi. Kekayaan yang diperolehnya didapatkan setelah mereka menjual 5,8 juta ekor babi saat harga hewan ternak tersebut sedang tinggi-tingginya.

Perusahaannya, Muyuan Foodstuff menjadi perusahaan peternakan babi terbesar di China. Negeri Tirai Bambu juga dikenal sebagai konsumen babi terbesar di dunia.

Keahliannya beternak tak terlepas dari latar belakang pendidikan Qin. Qin yang lahir di Neixiang, Henan adalah lulusan Universitas Henan jurusan Peternakan.

3. Babi Bisa Bikin Tajir?

Peternak babi di negeri tirai bambu memang tengah ketiban untung lantaran harga babi meningkat signifikan. Mengutip CNBC Indonesia, Senin (14/10/2019), harga untuk daging babi di China melonjak 46,7%.

Permintaan babi di China memang tergolong tinggi. Hal ini tak lepas dari budaya penduduk setempat yang menjadikan babi sebagai simbol kesejahteraan.

Misalnya saja pada hari raya 1 Oktober yang diperingati sebagai peringatan 70 tahun Republik Rakyat Tiongkok. Biasanya untuk menyaksikan salah satu parade militer terbesar menyediakan daging babi sebagai hidangan.

Dengan naiknya harga babi membuat industri yang berkaitan dengan babi menyumbangkan dananya sebesar US$ 128 miliar, 60% diantaranya dari makanan di China. Kenaikan harga babi sendiri dipicu adanya wabah flu babi yang melanda 31 provinsi di China.

Wabah ini bermula dari negara-negara produsen babi seperti Rusia. Bahkan, 200 juta ekor babi di Rusia harus dibunuh setiap tahunnya akibat penyakit ini yang membuat pasokan babi dunia kian langka di tengah permintaan yang tetap tinggi.

Wabah flu babi dari Rusa ini disinyalir jadi biang keladi menyebarnya wabah flu babi di China mengingat Presiden Xi Jinping membuka impor daging babi dari Rusia, yang dikenal paling terpengaruh oleh flu babi. PT KP PRESS

detik.com