Ramal-Meramal Piala Dunia Setelah Si Paul TiadaHampir pasti Jerman menang. Portugal kendati menyulitkan, diprediksi tidak mampu menghalangi laju Mesut Oezil dkk. Saya punya pengalaman pahit dengan ini gara-gara Si Paul, gurita yang sudah mati itu.

Gelaran piala dunia tahun 2010 memang tidak menarik untuk diungkit kembali. Tapi ada kisah yang membuat saya frustrasi. Itu gara-garanya Si Paul, gurita yang meramal Jerman kalah dan Spanyol juara.

Gurita ini sebenarnya tidak tepat disebut meramal. Dia hanya disodori bendera beberapa negara yang akan berlaga. Bendera yang diambil Si Paul bisa dipakai sebagai “acuan” yang kalah. Dan dalam kesempatan lain, bendera yang diambil Si Paul itu menunjuk siapa yang bakal menang. Saat itu Si Paul mengambil bendera Spanyol. Ini tanda, kesebelasan Jerman yang akan kalah melawan Spanyol.

Prediksi Si Paul ini memberi tekanan berat terhadap Jerman. Tren baru ramal-meramal itu buming di negeri itu. Saban penduduk mempercayai itu. Mereka pesimis Jerman akan menang melawan Spanyol. Itu karena kabar ramalan Si Paul sudah benar-benar merasuk ke dalam hati.

Saya yang dalam prediksi pertama menjagokan Spanyol tampil sebagai juara jadi ikut limbung gara-gara Si Paul itu. Ada egoisme. Kalau tetap menjagokan Spanyol, nanti dikira ikut-ikutan Si Paul. Apalagi ketika Jerman mengalahkan Argentina, bukan main hebatnya penampilan mereka.

Maka dalam prediksi saya kala itu saya tulis “batin saya memilih Spanyol. Tapi otak saya menyuruh saya untuk menjatuhkan pilihan, Jermanlah yang akan menang. Jadi, Jerman atau Spanyol-kah yang akan menang? Jerman !”

Pilihan itu bak kiamat. Jerman kalah. Prediksi saya yang alhamdulillah selalu tepat, menjadi ternoda. Masih ada dua pertandingan lagi tidak saya ikuti. Saya mengumpat dalam hati, kurang ajar Si Paul ini. Kesakitan itu masih membekas hingga saat ini.

Kemonceran Si Paul di Piala Dunia 2010 menstimulasi munculnya ide sejenis dalam piala dunia tahun 2014 ini. Sekarang hadir bayi panda, babi, anjing, penyu dan gajah yang dipakai untuk memprediksi. Caranya macam-macam, dan hasil ramalannya juga beraneka-ragam.

Ramalan dengan buah heterogenitas ini membuat tidak dipercaya lagi. Tidak ada yang menoleh. Berbagai prediksi itu diekspos dan hanya sebentar dilihat, setelah itu dilupakan. Tidak seperti Si Paul yang fenomenal, yang sekarang sudah tiada itu — mati tiga bulan setelah Piala Dunia 2010 selesai. Itu karena berbagai binatang yang dipakai untuk meramal itu tidak punya konsistensi. Hari ini memilih negara A, besoknya memilih negara B.

Prediksi saya, Jerman di laga kali ini akan melewati pencapaian-pencapaian sebelumnya. Secara matematis tim ini punya kelengkapan pemain. Dan secara metafisis, semangat untuk menang amat tinggi, dan tidak lagi terhambat oleh faktor non-teknis yang dulu membuatnya loyo.

Malah jika Tuhan menghendaki, tim ini layak tampil sebagai pemenang dalam gelaran piala dunia tahun 2014 ini. Tentu, dia harus bertarung ketat dengan Brasil, Argentina, Belanda, dan Spanyol, yang biarpun sudah sekali kalah, masih punya peluang untuk bangkit dan melaju ke dalam babak berikutnya.

Artikel: kontakperkasa futures.